
Siang ini meeting di mulai .Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.
Haris sudah kembali dari makan siangnya bersama sang kakak.
Interaksi keduanya sejak tadi di ruangan Haris masih berlanjut ketika mereka duduk berdua menikmati hidangan resto tak jauh dari area gedung Santoso Group.
Kini keduanya sudah ada di ruang meeting dan ada Pranando juga disana.
Ia datang sebagai CEO Wiryawan group tentunya. Haris, jangankan menyapa ia masih menatap tajam sampai lupa akan berkedip. Sementara Pranando yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun nampak begitu heran dengan tingkah tuan muda di hadapannya.
"Aishh ini mau meeting atau adu tatap mata sih" gumam Rudi yang memerhatikan keduanya.
"Kapan mulainya, semua sudah menunggu. Lihat !"
Dia sampai harus menyadarkan Haris dari semua pemikirannya.
"Ah iya, sorry "
Haris yang tersadar pun
tersenyum tipis lantas membenarkan posisi duduknya.
Ia memulai rapat dengan menyapa semua yang hadir disana.
Dimas selaku sekretaris siaga di sampingnya.
Meeting berjalan lancar.Kurang dari satu jam semua yang di bahas sudah mendapatkan kesepakatan. Poin-poin penting dalam pembahasan kali ini mengacu pada kemajuan tekhnologi bagaimana setiap perusahaan harus bisa memanfaatkan itu sebagai sarana pemasaran yang lebih luas lagi jaringannya,melalui media online. Menyediakan layanan yang inovatif,mudah dan bisa di percaya.
Setelah semua pembahasan selesai
seluruh jajaran staf keluar beriringan,menyisakan Haris, Rudi, Dimas dan Pranando di dalam ruangan tersebut. Ketegangan kembali tercipta kala Haris kembali menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Kau tidak mau bicara padanya,
Ris? " tanya Rudi seakan memberi jalan.
"Kau yakin dia tidak terlibat ?" Haris balik bertanya sambil setengah berbisik.
Sementara Pranando dan Dimas saling menatap heran .
"Terlibat apa? "
"Urusan si Andri itu" Haris memberi penekanan agar Rudi paham.
"Ku rasa tidak"
Rudi ikut-ikutan memelototi Pranando yang semakin bingung.
"Yang benar ?" Haris yang masih tak bergeming.
"Iya" jawab Rudi dengan nada suara sedikit meninggi membuat Pranando mendongak.
__ADS_1
"Ada apa sih? Kalian berdua ini kenapa tuan? Ada yang salah dengan ku? "
Akhirnya Pranando memberanikan diri untuk bertanya. Setelah sedari tadi hanya fokus memainkan ponselnya.
Dimas yang sibuk dengan laptopnya juga sejenak menghentikan aktifitasnya mendengarkan percakapan mereka.
"Bicara atau kau tidak bisa pulang ke rumah mu,Ris"
ejek Rudi dengan senyum miringnya.
Haris yang hanya mendengus tanpa berniat mengatakan apapun pada Pranando.
"Memangnya kau pikir aku akan pulang kemana kalau bukan ke rumah ku.Sialan !" gerutu Haris
Merasa diabaikan Pranando pun lantas beranjak, ia berdiri dari kursi dan hendak melangkah. Namun, ia terhenti begitu Haris memanggilnya.
"Hei kau! "
"Dia punya nama, Ris" timpal Rudi yang sedari tadi menahan tawa.
"Kalau kau tidak ada pekerjaan lain pulang nanti datang ke rumah ku"
Pranando berhenti. Membalikan tubuhnya lagi menghadap ketiga orang itu.
"Eum~Marisa ingin bertemu dengan mu"
sambung Haris meminta dia datang menemui putrinya dan bukan istrinya.
Pranando! Laki-laki itu tersenyum, akhirnya ia mengerti mengapa Haris bersikap aneh. Tatapan matanya tadi seakan ingin menelannya hidup-hidup.
" Aku juga merindukannya" gumam Pranando.
"Apa! "
"Marisa maksudku tuan "
Ia tersadar kalau Haris mendengarnya.
Setelah itu Pranando benar-benar keluar dari ruangan Haris, memasuki lift dan meninggalkan gedung.
