
Decit suara rem mobil terdengar.
Pria di dalamnya keluar dengan tatapan terheran-heran.
Stelan jas yang gagah,dilengkapi kacamata hitam yang bertengger manja di hidung mancungnya menambah pesona ketampanan.
Beberapa orang nampak tertegun melihat pemandangan luar biasa di hadapan mereka.
Deretan manusia berbaris rapih,sigap berdiri di sisi kanan dan kiri.
Pemandangan itu justru terasa aneh bagi si pria berkacamata,ia menutup pintu mobilnya perlahan.
Sambutan macam apa ini? Bertambah kebingungannya ketika melihat dua bendera kuning terpajang di setiap sudut pagar.
Rumah siapa ini?
Ia membuka kacamata itu,menyelipkannya diantara kemeja.
Mengingat sesuatu,tapi nihil ia tak mengingat apapun.
Ia tidak pernah datang ke tempat ini.
Dipikirannya saat ini mungkin hanya satu nama,Divya.Mengapa gadis itu menyuruhnya datang ke rumah ini.
"Selamat datang Tuan Nando Wiryawan!" Suara seseorang penuh penekanan terdengar menghampiri si pria yang ternyata itu tak lain adalah Nando.
"Kau!" Tudingnya pada laki-laki yang menyapanya.
"Kenapa? Bingung?" Tanyanya tersenyum sinis.
"Dimana Divya?" Nando balik bertanya.
"Ada di dalam" Jawab pria itu enteng.
"Apa maksudmu !" Lagi-lagi Nando menuding dengan telunjuknya.
"Hahaha...Santai kawan ,adikku itu masih bernyawa" Suara itu ternyata milik Rudi dengan tawa sarkasnya yang mengintimidasi.
"Tapi kau akan tahu apa yang sebenarnya terjadi disini,itupun kalau kau berani masuk" Ucap Rudi lagi, menantang.
Lalu ia melenggang masuk kedalam rumah setelah mengucapkan itu kepada Nando.
Meninggalkan dia yang masih berusaha mencerna maksud dari perkataan Rudi tadi.
***
__ADS_1
Di dalam rumah kediaman keluarga Luna.Rumah yang terlihat sederhana dengan beberapa tanaman tersusun rapih di halaman depan.
Sudah berjejer para anggota keluarga yang sedang mengaji,memberi pembekalan terakhir pada jenazah yang baru saja tiba.
Ada diantara mereka yang masih terisak ,sedih dan menyesal dengan apa yang menimpa Luna,mungkin itu yang mereka rasakan.
Seorang pria paruh baya sedang tertunduk memohon maaf kepada Haris,pria itu tak lain adalah ayah dari Luna,wanita yang di tolong Haris.
Permintaan maafnya yang sudah kesekian kali sejak kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa dia di perusahaan milik Haris.
Beruntunglah pria itu tak sampai masuk penjara untuk selamanya,hanya beberapa tahun ia kembali bebas. Namun,kehidupannya kini bisa di bilang memprihatinkan.
Tidak ada lagi perusahaan yang mau menerimanya bekerja,itu akibat ia berani mengkhianati Haris.
Semua akses masuk perusahaan besar maupun menengah di kota ini pasti sudah Haris tutup,sebagai hukuman atas dosanya itu.
Haris berbesar hati,ia memerintahkan Rudi untuk memberikannya satu anak perusahaan yang masih dalam tahap awal kepada ayah Luna,dan jika dia berhasil maka separuh saham akan menjadi miliknya.
Tentu saja hal itu di sambut dengan baik,ayah Luna tak henti berucap terimakasih begitupun istrinya,ibunda Luna yang baru selesai mengaji itu mengucap rasa syukurnya.Walaupun ia merasa semua sudah terlambat,bahkan anak satu-satunya sampai harus meregang nyawa di negri orang.
Seandainya saja ayahnya tidak melakukan kesalahan maka Luna mungkin sudah lulus kuliah sedari dulu dan kembali ke Indonesia.
Anak keras kepala itu justru nekat melawan kerasnya hidup di negri orang.
Mereka begitu penasaran seperti apa cucunya,juga siapa ayah dari bayi itu.
