
Pagi ini terasa redup.Matahari seakan malu menampakan diri, bersembunyi di balik awan hitam dan rintik hujan pun perlahan turun bulir demi bulir hingga derasnya menerpa bumi. Membasahi tanah yang mulai mengering. Setelah sekian lama langit tak menangis kini pecahlah sudah .Laju-nya samakin cepat diiringi petir yang menyambar, gelegar yang menggema.
Langit menangis seperti banyak dari mereka yang menangis. Bumi basah seperti pipi mereka yang kini basah.Airmata membanjiri keluarga besar Santoso. Bagaimana tidak pagi ini sejarah kehidupan seorang pengusaha berakhir sudah.Tuan Santoso.
Setelah semalam harus mendapatkan
penanganan serius di rumah sakit, nyawa-nya tak tertolong lagi. Pergi untuk selama-lamanya.
Pukulan berat bagi Haris dan keluarga.
Setelah banyak yang mereka lalui, detik ini sang Papa tak lagi bisa menguatkan mereka. Tak lagi bisa menyaksikan kebahagiaan mereka.
Selamat jalan tuan Santoso.
Selamat berpulang, semoga segala kebaikan dan amalan mu di terima di sisinya.
Aamiin !
Hujan masih deras-derasnya mengguyur kota Jakarta. Semua yang datang tengah gelisah menunggu kapan jenazah di semayamkan. Menunggu hujan reda. Hilir mudik menyalami dan mengucapkan bela sungkawanya kepada Haris dan sang Mama yang berkali-kali pingsan.
Semalam entah kenapa Santoso tiba-tiba mengeluh sesak.
Ia di larikan ke rumah sakit tepat pukul dua belas malam. Hanya dua jam, dua jam beliau lantas menghembuskan nafas terakhirnya.Tanpa mampu lagi walau sekedar mengucapkan kalimat dan pesan terakhir.
Kesedihan di tengah kebahagiaan. Baru saja sang Opa menggendong cucu laki-lakinya. Putra Haris yang baru berusia tiga bulan itu. Baby Leo begitu bayi itu di panggil semua orang.
Bayi mungil yang sedang dalam Fase belajar tengkurap. Belum lagi saat di ajak bicara ia akan tertawa. Tawa kecil yang selalu sukses menjadi hiburan di tengah keluarga.
Selamat jalan Opa Santoso.
Leonard Vyaris Santoso akan selalu mengenang mu. Sebagai seorang kakek hebat yang mewariskan ketampanannya pada anak dan juga cucu -nya.
Mewariskan kesuksesan serta kepemimpinannya kelak.
Bagaikan pemimpin negara Santoso begitu di agung-agungkan. Nama besarnya dan berita kematiannya kini menjadi tranding topik di beberapa pemberitaan. Koran, majalah,sosial media bahkan televisi dan mungkin juga radio. Semua mengabarkan kabar duka ini. Semua kehilangan. Semua berduka.
Selama hidup Santoso dikenal sebagai laki-laki yang bijaksana. Beliau begitu rendah hati meski di kelilingi banyak kemewahan. Di kelilingi kesuksesan.
Santoso sosok yang dermawan. Berhati baik dan selalu adil dalam memutuskan segala sesuatu.
Sifatnya memang tidak ia turunkan pada Haris.
Putra semata wayangnya itu cenderung lebih galak dan bukan tegas seperti sang ayah. Sombong bagi siapa saja yang pertama kali melihatnya.
Akan sama penilaiannya dengan Divya sang istri saat pertama kali mereka bertemu. Seringkali Haris gegabah dalam mengambil keputusan terlebih jika ia sudah panik. Berbeda dengan ayahnya yang jauh lebih teliti dan hati-hati.
Mampukah kini Haris berdiri di depan, sebagai pemimpin perusahaan sekaligus pemimpin keluarga.
Mampukah Haris menerima emban tugas ini dari sang Papa.
Rintik hujan mulai surut, mereda dan hampir menghilang ketika sebagian orang mulai saling berbisik.
"Ini masih Hujan, kasihan tuan besar
__ADS_1
kapan beliau di semayamkan jika hujan tak kunjung berhenti "
ucap jajaran mentri di samping tempat dimana Haris duduk tertunduk.
"Sepertinya sebentar lagi hujan reda. Mari bersiap-siap, kita tunggu di mobil"
timpal satu dan yang lainnya.
Musim penghujan di awal bulan ini memang merepotkan. Curah hujan yang terjadi semakin tidak dapat di prediksi.
Dan.
Ya ! Beruntungnya setengah jam kemudian hujan reda hanya menyisakan rintik kecil dengan udara yang terasa sejuk.