Ia memarkirkan mobilnya dan melesat jauh di atas hamparan aspal hitam berdebu. Panas matahari mulai surut sudah hampir jam empat sore ketika ia sampai di kantornya.Pranando masuk ke dalamnya sebentar lalu keluar lagi membawa tas-nya.
Haris yang melihat kepergian Pranando kembali menanyakan pendapat Rudi tentang laki-laki itu. Haris masih tidak yakin. Masih mencurigainya. Bagaimana pun dia adalah ayah dari Melodi sementara Andri adalah kakeknya.
Takut - takut jika dia pun terlibat.
Namun, Rudi merasa yakin jika Pranando tidak pernah ada kaitan apapun dengan ayah Luna tersebut.
***
Sore ini mobil Haris sudah memasuki gerbang istananya yang mewah. Mobil lain mengekor di belakangnya. Dia lah mobil Pranando yang ikut pulang ke rumah Haris untuk menemui Marisa putri yang sudah mengganggapnya sebagai 'Papa' .Dia yang masih menyebutnya dengan panggilan itu walau ayah kandungnya sudah ada di sisinya.Masih sering menelpon hanya untuk meminta di bacakan dongeng sebelum tidur.
__ADS_1
Saat Pranando menyambangi ruang tamu di rumah Haris di saat yang sama Divya datang menuruni anak tangga.
Ia sudah langsung melihat kedatangan suami dan seseorang sesuai permintaannya.
Haris berlari memburu.Menghampiri Divya agar ia tidak segera menyapa Pranando. Haris juga mengatakan jika Icha ada di kamar dan dia akan memanggilnya turun.Menyuruh Pranando menunggunya di sofa saja.
Dengan bingung ia pun menuruti perkataan Haris.
"Hei. Ingat ! Hanya bertemu, jangan menyapanya apalagi memeluknya. Aku bersumpah akan membunuh dia kalau kau minta lebih" ucap Haris di samping telinga Divya.
Mengancam !
Mama Rahma yang datang dari arah belakang pun langsung menyapa Nando.
Mama menatap Divya dan Haris,serta tamu istimewanya bergantian .
"Akhirnya kau kesini, Do! " sapa Mama begitu melihat Pranando ada disana.
Jujur Mama rindu, karena sejak Raisa isterinya itu melahirkan Nando belum bertemu mama Rahma lagi.
"Kau tahu Divya sudah menunggu mu dari tadi. Biasa ibu hamil keinginannya aneh-aneh sudah tahu suaminya cemburuan tapi dia masih minta untuk bisa bertemu dengan mu"
Mama Rahma tidak berhenti mengoceh meski Haris sudah memberinya isyarat untuk tetap diam.
"Maksud tante ? " tanya Nando bingung.
"Divya yang minta kamu kesini loh, dia ngidam pengen banget ketemu kamu"
Haris di belakang Divya padahal sudah memberi Mama isyarat dengan mengibas-ngibaskan tangannya. Tapi Mama tetap bicara seperti itu. Dasar Mama yang tidak paham suasana hati anaknya sendiri.
"Oh ya"
Respon Pranando sambil menoleh ke arah Divya dan Haris. Sudut bibirnya berkedut geli.
"Jadi bukan Icha yang mau ketemu saya tante? " tanya Nando lagi.
" Bener kok, emang Icha yang mau ketemu sama kamu. Aku cuman pake alasan dia aja supaya ayahnya nurutin kemauan ku"
Memakai alasan dia sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Senyum di bibir Pranando masih setulus tadi, bukan senyum kekecewaan karena mendengar penuturan Divya yang terlalu jujur.
"Ok! Bagus juga ide kamu" ia tersenyum geli.
"Jadi dimana tuan putri ku sekarang ?"
"Ada di kamar, akan aku panggilkan Tuan putri ku"
jawab Haris memberi penekanan di kata 'tuan putri ku' seakan tak ingin berbagi putri kecilnya yang cantik dengan orang lain.
"Dia di kamarkan? "
__ADS_1
Bahkan Haris sendiri sebenarnya tidak tahu apakah putrinya benar di kamar atau dimana mengingat ia juga baru tiba di rumah .Asal saja dia menjawab pertanyaan Pranando.
Haris berbalik ketika tak mendapati Icha di kamarnya. Dimana dia?