
Ayah Haris memang pemalas,kerjanya tidur sepanjang hari .Nafas dibantu, detak jantung pun di pantau.Dokter datang setiap dua kali dalam sehari,suster juga bergantian menjaga Ayah.
Belum lagi bunda yang selalu dibuatnya menangis dan menangis sepanjang malam.
Ayah benar-benar pemalas.Ayah memang tampan saat tidur,tapi kalau tidak juga terbangun Marisa jadi seperti tak mengenal ayahnya saat dia terbangun.
Benarkan.
Ah apa waktu bisa diulang,rasanya Haris ingin merasakan seperti apa rasanya menggendong bayi.
Malam yang dingin memeluk tiga insan di bawah selimut tebal hingga datangnya sang mentari pagi menyeruak menampakkan diri.
"Selamat pagi,Aaaaghh"
Geliat Haris membuka pintu rumah.
Diluar rumah sudah ada dua keluarga tengah menikmati hangatnya cahaya matahari.
"Aishh si pemalas baru keluar rupanya,Apa Marisa mengganggu kalian semalam?" Sindir Rudi.
"Sudah ku ajak Marisa agar tidur bersama ku,dia malah menolak ku.Ah menyedihkan posisi ku tersingkir gara-gara dia datang"
Imbuh Pranando.
"Hei diam kau ! Marisa itu anakku"
Tukas Haris tak terima.
"Ya iya dia anakmu, aku tahu ! Rasanya benar-benar menyedihkan jika aku sudah tidak di butuhkan lagi"
Pranando pura-pura terisak.
"Diaaaam ! "
"Aku mau coklat hangat ,mana coklat hangat ku ?"
Teriak Marisa membuat suasana menjadi riuh dengan tawa bahagia.
Akankah kebahagiaan ini abadi.
Atau rintangan justru akan datang menghadang lagi.
Seperti roda kehidupan yang selalu berputar.Hidup adalah anugrah sang illahi dimana kehidupan akan selalu
memberikan warna yang berbeda di setiap waktu .
"Coklat hangat datang"
Divya berjalan membawa banyak cup minuman yang masih mengeluarkan uap panas itu.
"Jangan berebut semua kebagian,sayang"
Marisa,Melodi dan satu lagi Juna putra Rudi selalu membuat suasana menjadi ramai dengan tingkah lucu mereka.
"Ica sayang papa mau tanya~"
"Om bukan Papa !". Potong Haris masih tidak terima.
"Jangan protes ! Aku sudah menjadi papa nya sejak dia belajar bicara"
Ya sejak hari itu Pranando kembali ke kehidupan Divya,bukan sebagai pengganggu hubungannya dengan Haris melainkan sebagai rekan yang selalu menguatkan wanita rapuh itu.
Wanita yang selalu saja menyembunyikan kesedihan serta masalahnya dari orang lain,tapi tidak di mata Pranando.Pria ini tak bisa di bohongi.
"Tanya apa Papa?"
__ADS_1
Dengan antusias Marisa mau mendengarkan apapun yang dikatakan Pranando.Dia duduk di pangkuannya masih dengan segelas cup penuh coklat hangat di tangannya.
"Kemarin kan bukan cuman ulangtahun kaka Melodi ya.Ulang tahunmu juga kan ? Bunda sama Ayah juga Anniversary .Ayah ngasih hadiah gak?"
Pertanyaan apa itu.Tidak penting.
Sorot mata Haris menyiratkan.
"Tidak ! Tidak ada kado.Tidak ada hadiah.Ayah payah"
"Heum.Begitu ya"
Pranando terlihat manggut-manggut senyum geli juga tercetak di bibirnya.
"Nanti aku belikan,aku mana tahu ini ulangtahun putri ku juga.Soal ulangtahun pernikahan pun aku tidak pikirkan itu.Yang ada di pikiran ku cuman pengen cepat ketemu mereka"
Menunjuk Divya serta putrinya.
Haris mengakui jika dia bahkan tidak melihat waktu,tanggal bahkan berapa tahun ia lewatkan.
"Baiklah tuan,kami percaya"
Tukas Rudi diiringi gelak tawa.
"Bagaimana Ayah ini,kenapa bisa ayah lupa ulangtahun pernikahan kalian.Memangnya hari itu tidak berarti ya untuk kalian"
Jlebbb
Kata-kata Marisa seakan menancap di ulu hati Haris begitupun Divya.
