Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kecewa


__ADS_3

Sore hari saat sinar matahari mulai redup saat yang sama terjadi pula pada raut wajah Marisa alias Icha.


Redup, muram itulah raut wajahnya ketika baru saja pulang dari rumah Raisa.Kecewa !


Hal terlucu saat kata itu keluar dari mulut bocah yang bahkan belum genap empat tahun usianya.


" Icha kecewa kenapa sayang? "


Divya menangkup kedua pipinya,menanyakan apa yang membuat wajah cantik putrinya jadi menyeramkan kala cemberut seperti itu .


"Heum! Bilang sama bunda, apa yang membuat putri bunda jadi sedih seperti ini ?"


Sekali lagi Divya mencoba membujuk putrinya agar mau bicara.Jujur saja saat si cerewet itu kini terdiam menjadi hal paling aneh bagi sang bunda.


Divya dengan sosok keibuan menatap Marisa penuh kasih sayang.


"Icha kenapa sayang? "


Haris yang menjemputnya dari rumah Raisa pun sama herannya.


Gadis itu mendongak, melihat ayahnya yang baru saja memasuki rumah setelah memarkirkan mobilnya.


"Icha gak ketemu Papa. Ayah bohong! Ayah bilang kita mau nemuin Papa Nando, tapi enggak. Papa Nando gak ada. Icha gak ketemu sama Papa ,Icha kecewa! "


cerocos Icha mengadukan segala kekecewaannya pada ayah dan bundanya. Haris mengulas senyum demi melihat tuan putrinya yang merajuk.


"Eum~"


Divya ragu menjawab,ia melirik suaminya meminta pendapat sekaligus jawaban.


"Oh jadi itu yang bikin anak ayah jadi sedih ya? " seru Haris, ia berjongkok di depan Marisa.


"Papa Nando kan kerja sayang, lain kali ya kita ketemu lagi. Ayah gak tahu kalau Papa Nando lagi keluar kota"


jawab Haris berbohong.


Sebenarnya ia tahu jika hari ini Pranando memang keluar kota, semalam saat Divya menelpon Raisa, ia mendengarkannya.


Haris merasa bersalah telah memberikan janji yang tak mampu ia penuhi pada putri kecilnya yang masih sangat polos itu.


"Nanti kalau pulang kita suruh dia datang nengokin Icha ya sayang"


sambung Divya menenangkan putrinya yang masih terisak.


"Janji"


Marisa menyodorkan kelingking kehadapan wajah bunda-nya yang ikut pula berjongkok di samping suaminya.


"Iya sayang "


Divya mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking mungil milik Marisa. Ia tersenyum haru.


"Sekarang kalau kangen kan bisa lewat video call sayang, seperti biasa kenapa jadi lebay begini sih anak-nya bunda. Biasanya juga kan jarang ketemu langsung cuman lewat telpon doang seringnya."


Dengan sabar Divya memberi pengertian.Ia menyisir rambut panjang Icha yang halus dengan jemarinya.


"Maaf bunda, maaf a~ayah"


Dengan memasang wajah sebegitu menggemaskan mana bisa orang marah pada bocah ini.

__ADS_1


" Kenapa minta maaf , sayang. Kamu gak salah apa-apa,nak" ucap Divya.


"Iya sayang" timpal Haris .


"Lagi pula memangnya adiknya kakak Melodi tadi kurang ya, untuk membuat anak ayah ini senang."


Haris mencubit gemas hidung Icha, menanyakan pendapat putrinya tentang


adik kecilnya Melodi yang baru saja mereka temui.


Seharian Divya dan Marisa di rumah Raisa. Memomong baby Rey yang lucu dan menggemaskan. Sementara Haris pergi ke kantor setelah mengantar mereka dan menjemputnya kembali sore ini.


"Heum iya tadi aku main sama dede Rey,dia lucu sekali,aku mau gendong nanti kalau sudah besar .Boleh? "


Seandainya hidup semudah bocah empat tahun.Yang mana tadi dia bersedih tiba-tiba langsung kembali ceria dan semangat.


Tidak semudah itu ketika dewasa.


Problematika kehidupan nyata tak bisa di anggap main-main. Sering kali orang berlarut-larut dalam kesedihan.Atau sebaliknya justru mereka tenggelam dalam jurang kesenangan.


"Tentu saja ! " jawab Divya tersenyum kala melihat putrinya kembali berbinar bahagia.


"Tentu saja boleh" imbuhnya.