Perjalanan mengantar jenazah pun di mulai. Puluhan mobil mengikuti sebuah mobil Ambulance paling mewah di kelasnya.
Perjalanan menuju tempat pemakaman
terasa lancar. Tak ada halang rintang yang berarti. Sampai di tempat pemakaman semua orang turun berjalan beriringan. Dengan doa dan ucapan sebagai pengantar.
Haris berdiri di samping sang Mama saling menguatkan.
Rahma Santoso .
Wanita yang selalu setia mendampinginya. Wanita beruntung yang memiliki suami sebaik dan sesabar tuan Santoso.
Menghadapi kelakuan istri yang seenaknya. Lupa tugas. Lupa kewajiban. Lupa daratan seperti Rahma.
Rahma yang dulu tersesat. Rahma yang dulu tidak mengidahkan kebaikan .Menelantarkan Haris tanpa perhatian hingga putranya itu lebih menghormati seorang pengasuh di bandingkan ibu kandungnya sendiri.
Sementara semua orang ada di pemakaman Divya di rumah menggendong putranya. Menunggu.Ia pun ikut terisak. Keadaan bayi-nya yang baru berusia tiga bulan tidak memungkinkan baginya turut serta mengantar Papa mertuanya.
Selamat tinggal Papa.
Divya menyayangi dan menghormati mu seperti ayah kandungnya sendiri.
Dia sudah memenuhi tugasnya sebagai seorang menantu dan juga putri .
Divya Veronika Ibrahim gadis yang beliau pilih sebagai menantu dan istri bagi putra satu-satunya. Haris Santoso.
Di pemakaman semua berjalan lancar.
Prosesnya berjalan cepat.
Sebagian sudah meninggalkan tempat.
Hanya tinggal keluarga terdekat saja.
Kepergian Santoso yang tiba-tiba menyisakan pukulan berat di benak Haris begitu juga Rudi yang selama ini
menganggap tuan besarnya sudah seperti ayah kandungnya sendiri.
Rudi begitu terpukul, ia hanya mampu menatap kosong nisan yang baru terpasang itu. Mengusapnya dengan derai airmata. Rudi meremas taburan bunga menyesali kepergian Santoso.
__ADS_1
Baru saja.
Rasanya baru kemarin ia kehilangan sosok ayah panutan, Fram.
Frambudi Ibrahim.
Selama hidupnya Rudi hanya mengenal beliau dan tuan besar sebagai pigure seorang 'Papa' .
Dengan Ibrahim, ia hanya tahu dia adalah pamannya. Bukan ayah kandungnya.
Selamat berpulang Om Santoso.
Selamat tinggal.
" Maafkan segala kesalahan ku Om! "
Rudi beranjak dari tempatnya berjongkok. Menepuk pundak Haris menguatkan perasaan adiknya.
Haris memeluk Rudi. Kakak kandungnya sendiri yang selama ini selalu ia andalkan saat menjadi sekretarisnya.
Kakak kandungnya yang tak pernah ia tahu selama ini.
Haris hanya tahu Rudi adalah sahabatnya. Rekannya. Andalannya. Kaki kanannya. Hanya itu.
Pelukan mereka berlangsung cukup lama.
Seorang Haris Santoso tak mampu lagi menahan laju airmatanya.
Menangis hingga suaranya saja hampir menghilang, serak dan terasa kering di tenggorokan.
Menangislah Haris. Hingga kelak kau akan merasa jauh lebih tenang .
Dan saat keduanya melepas pelukan. Di saat yang sama teriakan wanita berseragam biru muda yang berlari tengah mengejar seorang wanita tua membawa boneka.
"Tunggu,hei !! Jangan berlari ayo sini suster punya hadiah."
Wanita muda yang ternyata seorang suster itu berlari meliuk-liuk melewati setiap pemakaman yang ada disana.
Makam yang tenang itu ia tak ingin menginjaknya.
Saat sejenak Haria berdiri di sisi kiri jalan setapak, ia terhenti di satu makam yang selalu ia sambangi setiap tahunnya.
Nisan dengan nama Marisa itu nampak bersih, bunga yang hampir mengering juga di tabur di atasnya.
Dua hari sebelumnya Divya baru saja datang kesini. Di sampingnya juga wanita tua yang membawa boneka itu setengah merebahkan tubuhnya.
Meronta-ronta dan berteriak memanggil nama 'Marisa'.
"Marisa putriku. Bangun! Ayo bangun.
Aku bertemu kekasihmu. Ayo bangun atau dia akan di ambil suster itu. Marisa !! "
Wanita itu memukuli makam dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Mengusak bunga dan menghamburkannya ke udara.
Seranya tertawa sarkas.