Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Bukan sedarah


__ADS_3

Perlahan Divya menggeliatkan tubuhnya.Ia mengerjap kecil,setitik cahaya masuk melalui celah matanya.


Rasa pegal di pinggangnya mulai menganggu tidur pulasnya.


"Aku dimana ? "


Gumam Divya disertai geliat tubuh dan mulutnya yang menguap lebar.


"Kita disini,lihatlah ! Buka matamu !"


Suara laki-laki membuatnya menoleh,Divya menyipitkan matanya demi melihat dimana dia sekarang.


Rumah sakit.


Siapa yang sakit mengapa kak Rudi membawanya kesini.


Divya sudah tertidur sejak tadi,hampir satu jam Rudi menunggunya terbangun.


Ia tak tega membangunkan Divya yang nampak lelah,tertidur dengan pulas.


Membiarkannya mengisi energi demi menghadapi kenyataan.


Kenyataan yang akan segera ia hadapi.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit kak?"


Tanya Divya heran,ia sedikit membungkuk kedepan melihat plang besar di depannya, mengerjapkan lagi mengucek matanya meyakinkan apa yang di lihat nya itu benar.Tulisan besar itu memang Rumah sakit.


"Ayo turun !"


"Hei kak,siap yang sakit?"


Menggerakkan halisnya setelah ia berdiri di samping pintu mobil.


Menutupnya perlahan.


"Kau lihat nanti ,ayo masuk !"


Titah Rudi meminta Divya jalan beriringan dengannya.


"Heum"


Tanpa banyak bertanya lagi Divya paham akan perintah sang kakak.


"Kau harus berjanji satu hal,Divya !"


Seru Rudi di tengah langkah panjangnya menelusuri koridor rumah sakit.


"Berjanji apa?"


Divya yang berjalan di belakangnya seakan terseret mengikuti langkah kaki Rudi yang beberapa langkah di depannya.


"Jangan pernah menangis jika setelah ini kau akan menghadapi kenyataan pahit"


Rudi tiba-tiba saja menghentikan langkah,membuat Divya menumbruk punggung kekarnya.


"Hei, Aww...Berhenti bilang bilang,sakit tahu !"


Gadis itu memberenggut kesal.Ia menepuk bahu Rudi cukup keras.


"Kamu tuh kalau jalan hati-hati,lihat ke depan"


"Kau sendiri yang salah malah menyalahkan ku"


Rudi merasa tidak terima.Ia tersenyum melihat Divya meringis mengusap dahinya sendiri.


"Apa "


Adik perempuannya yang satu ini memang lucu dengan segala tingkahnya.Rudi masih tak menyangka jika dia sekarang bukan hanya adik sepupunya.

__ADS_1


" Kalau pandangan mu lurus ke depan ,kau tidak akan menabrak.Jadi berhenti menengok kanan kiri"


"Ayo sebentar lagi kita sampai di ruangannya"


Ajak Rudi lagi,kembali melangkahkan kaki menuju tempat yang ia maksud.


"Ruangan siapa ?!"


Divya masih di hantui rasa penasaran siapa gerangan yang sakit hingga Rudi seserius ini ? Dia bahkan tak menjawab pertanyaan Divya.


Ia pun melangkang mengikuti kakaknya itu dengan banyak pertanyaan di benaknya.


Entah sejak kapan hatinya mulai terasa perih,seakan terjadi sesuatu yang tak diinginkannya . Tapi apa ?


Sampai di sebuah ruangan ber-skat kaca nampak dia terbaring dengan segala peralatan penopang di tubuhnya.


Apa yang terjadi ?


Mengapa dia disini ?


Airmata Divya menggenang dan kembali menetes di pipi tanpa bisa ia cegah.


"Kakak sudah bilang tadi,kan ? Jangan menangis"


"Bagaimana bisa aku tidak menangis,kak !"


Suara seraknya nyata terdengar begitu memilukan.


"Dia disana kesakitan sementara aku tidak tahu apa-apa "


Rudi menatap lurus ke depan seperti halnya yang Divya juga lakukan.


" Kau menangisinya karena apa Divya? Karena dia suami mu,karena dia ayah dari bayi mu atau ada alasan lain?"


Pertanyaan yang membuat Divya bingung,ia menatap lekat Rudi.


Apa maksudnya? Mata itu menyiratkan pertanyaan itu.


"~Karena~"


"~karena aku~dia~"


Menjerit dalam diam,DIA SUAMI KU ! Rasanya ingin sekali Divya berteriak tapi apa masih pantas ia meneriakinya seperti itu.


"Kau ragu ? Kenapa kau ragu?"


Rudi sekilas melirik Divya yang masih sesegukkan,menutup mulut dengan telapak tangannya.