"Pergi ke kamar mu dan istirahat sayang" titah Haris pada putri kecilnya yang manis, ia pun turut berbinar melihat Marisa kembali bersemangat.


"Baik ayah" Marisa hendak berlalu.


Di anak tangga pertama ia kembali berhenti, berbalik,lalu bertanya lagi.


"Apa adik kecil di perut bunda nanti seperti dede Rey?"


Reynand Pranando Wiryawan.


***


Malam hari saat semua berkumpul di ruang tengah,asik bercanda dan tertawa.


Marisa kecil sudah jadi magnet tersendiri dalam hal menceriakan suasana. Tingkah lucu bocah itu selalu saja mengundang tawa.


Berlarian kesana kemari membawa Kity


boneka kesayangan-nya.


Haris juga merasa kini hidupnya begitu sempurna .Jangan renggut kebahagiaan ini tuhan, biarkan kami merasakan nikmat mu yang tiada tara.


Biarkan kami mensyukuri segala pemberian mu.


Bahagia itu sederhana, cukup berkumpul bersama keluarga, tertawa bahagia.


Sekian menit kemudian,suara telpon rumah berdering kencang.


Mengusik tawa mereka, mau tidak mau ada yang harus mengangkat panggilan itu.


Sementara semua pelayan tengah sibuk mempersiapkan jamuan makan malam.


Akhirnya Divya lah yang berdiri, melangkahkan kaki meraih gagang telpon. Dengan santai-nya ia menyapa seseorang di seberang sana.


"Hallo, kediaman Tuan Santoso di sini"

__ADS_1


Divya memberi isyarat jari di bibir ketika Marisa ikut mendekat dan memeluk kaki jenjangnya.


"Ya betul, dengan siapa saya bicara"


"Apa !" teriakan Divya memecah keheningan.


Semuanya serentak berdiri.


Haris mendekat. Ia meraih gagang telpon yang hampir terlepas dari genggaman tangan isterinya.


Mama Rahma menuntun Divya kembali duduk,memberikan air putih untuk menantunya yang terlihat begitu Syok selepas menerima panggilan telpon.


Ada apa sebenarnya ?


Pertanyaan yang tidak sempat Mama dan Papa lontarkan karena baru saja Divya kembali tenang kini Haris pun juga sama syok-nya.


" Ada apa Ris? "


Santoso bertanya saat Haris sudah kembali meletakan telponnya.


"Mbok Jum Pa, "


ucap Haris datar.


"Kenapa sama mbok Jum, Ris? "


Rahma pun sama kagetnya. Ada apa dengan mantan pembantunya itu.


Bukankah Haris baru saja mengunjunginya kemarin.


Bahkan Haris bilang mbok Jum terlihat bahagia saat melihat putra asuhnya ada di hadapannya. Kembali tersadar dan sehat seperti sedia kala.


"Mbok Jum meninggal Pa, Ma !"


lirih Haris tertunduk lesu.


"Bagaimana mungkin kemarin kamu bilang dia baik-baik saja. Jangan bercanda Haris"


Suara Mama sudah mulai meninggi, ia tidak percaya begitu saja dengan berita yang tidak jelas asal usulnya.


"Memangnya siapa yang menelpon itu"


Rahma sampai menunjuk arah dimana telpon rumah bertengger manja di atas meja di sudut ruangan.


"Mbak Lastri anak sulung mbok Jum"


lirih Haris lagi, terduduk di sofa dengan lemasnya ia meraih gelas berisi air putih menenggaknya hingga tandas.


Marisa ikut tertegun, ia lupa siapa sosok mbok Jum yang para orangtua bicarakan.


Ia masih terlalu kecil saat wanita sepuh itu memutuskan untuk pensiun.


Dari hasil pengabdiannya selama ini mbok Jum mendapatkan hadiah rumah, sederhana di mata kalangan elit seperti Haris dan keluarga.Tapi luar biasa di mata mbok Jum dan anak-anaknya.


Sudah tiga tahun rumah itu di tempati keluarga anak-anak mbok Jum yang terdiri dari tiga anak dan lima cucu.


Haris menceritakan itu kemarin pada isterinya.


Keramaian suasana keluarga mbok Jum dengan lima cucu terbayang di pikirannya.

__ADS_1


Dan alasan itu pula yang membuat Haris juga Rudi memilih menginap semalam di losmen sederhana kemarin, selain karena tidak terlalu suka kebisingan mereka juga tidak ingin merepotkan .


__ADS_2