
"Nomor selanjutnya,nona Divya !"
Bayangan di klinik itu benar-benar membuatnya semakin hancur.
Kenyataan yang seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Divya nyatanya malah membuat ia takut sekarang.
Ini yang diinginkan semua orang di keluarganya, selama ini selalu berharap agar kebahagiaannya lengkap dengan hadirnya anak di tengah-tengah mereka.
Kacau sekacau kacaunya,wanita cantik yang selalu ceria itu berjalan tak tentu arah.
Sampai di pinggir sebuah danau.
Danau alami itu memang berada di tengah pedesaan yang asri.
Sedikit lebih jauh dari tempat tinggal Divya,namun langkah kakinya membawa ia ke tempat ini.
"Aku lebih baik tiada bersama anak ini daripada harus menanggung malu"
"Bagaimanapun hubungan sedarah hanya akan merusak keturunan.Bagaimana jika anak ini lahir nanti"
Langkah gontainya membawa tubuh Divya hampir terjun kedalam air danau yang agak keruh.
"Jangan !"
Suara teriakan dibarengi tarikan di tangan Divya,suara laki-laki itu menghentikan pergerakannya.
"Jangan Mba ! Apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya"
"Jangan nekat !"
Danau yang tenang ini bukan tak mungkin banyak binatang buas di dalamnya.
Divya yang tidak bisa berenang entah seperti apa nasibnya jika masuk kedalam danau itu.
Pria itu membalikkan tubuh Divya,wajahnya yang menunduk dalam.Kain penutup kepala yang sengaja masih ia kenakan.
"Vero !"
"Kau !"
Divya memaksakan kepalanya mendongak,benar saja Pranando pria yang ada di hadapannya sekarang.
Kenapa dunia ini begitu sempit hingga keduanya harus bertemu lagi di tempat ini dan di saat seperti ini.
"Kamu ngapain sendirian di sini? Terus apa tadi kamu mau bunuh diri? Iya !"
Gertak Nando memegang erat bahu Divya.
"Jawab aku Vero ! Ada masalah apa? Haris nyakitin kamu?"
"Vero jawab aku !"
Nando masih di buat bingung dengan sikap wanita di hadapannya itu,ia terdiam menunduk dan terisak tanpa suara.
Tak menjawab satupun pertanyaan Nando untuknya.
"Duduk sini !"
Memilih menarik lengan Divya memapahnya menuju bangku yang ada di tepi danau.
"Kau suka sekali danau,kan? Aku tahu itu dan karena itu juga aku datang kesini hari ini"
"Kau tahu kenapa?"
Hening tak ada jawaban,hanya matahari yang hampir terbenam yang melihat mereka berdua di tempat sepi ini.
Isak tangis Divya mendominasi keadaan disana.
"Hari ini ulang tahunmu"
Begitu akhirnya suara Divya memecah keheningan.
"Kau ingat ?"
Senyum getirnya seakan menyindir kata-katanya sendiri.Lantas mengapa jika Divya ingat apa itu membuktikan bahwa masih ada nama dia di dalam hatinya ?
"Dan aku datang ke tempat ini lagi setelah sekian tahun"
Nando menepis semua anggapan itu jauh-jauh .
"Lupakan itu !"
Lupakan jika dulu Divya pernah memberinya kejutan ulang tahun di tempat ini.
"Sekarang katakan padaku,ada apa ?"
__ADS_1
"Aku,aku~"
Divya menatap laki-laki di sampingnya ,laki-laki ini memang benar Pranando,kenapa dia yang tuhan kirim sekarang ,kemana Haris ? Kemana laki-laki itu.
"Ya kamu kenapa?"
"Mau lompat kesitu ,iya?"
Menunjuk danau dengan kesal.
"Mau nyari apa di dalam danau? Mau mencari Haris.Dia tidak ada disana kau tahu?"
"Aku tahu "
"Siapa juga yang nyari dia"
Divya memberengut kesal.
Ia memilin ujung bajunya sendiri.
"Terus"
Divya menggelengkan kepala.
"Pulang sekarang ! Suami mu pasti mencarimu,kan?"
"Mungkin "
"Kenapa mungkin? Kau ada masalah dengannya?"
"Tidak !" Kembali menghadap danau.
"Ah kenapa menjawab pendek-pendek begitu,jelaskan yang benar "
"Jangan katakan aku ada disini kalau kau bertemu dengannya"
Ancam Divya tanpa berniat menjelaskan apapun.
