
Bangunan menyerupai kamar dengan luas kira-kira empat kali Lima meter tersebut di dominasi dengan Kaca bahkan sampai atapnya yang menerawang langit jika saja tidak ditutupi tirai , tirai yang menjuntai hingga bagian dinding ,dengan paduan warna biru dongker dan putih ,manis.
Seperti sebuah pelaminan.
Bangunan kaca berventilasi udara di setiap sudut dilengkapi pula Air conditioner ,membuat hawanya begitu sejuk ala pegunungan.
Seperti resort wisata alam ala rumahan.
Taburan bunga mawar membentuk hati di atas ranjang menambah semerbak aroma lembut ruangan ini.
Begitu memasuki kamar mata Divya langsung tertuju pada sebuah lukisan.
Lukisan itu. ? Divya ingat betul itu lukisan yang ada di ruang Gallery.
Lukisan yang masih ditutup kain putih berdiri di pojok kamar.
Haris merebahkan Divya di atas ranjang,
mengecup keningnya dalam,hingga Divya memejamkan mata demi merasakan ketenangan hatinya,desir hangat mengalir di seluruh tubuh.
Beralih menyusuri garis wajah istrinya dengan kecupan di setiap inci,bibir leher tak tertinggal.
"Eum sayang" Divya membuka mata saat Haris membelai rambutnya,menyelipkannya kebelakang telinga.Berlama-lama saling memandang.
"Ya"
"Itu apa?" menunjuk lukisan
"Kau mau lihat ?"Haris tersenyum ia bangkit mendekat dan membuka kain penutupnya.
Lukisan dari foto Haris dan Divya saat menikah sebulan lalu.
Mereka sempat berfoto sekali sebagai kenangan,itupun Papa Santoso yang memaksa.
Di dalam lukisan itu,nampak
Haris yang masih bisa terlihat Tampan meski dengan ekspresi wajah dinginnya.
Berbanding terbalik dengan Divya yang wajah cemberutnya nampak jelas dengan senyum keterpaksaan,
dilukisnya sedemikian rupa hingga tampak menggemaskan.
__ADS_1
"Kamu yang lukis itu sayang?"
"Eum..ya" Tangannya sudah kembali meraih tengkuk Divya ,gadis itu terduduk di tengah ranjang.kembali membawanya merebahkan diri.
Menciumnya ,*******.
meninggalkan beberapa jejak merah di leher.
Sebagai Tanda kepemilikan.
Satu tangannya sudah tak terkendali lagi,menyingkab baju tipis yang membalut tubuh istrinya.
******** dua bukit kembar di dada Divya.
Lenguhan keluar begitu saja menambah gairah yang ada.
Mereka terhanyut bersama di bawah tatapan bintang.
Hingga persatuan mereka dimulai.
Malam yang larut menyisakan senyuman diantara mereka yang telah berhasil melawan ego masing-masing.
Di benak keduanya tak pernah mereka menyangka akan saling jatuh cinta,pada akhirnya.
begitupun sebaliknya,Haris merasa kehadiran Divya mengubah segalanya yang ada dalam hidupnya.
Mengobati luka yang teramat dalam yang pernah ia rasakan.
Memulihkan kembali hatinya yang pernah hancur.
Karena kebahagiaannya kini ia mulai membuka hati untuk kembali bersikap layaknya seorang anak terhadap ibunya.
Perseteruannya dengan sang Mama selama ini di dasari rasa kecewa dan sakit hati,perlahan mulai memudar.
Walau Haris sendiri masih tidak mengerti mengapa ibunya sampai berbuat sejauh itu.
Pagi cerah nan indah,dilihatnya jam di atas nakas menunjukkan pukul delapan tiga puluh menit.
sudah lewat jam sarapan tapi keduanya masih sama-sama terbaring di pelabuhan mimpi,
Untunglah ini akhir pekan jadi mereka tidak perlu khawatir tentang pergi bekerja.
__ADS_1
Divya masih ragu hendak turun,kakinya terasa kaku dan pegal,apalagi pangkal pahanya .
Tak terbayangkan sakitnya pasti ,saat selaput keperawanannya ditembus milik Haris .
Sampai dua kali mereka melakukannya, semalam.
Sakit yang terasa nikmat,Walau sakit namun ia bahagia karena akhirnya harus menyerahkan segalanya pada laki-laki yang ia cintai.
Cinta?
Mungkin itulah yang ia rasakan saat ini.
Divya sendiri tidak tahu,bagaimana rasanya jatuh cinta.Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya .
Bahkan pada sosok Nando sekalipun,ia tidak yakin jika dulu pernah merasakan perasaan itu.
Baru saja Divya hendak turun menuju kamarnya,langkahnya terhenti oleh suara Haris yang terbangun.
"Hei Sayang" Menggeliat diatas tempat tidur,membuka mata dilihatnya Divya dengan selimut membalut tubuhnya " Mau kemana?" Suara serak khas bangun tidur terdengar dari mulutnya.
"Tu..turun Sayang" Divya yang kaget pun tergagap menjawab .
"Heum... nanti saja ,Ayo tidur lagi !" ajak Haris,tangannya menepuk kasur dengan posisi tubuhnya yang masih tengkurap .
"Ini sudah siang sayang ,malu sama Mama Papa nanti"
"Sekali lagi,ayo" Haris menggodanya.
"Ah kamu tuh gak mau ah,sakit tahu.lagi pula malu tuh matahari ngeliatin" tunjuknya ke atas,atap kaca yang melingkar ,menampakkan cahaya matahari masuk melalui celah terbuka dari sela tirai penutup yang tersingkab.
" Hah apa ?! Sakit ! " Haris seketika terbangun,berdiri dihadapan Divya.
Kedua tangannya menempel di pipi istrinya itu. " Apanya yang sakit sayang,bilang padaku" wajah paniknya membuat Divya menahan senyum.
"Ini..." Divya menggigit bibirnya sendiri, "di bawah sini,jalan juga gak bisa rasanya sakit" wajah cemberutnya keluar.
"Astaga sayang,maafkan aku" Haris merasa bersalah.
"Sini aku gendong,kau mau ke kamar kan?"
Divya mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya ia turun dengan kembali di gendong Haris seperti saat naik ke tempat ini semalam .
bersambung....