
Tanpa Leo sadari sang bunda sudah berada di ambang pintu memerhatikan apa yang ia lakukan di kamar kakaknya.
Divya sebagai bunda sudah hapal bagaimana karakter kedua anaknya itu.
Leo memang jahil, selalu seperti itu setiap harinya. Mengganggu Marisa itu hobby yang tidak bisa ia lewatkan barang sehari pun.
"Ini ada apa sih anak-anak bunda lagi pada ngapain ? "
Divya yang berdiri menghalangi jalan membuat Leo terhenti. Ia mengusap tengkuknya sendiri sambil cengengesan.
" Eh ada bunda-ku yang cantik. " Leo tersenyum nakal.
Divya mengernyitkan dahi melihat tingkah putranya itu.
"Itu bun, Leo gangguin aku terus tuh ! "
rengek Marisa mengadukan adiknya pada sang bunda.
"Ini anak ya, mana coba
kupingnya? " goda Divya mengangkat tangannya ke udara.
Meraih telinga Leo.
"Ih apa sih bun, tuh ! Aku mau ngadu ke ayah,masa ngehukum tu cewek barbar setengah -setengah. Hape di sita tapi laptopnya enggak ,sama aja bohong "
cerocos Leo yang kini bersembunyi di belakang Divya.
"Gak perlu lagi ! Nih lihat ! " Divya memperlihatkan ponsel Marisa di tangannya.
"Hape aku, ya ampun thanks bunda! " seru Marisa hampir meraih ponsel miliknya,namun Divya menariknya kembali.
" Hukuman dari ayah kamu selesai. Tapi ingat~! "
Divya memperlihatkan telunjuknya tanda ia serius dengan perkataannya.
"~Hukuman dari bunda baru akan di mulai. Dan sekali lagi kamu buat kesalahan bukan ayah yang hukum kamu. Tapi bunda. Bunda langsung yang bakal kasih kamu hukuman !"
Marisa tahu selain bundanya yang baik hati dia paling jenius soal mendidik anak-anaknya. Hukuman yang bakal ia berikan justru lebih mengerikan dari sekedar kurungan sepekan tanpa ponsel.
"Iya bunda ku sayang. Icha gak bakal ulangin lagi. Janji deh !"
Marisa mengangkat dua jari simbol dari keseriusannya.
"Bohong bun, jangan percaya. "
Leo dengan keisengannya menjulurkan lidah di belakang sana.
Ish menyebalkan !
"Eh kamu juga! " dengus bunda dengan tangan menyikut perut putranya.
"Aww ! Aku salah apa bunda? " Leo meringis pura-pura kesakitan.
__ADS_1
"Tapi bunda kita hebat loh,Cha. Aku mau cari calon istri tuh seperti bunda. Cantik,baik,keren pinter lagi. Pinter ngerayu ayah.Hehe . Pantes ya ayah cinta banget sama bunda. Bunda luar biasa. " Leo mengangkat dua jempolnya ke udara.
Divya, wanita yang masih terlihat cantik meski sudah memiliki tiga orang anak hanya tersenyum tipis menanggapi pujian dari putranya itu.
"Iya dong bunda siapa dulu. " timpal Marisa, setuju.
"Nah sekarang, jemput adik kamu !"
titah Divya, sambil memberikan kunci mobil dan ponsel itu pada Marisa.
"Aaaa tidak. Jangan aku ! " teriak Marisa menolak keras perintah Divya.
"Itu hukumanmu! "
Sudah Marisa katakan tadi, hukuman dari bunda lebih mengerikan, kan.
"Aku malu bunda, jangan aku. Leo aja yang jemput ya. "
Menjemput adik sendiri kenapa mesti malu. Divya menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.
"Eh apa nih, kan kamu kak yang dihukum ,bukan aku. "
protes Leo tidak terima.
"Bunda, kan ada banyak supir kenapa harus aku yang jemput."
Sudah bunda Divya katakan itu hukuman untuk Marisa. Lebih tepatnya Divya ingin agar Marisa bisa lebih dekat dengan adik perempuannya.
Mendingan dikurung di kamar deh.
Ayolah bunda.
"Bunda tidak mau mendengar penolakan. Memangnya kenapa kalau ada yang ngira itu anak kamu ? Pokoknya kamu harus jemput Kekey. Paham !! "
"Bunda seumur kamu udah nikah sama ayah sih, jadi pantes aja kalau ada yang ngira Kekey itu anak kamu. "
Setelah itu Divya meninggalkan Marisa.
Gadis itu masih mengerucutkan bibir dengan kesalnya. Merasa tidak terima ia malah memukul pundak Leo yang sedari tadi hanya menertawakannya.