Keduanya saling memandang heran.
Apa yang di katakan bocah tiga tahun ini nyata membuka kembali luka lama,kedua orangtuanya memang berangkat dari perjodohan dimana mereka sama-sama tidak menerima,bahkan saling berseteru.
Ah bagaimana menanggapi ini.
Ucap Marisa dengan polosnya melihat bunda dan ayahnya malah terpaku saling menatap.
"Kemarin juga bukan ulangtahun ku Papa bohong.Ulangtahun ku entah kapan"
Kali ini dengan gaya lemasnya Marisa menghempaskan tubuhnya di pangkuan Haris.
"Anak ini"
Haris mengusak puncak kepala putrinya.
"Kami mau balik nanti sore,Ris"
Rudi menyatakan niatnya kembali ke Indonesia nanti sore .Jika tidak ada halangan apapun begitu juga Pranando, Istri dan anak mereka.
"Kalian masih mau disini ?"
Tanya Shila menatap Haris dan juga Divya bergantian.
"Sepertinya begitu" Jawab Haris.
"Kami akan kembali setelah satu minggu" Imbuhnya.
"Baiklah kalau begitu kami mau bersiap,titip anak-anak,ya.Kalian nikmati hari kalian"
Sambung Raisa beranjak hendak pergi menyiapkan segala sesuatu yang akan mereka bawa ke Indonesia sore ini.
"Ok " Jawab Divya singkat.
Tingkah Pranando yang tidak jelas justru menahan langkah istrinya.
__ADS_1
Ia memegangi tangan Raisa sambil bersenandung.
Berpuisi atau entah apa yang dia lakukan.
Yang jelas membuat Raisa tersipu malu
sambil menepuk tangan laki-laki yang sudah dua tahun ini menjadi suaminya.
***
Sore hari dua anggota keluarga pun pulang ke Indonesia,Haris, Divya juga Marisa si cerewet ikut mengantar ke Bandara.
Sepanjang perjalanan diisi nyanyian dan obrolan ringan.
Awalnya Rudi berniat membawa Marisa agar pulang lebih dulu bersamanya namun anak itu menolak keras.
Mana mengerti anak sekecil itu jika ayah dan bundanya ingin melepas rindu.
Biarkan saja dia di antara mereka toh Haris juga merindukan putrinya yang belum mengenal siapa ayahnya sendiri.
"Tuan Nando,aku ingatkan ya. Jangan mengucapkan dua kalimat yang sama pada dua gadis yang berbeda ,kau kelihatan tidak kreatif"
Canda Divya sebelum mereka berpisah di Bandara.
"Kau tahu ya ? Ah memalukan"
Jawab Pranando mengusap tengkuk lehernya sendiri.
Interaksi keduanya justru menyiratkan tanda tanya di dua benak yang berbeda.
***
Perjalanan panjang di lalui Divya seorang diri tanpa Haris di sampingnya.
Namun kebahagiaan pun kembali datang ketika Haris terbangun dari koma-nya tak henti ia berucap syukur.
Kini Divya bisa melihaat tawa riang putrinya bersama Haris.Ayah dan anak itu selalu saja berdebat,hebatnya Divya selalu di buat terpingkal karena Haris selalu saja kalah dari Marisa.
Hingga akhirnya harus mendapat hukuman seperti menggendongnya keliling rumah atau meminta dibelikan sesuatu.
Atau bahkan Haris di minta menggendong bundanya.
Satu pekan mereka habiskan untuk berjalan-jalan.Sejenak melupakan penatnya pekerjaan.
Dua bulan yang lalu Divya datang ke negara ini untuk mengurus bisnisnya bersama Rudi dan Pranando.
Tidak ada istirahat apalagi jalan-jalan seperti ini.
Hanya menikmati salju di sekitar rumah saja.
Satu pekan yang mengesankan.Cukup bagi Divya menebus semua waktu yang terlewatkan tanpa suara dan belaian Haris.
Terimakasih untuk selalu hadir dan kembali.
epilog.
(Kau bidadari yang Tuhan turunkan untuk menemui-ku.
Mengisi kekosongan hati,menemani setiap detik yang sunyi
Aku memang tak pandai merangkai kata.
Aku hanya bisa mencintai mu dalam diam.
Hiduplah bersama ku,jadi bagian dari serpihan hatiku yang hilang)
__ADS_1
PRANANDO.