
"Kak, ish beneran marah ya. " Ameera masih mengekor saat Erik meninggalkannya keluar kamar.
"Sayang ih ! Mulai deh, Andra itu cuman temen.Temen loh, aku gak ada apa-apa sama dia. Beneran !" bujuk Ameera yang jelas melihat Erik kehilangan gairah.
"Gak ada apa-apa tapi telponan malam-malam." tukas Erik masih tidak mau kalah.
"Itu. Tadi dia lihat sosmed aku sayang pas kemaren kita di Jakarta. Terus dia DM aku. Tukeran nomor deh, aku lupa pas waktu ponsel aku ganti gak ngabarin dia kalau nomor ku juga
ganti. " cerocos Ameera tanpa mempedulikan lagi ekspresi kesal suaminya.Ia justru mencubit gemas hidung Erik.
"Heum penting banget ya dia. "
Erik pura-pura acuh , ia lebih memilih menuangkan minuman dingin dari lemari es, menenggaknya hingga tandas.
Berharap bisa meredam hawa panas di dadanya.
"Gak gitu juga sayang. Kamu ngapain sih malam-malam gini di dapur ?"
"Laper !" jawab Erik cepat.
"Tumben, " Ameera mengambil alih saat Erik mulai menyalakan kompor.
"Mau aku masakin apa? " tanya-nya perhatian.
"Gak usah ! " tolak Erik merebut kembali panci dari tangan Ameera.
Ameera mendesis,ia tahu Erik memang sedang marah dia hanya memakai alasan lapar untuk menghindarinya.
"Aku masakin nasi goreng ya, mau? "
tanya Ameera lagi,ia mengecek sisa nasi di wadahnya.
"Gak usah ! "
Lagi-lagi Erik menolak kasar.
Tak lama kemudian ibunya datang dari arah kamar, ia terbangun kala harus mendengar suara-suara bising dari arah dapur.
"Ini ada apa sih, ribut-ribut di sini malam-malam ?" tanya ibunya Erik sambil menguap lebar.
"Ini loh bu, anak ibu. Bilang katanya laper tapi mau dimasakin ini gak usah itu gak usah. Kan jadi bingung. " keluh Ameera pada ibu mertuanya.
"Heum ini anak nakal pasti lagi ngambek toh, kebiasaan. " ibu mencubit hidung Erik.
"Udah tinggalin aja dia di dapur, biarin grasak grusuk cari makanan. Kamu tidur nanti kesiangan loh, besok kerja kan. Mantunya ibu gak boleh capek-capek. "
Imbuh ibu Erik membela menantunya.
Erik memberenggut lagi melihat hal itu.
"Ini kenapa semua orang jadi lebih suka sama hidung ku sih" gerutu Erik mengusap -usap hidungnya sendiri.
Sementara Ameera terkekeh geli seranya menjulurkan lidah .Mengolok suaminya itu.
***
Jakarta,
satu bulan kemudian.
Malam itu Divya masih sibuk menimang baby Leo ,waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun si tampan junior masih juga belum tertidur.
Haris sudah mengusak rambutnya frustasi.
__ADS_1
" Sampe kapan sayang? " keluh Haris.
"Apa? "
Divya berbalik, di lihatnya suami tercintanya tengah tersenyum menyeringai.
"Kenapa senyum -senyum gitu, ada yang aneh ya? "
Haris sama sekali tidak berkedip, menatapnya seperti singa yang tengah kelaparan.
"Sudah empat bulan, ayolah ! "
Dia berjalan mendekati istrinya.
Sementara Divya yang akhirnya paham maksud perkataan Haris hanya mendesis dengan senyum menahan tawa.
"Belum waktunya, baru juga empat bulan. "
Divya yang membelakangi Haris terkekeh geli.
"Ayah Leo gak sabaran deh. "
Lagi-lagi Divya menggoda Haris. Sudah hampir setiap malam sejak papa Santoso meninggal Haris selalu murung. Di satu sisi ia masih bersedih atas kepergian Papa-nya. Di sisi lain Divya masih terus saja mengulur-ngulur waktu.
"Tega kamu sayang, " rengek Haris lagi, sudah seperti anak kecil yang sedang minta uang jajan .
Haris memeluk istrinya dari belakang, sementara baby Leo masih dalam gendongan.
"Leo bobo ya, ayah pinjam bunda sebentar, "
" Sebentar, " timpal Divya mencibir.
Mana bisa tuan Haris Santoso main sebentar.