Belum selesai dari pembahasan itu Rudi datang memberi isyarat yang hanya Haris lah yang mengerti maksudnya.
Beberapa menit kemudian Nando menyusul Rudi masuk ke rumah yang asing bagi dirinya.
Divya. Matanya langsung tertuju pada sosok itu.Perempuan cantik yang belum bisa hilang dari pikirannya.
Ada apa ini siapa yang meninggal? Pertanyaan yang keluar tanpa suara,bisa diartikan seperti itu oleh Divya ketika melihat sorot mata Nando yang penuh tanda tanya.
"Nah ini dia Om tante orangnya datang" Suara Divya memecah suasana yang untuk beberapa saat tadi hening.
Nando berjengkit tak mengerti.
"Kau bingung,lihat saja siapa yang terbaring kaku disana!" Ucap Divya lagi ketika ia mendapati Nando yang hanya mampu mengangkat bahu.
"Ayo lihat !" Perintah Divya lagi.
Masih dengan ekspresi penuh tanda tanya, Nando melangkahkan kaki mendekati jenazah Luna.
Ia berjalan sedikit membungkuk di hadapan keluarga Luna.
__ADS_1
Divya ikut membututi Nando,setelah ia meminta izin Haris lewat bahasa isyarat.
Haris mengangguk tanda ia memang mengizinkan istrinya .
"Buka !" Ucap Divya pelan.
"Kalau kau ingin tahu jawaban kenapa aku menyuruhmu datang ke tempat ini,buka dan lihat siapa yang meninggal !" Dengan sedikit berbisik,tidak lupa juga ia menjaga jarak agar tidak perlu terlalu dekat dengan pria ini,mengingat Haris tidak akan menyukai jika sampai Nando menyentuh miliknya walau hanya seujung kuku saja.
Tanpa banyak bertanya lagi,Nando berjongkok di samping jenazah,membuka perlahan kain yang menutupi wajahnya.
"Luna" Gumam Nando ketika kain itu sudah terbuka,memperlihatkan wajah yang ia kenali.
Nando refleks kembali menutupkan kain itu,ia terduduk kebelakang sambil memekik dalam hati.
Tak pernah sedikitpun ia membayangkan jika Divya akan menunjukkan hal semacam ini.
Dari mana ia mengenal Luna? pikiran Nando yang sudah bisa ditebak Divya.
"Aku tidak sengaja bertemu dia di London" Ucap Divya.
"Asal kau tahu Luna menceritakan semuanya dan aku percaya semua yang dia katakan padaku,dia wanita yang jujur.Aku yakin itu" Ucap Divya lagi,kata-kata yang membuat Nando mendongak.
"Sayangnya itu pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir kami" Ujar Divya tersenyum miris.
Dengan tertatih Nando berusaha kembali berdiri di samping Divya.
"Jadi Vero, kau sudah tahu semuanya?" Tanya Nando memanggilnya dengan nama itu.
"Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi" Dengus Divya tidak suka "Tolong" Imbuhnya.
"Kenapa ? Kau ingat masa lalu jika aku memanggil mu nama itu,iya?" Nando kembali menggodanya.
"Cukup Nando,jangan melewati batas !" Tegas Divya ,telunjuknya mengudara.Menuding tepat di depan wajahnya .
Haris yang melihat hal itu pun tersulut emosi.Namun,ia tak ingin ada keributan di tempat ini,suasana duka yang masih menyelimuti keluarga ini.Rasanya tidak pantas jika harus dibumbui insiden baku hantam.
Ia melirik Rudi yang dengan sigap langsung berdiri .Namun,belum sampai Rudi melangkah tiba-tiba ibunya Luna menyerang Nando dengan tamparan keras tepat di pipi kirinya.
"Jadi kau laki-laki kurang ajar yang menelantarkan putriku !" Ucap ibu Luna penuh emosi.
"Tidak tante dengarkan saya dulu" Bantah Nando.
"Dengarkan apalagi ,hah ?! Mendengarkan kalau kau menghamili anakku,lalu pergi meninggalkan putriku sendiri,begitu?!" Ibu Luna masih belum puas ,ia kembali menampar pipi sebelah kanan Nando.
Saking kerasnya sampai ia meringis merasakan perih .
__ADS_1