"Kau ini,siapa juga yang mau bertemu dengan suami mu itu.Yang ada aku bisa babak belur jika bertemu lagi dengannya"
"Kau tersenyum?"
Nando melirik Divya yang tiba-tiba tersenyum.Mungkinkah ia mengingat bagaimana sikap Haris kala cemburu,memang keterlaluan.
Divya sudah berdiri hendak melangkah.
"Biar ku antar"
"Kau tidak punya pekerjaan selain membuntuti ku?"
"Aku membuntuti mu,yang benar saja ?"
Ikut melenggang meninggalkan tepian danau yang tenang.
"Sudah tidak lagi.Jangan kau pikir aku masih menyukai mu ya"
"Aku datang kesini hanya kebetulan lewat"
Nando berdalih,ia tak ingin jika Divya salah mahaminya.
"Baguslah !"
"Aku juga tidak mengharapkan kau masih menyukai ku atau tidak"
Seperti hal nya Divya yang tidak ingin Nando salah memahaminya.
"Kalau ada masalah dan kau keberatan mengatakannya pada ku,aku tidak apa-apa.Aku mengerti.Tapi jangan ulangi kebodohan mu tadi"
"Apa ? Kebodohan apa?"
Divya menghentikan langkah kakinya,berbalik menghadap pria yang berjalan di belakangnya.
"Kau hampir terjun ke danau tadi,kan?"
"Hampir,itu kan belum"
"Ya tapi kalau aku tidak datang bukan tidak mungkin kau sudah~"
"Sudah apa!"
"Berhenti mengikuti ku,pergi sana !"
Usir Divya yang merasa Nando masih saja membuntutinya.
"Mobil ku disana"
__ADS_1
Menunjuk ke depan dimana mobilnya terparkir.
"Kau mau ku antar,tapi sampai depan komplek saja aku tidak mau bertemu monster menyeramkan itu"
"Siapa monster?"
"Suami mu,siapa lagi"
"Enak saja! "
Divya memberengut lagi,ia mengingat bagaimana dirinya memanggil Haris si Monster tampan. Ia kembali tersenyum.
Sejenak melupakan masalah yang menimpanya.
" Aku tidak pulang ke rumah,aku tinggal di rumah ayah "
"Sementara !"
"Ya sudah aku antar kesana,memastikan kalau kau tidak nekat menabrakan diri di jalan atau terjun ke jurang"
Masih pada pendiriannya untuk mengantar Divya pulang.
"Berlebihan" Divya melengos.
"Bagaimana keadaan Melodi sekarang"
Setelah dalam mobil Divya mengalihkan pembicaraan,ia menanyakan keadaan putri Nando bernama Melodi.
"Baik,dia baik-baik saja ada pengasuh yang sangat menyayanginya,aku mulai mempertimbangkan jika dia mungkin pantas menjadi ibu sambung untuk Melodi"
"Siapa?"
Tanya Divya penasaran.
"Ada,nanti juga kau tahu"
Tidak berniat menyebutkan dia itu siapa tapi Divya sepertinya sudah bisa menebak.
"Ok !"
"Belok kiri !"
"Ya disini,terimakasih"
"Sama-sama"
"Nando !"
"Ya !" Menoleh sebelum memarkirkan kembali mobilnya.
"Selamat ulang tahun"
Divya tersenyum.
"Terimakasih,Divya ! Selesaikan masalah mu,jangan pernah lari dari masalah atau kau akan menyesal"
Tidak ada jawaban lain kecuali senyumnya yang sedikit menyiratkan kelegaan.Mungkin sedikit berkurang beban pikirannya sekarang.
***
"Kak ! Aku takut"
"Tapi bukan berarti kau harus melenyapkan bayi tidak berdosa ini,kan?"
"Tapi ~"
"Apalagi ? Ikut kakak sekarang !"
"Kemana?"
"Aku akan tunjukkan kalau kau sampai nekat melakukan ini kau akan menyesal Divya"
Divya tidak ingin menyesali apapun,jika bayi ini lahir sudah tentu ia akan terlahir secara tidak normal mengingat ia dan Haris~.Haruskah Divya mengatakan apa yang dia pikirkan.
epilog.
"Tuan ! Ini saya.Kau pasti sedang mencari Divya kan? Dia di rumah lama ayah nya.Saya bertemu dengannya sore ini"
"Keadaannya mengkhawatirkan.Temui dia secepatnya,tadi dia berusaha bunuh diri."
.
"Saya tidak tahu masalah kalian apa,tapi saya takut Divya nekat"
(Pranando)
__ADS_1