***
Lima tahun sebelumnya .
Kabar bahagia kembali menyelimuti keluarga besar Haris Santoso.
Berita kehamilan Divya mencuat di tengah agenda makan malam bersama.
Rudi yang kala itu datang bersama Shila dan kedua anaknya pun turut bahagia.
Namun raut wajah Marisa dan Leo justru berbeda. Nampak tidak suka.
Apa gerangan yang membuat kedua anak Haris itu tidak bahagia menyambut kehadiran adik kecil di perut sang bunda.
__ADS_1
"Bunda nih, malu tahu aku udah gede masa mau punya adik lagi. Yang bener aja!" protes Marisa menaruh kasar sendok di tangannya ke atas piring, hingga terdengar suara berdenting
"Iya nih bun, ada-ada aja. Apa kata temen-temen aku nanti kalau mereka tahu aku punya adik bayi. Udah SMP pula aku-nya mana pantes."
Serupa dengan Marisa, Leo pun sama tidak terima-nya.
Ia beranjak meninggalkan ruang makan dan lari keteras rumah. Marisa menyusul mengikuti aksi protes Leo.
"Loh kok jadi gini sih, " keluh Divya. Ia paham dengan apa yang di rasakan kedua anaknya. Akan tetapi bagaimana pun anak adalah rezeki.
Divya sendiri tidak pernah menyangka semua itu akan terjadi pada dirinya.
Mengingat jarak kehamilan sekarang dengan yang sebelumnya cukup jauh. Tiga belas tahun. Divya sama sekali tidak menduga. Sudah sejak Leo di lahirkan ia tidak pernah lagi mengikuti program KB, ia berpikir jika Tuhan mencukupkannya dengan dua anak saja.
13 tahun dari sejak ia mengandung Leo yang kini sudah duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama.
Sedangkan Marisa putri sulungnya juga sudah kelas tiga SMU. Mungkin mereka memang malu mengingat usianya sudah tidak pantas untuk mempunyai adik lagi.Namun bagaimana lagi mereka harua bisa menerimanya.
"Biar mba yang memberi penjelasan pada mereka, " ucap Shila menawarkan diri.
Shila beranjak menghampiri kedua keponakannya di teras samping rumah, di dekat kolam renang.
"Hei, hei kedua calon kakak ini kenapa pada ngambek ya? "
Shila dapat melihat keduanya mendengus sebal.Ia paham dan tersenyum penuh arti.
"Cha, " sapa -nya pada Marisa.
"Kamu inget gak, waktu bunda hamil Leo. Pas pertama kamu tahu. Kamu jingkrak -jingkrak kegirangan. Kamu keliling ke seluruh rumah, bahkan sampe ke rumah belakang teriak-teriak ngasih tahu semua pelayan kalau kamu mau punya adik. "
Marisa dan Leonard sontak saling melempar pandangan.
"Kamu kelihatan bahagia dengan kabar itu. Marisa yang masih kecil bisa dengan polosnya mengungkapkan perasaan senang tanpa berpikir panjang.
Bagaimana seorang ibu melahirkan bayi. Sudah mengandungnya sembilan bulan. Apalagi menahan sakitnya kontraksi. Lalu mempertaruhkan nyawa demi keselamatan anak mereka.
Kalian sudah cukup untuk mengerti semua itu sekarang. Tapi apa reaksi kalian berdua, membuat bunda kalian sedih. Jangankan untuk memikirkan bagaimana melahirkan bayi-nya nanti. Ia bahkan menangis saat serahusnya bahagia. " tutur Shila panjang lebar memberi pengertian pada keponakannya.
"Iya nih, kalian aneh. Aku justru mau kalau punya adik lagi. Tapi Mama sama Papa udah gak bisa lagi punya anak. "
timpal putri bungsu Shila.
Membuat Leo dan Marisa menoleh ke arahnya.
Sejenak mereka merenungkan apa yang Shila katakan. Keduanya berlari menuju tempat dimana Divya terduduk.
Marisa dan Leo memangkul bundanya dari kedua sisi, bergelayut manja di lengan Divya sambil meminta maaf atas sikapnya.
Divya selalu takut kedua anaknya tetap tidak bisa menerima adiknya kelak apalagi sering sekali mengatakan malu, malu.
Namun, baik Marisa maupun Leo sama-sama menyayangi adiknya setelah ia lahir. Mengajaknya bermain, dan berbicara dari sejak Kekey bayi. Bahkan sering membawanya keluar dan bertemu banyak teman-temannya.
Mereka senang, Kekey yang lucu selalu jadi pusat perhatian.
__ADS_1