Dan ya seperti biasa Leo pasti menangis kalau Haris sudah mendekati bunda-nya.
"Masa iya bayi aja cemburu? " dengus Haris.
"Iya mirip kamu!"
Hanya mendaratkan satu kecupan di pipi sang bunda saja Leo sudah menangis. Apalagi kalau.
Ah sudah lupakan itu !!
Haris kembali duduk di pinggiran tempat tidur, memerhatikan Divya yang tengah berusaha menidurkan putranya.
Ia setengah membaringkan tubuhnya menatap langit kamar, sendu.
Bayangan sang Papa kembali melintas, sudah satu bulan saja. Rasanya baru kemarin ia bercanda bersama Leo dan papa Santoso,Opa -nya. Dengan di warnai tingkah kakak Icha yang mulai sering cemburu pada adiknya.
Takdir hidup hanya tuhan yang tahu. Itulah yang Haris rasakan saat ini.
Kehilangan sosok seorang ayah panutan.
Satu bulan ini,ia seakan kembali pada titik awal dimana Santoso menyerahkan segala urusan perusahaan padanya.
Haris seakan baru pertama kalinya menjadi seorang pemimpin. Ada banyak kesalahan hingga ia merasa kehilangan kepercayaan dirinya.
Sebelum ini, sebelum Santoso meninggal meski ia tetap di rumah tapi setidaknya beliau selalu memberi pandangan dan pendapat -nya. Kali ini sudah satu bulan semua itu hilang.
Dan semua itu takkan pernah kembali lagi.
Haris sudah harus bisa merelakan kepergian Papa-nya. Apapun yang terjadi ia harus bisa mengurusi segalanya sekarang.
__ADS_1
Helaan nafasnya terdengar berat.
Terdengar takut, dan khawatir.
Ia menutup matanya sejenak,tertidur dengan kedua tangan menyangga kepalanya. Merasakan segala kepenatan di dalam dirinya, di hati dan pikirannya.
Memejamkan mata untuk sesaat, menenangkan segala kegelisahan.
Saat ia tengah terhanyut dalam kenangan sentuhan membuatnya tersadar. Ada tangan halus menggerayangi tubuhnya, mengusap lembut wajah serta turun ke dada bidangnya.
Haris meraih tangan itu menciumi punggungnya berkali -kali.
Membawa si pemilik kepelukannya.
" Kenapa sayang kamu terlihat khawatir? "
Divya istrinya lah yang sudah menyadarkannya dari segala lamunan.
Ia tengah ikut khawatir melihat Haris yang murung.
"Gak apa-apa sayang, gimana Leo sudah tidur? " tanya -nya kemudian menoleh ke arah box bayi dimana Baby Leo-nya tertidur pulas.
"Heumm" Divya menjawab sekenanya saja.Asal di jawab begitu pikirnya.
Ia mengangguk di atas dada suaminya itu.
"Ya sudah tidurlah kamu pasti capek, kan? " tanya Haris lalu meminta Divya agar segera beristirahat.
" Jawab dulu kamu kenapa murung. Keinget Papa ya?"
Divya terbangun darinya bersandar di dada.
Menatap manik Haris lekat. Mencari jawaban. Memang sudah bukan lagi rahasia jika tuan muda ini rapuh.
Ia lebih sering bengong menatap kosong. Walau begitu Haris tetap berusaha tersenyum di depan Mama.
Ia hanya akan menangis jika di kamar -nya saja.
Saat tatapan mata mereka bertemu, Haris justru membawa Divya mendekat. Bibir mereka menyatu. Pagutan pun berlangsung cukup lama.
Satu sama lain sudah saling merindukan.
"Aku butuh kamu sayang. " bisik Haris menggigit kecil telinga Divya.
"Aku butuh kamu !" Sekali lagi sukses membuat Divya merinding .
Bisikkan itu. Divya tersenyum.
Dia juga membutuhkan Haris. Sama dia juga merindukan Haris.
Tidak ingin menyangkal ia juga menginginkan itu.
Divya tidak ingin munafik.
Dan malam ini diiringi gemercik air hujan. Menambah suasana menjadi semakin romantis.
Tidak kah takdir menyatukan mereka agar kelak menghadirkan sebuah kebahagiaan .Silih berganti manusia. Datang dan pergi .
Datang membawa kebahagiaan. Namun pergi
meninggalkan kenangan, meninggalkan kesakitan. Meninggalkan apa yang mereka sayang.
Itulah takdir yang tak bisa di pungkir !
__ADS_1
Semua tertulis jalannya masing-masing.
***