Divya berusaha meredam isak tangis yang semakin menjadi.


"Ini tidak akan terjadi kalau kau tidak ceroboh Divya !"


Pernyataan Rudi seakan sambaran petir di benak Divya.Apa Rudi tengah menyalahkan nya.


Atas perbuatan apa ? Yang mana ?


"Kesalahpahaman itu wajib di luruskan,bagaimana kau tahu apa yang sebenarnya terjadi kalau kau lari dari masalah"


Divya kembali mendongak,melihat airmuka Rudi yang masih seperti tadi,datar tapi membuatnya semakin merasa bersalah.Kata-kata Rudi ,ia mengucapkan nya dengan tegas bagai belati yang menusuk dan menyayat rongga dadanya.


"Masalah yang kau hindari nyatanya menimbulkan masalah baru sekarang,kau lihat !"


"Laki-laki yang teramat mencintai mu terbaring disana ! Dia adikku kau juga adikku.Apa salah jika aku ingin kalian bahagia?"


"Apa aku salah?"


"Katakan ! Apa seorang kakak bersalah jika menginginkan kedua adiknya bahagia?"


Kali ini Rudi mencengkram erat pundak Divya.Memaksa gadis itu melihat matanya.Mata yang tak bisa membohongi hatinya jika dia juga merasa hancur.

__ADS_1


"Apa maksud kakak?"


Divya ,dengan nafas terengah-engah mempertanyakan maksud perkataan Kak Rudi,ia tidak memahami apapun.Kecuali kata adikku untuk dirinya,dan Haris.Haris ! Adikku ?


"Apa yang kau pikirkan sampai kau lari dari rumah ?"


Rudi menatap kedua bola mata Divya lekat lekat,adakah yang ia sembunyikan disana selain kesalahpahaman.


Atau mungkin ada amarah karena dengan keji ibunya sendiri telah memisahkan seorang kakak dari adiknya.


"Aku~aku~"


Divya menunduk dalam,pundaknya bergerak seiring isak tangisnya.


Ia menghambur ke pelukan kak Rudi,kakak sepupu yang selalu bisa memahaminya selama ini.


"Dengarkan aku ! "


Rudi mengambil jarak demi melihat wajah sang Adik kesayangan.


"Cinta tidak pernah salah tempat,hanya saja terkadang seseorang salah mengartikan apa itu cinta"


"Pikirkan baik-baik,Papa ku ,paman Fram mu itu,dia menjodohkan mu dengan Haris atas permintaan ayah,ayah mu paman Ibrahim"


"Lalu apa kau berpikir jika kalian sedarah,ayah akan melakukan hal salah seperti itu?"


"Kau tidak bodoh,Divya ! Hanya untuk memahami semua ini"


Rudi sedikit menghentakkan tangan ,melepas cengkaramannya di bahu Divya.


"Jaga kandungan mu,Haris menginginkan itu dari mu"


Derai airmata tak sanggup lagi Divya hentikan.


Ia benar-benar keliru, apa itu yang dimaksud ? Apa Divya keliru?


Ia kembali menatap kaca,menamparnya dengan tatapan sendu.


Apa yang terjadi seharusnya tidak terjadi jika saja dia tidak pergi dari rumah.


epilog.


"Apa yang terjadi ,Rud ?"


Suara dengan nada khawatir mempertanyakan mengapa Rudi terisak di sebrang sana.


"Haris,tante ! Haris"


Suara ambulance menerobos padatnya jalanan kota besar seperti Jakarta,suara sirine memecah belah hiruk pikuk kendaraan di depannya.


Kenyataan itu yang membuat Rudi menyalahkan dirinya sendiri,mengapa dia harus membiarkan Haris mengendarai mobilnya dalam keadaan panik.


Rudi terus memukul kemudi,mengikuti ambulance itu membawa adiknya.


"Ahmad tidak menjauhkan mu dengan putra mu,selama ini kau tidak pernah jauh dengannya.Aku yang mengadopsi putra mu.Membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang"


Rudi menutup cerita memilukan itu dengan mengusap kasar airmata di pipinya.


"Jadi,putra Mama Rahma dan Ayah itu Kak Rudi ? Dan bukan Haris?"


"Itu maksud kakak?"


Divya memegang lengan kakaknya,mencari kejujuran di matanya.


"Aku dan Haris bukan saudara?"


Diiringi anggukan kepala kak Rudi,Divya tertawa pilu sendiri mendapati kenyataan itu.


"Aku bukan adiknya,Haa.Aku bukan saudaranya.Kami tidak sedarah .Ya kami tidak sedarah"

__ADS_1


Divya terduduk lesu,memeluk perutnya sendiri.


__ADS_2