
"Jadi bagaimana keadaan istriku,Tan?" Tanya Haris setelah dokter Intan selesai memeriksa.
"Istrimu? Sahabat macam apa kau ini,menikah tanpa memberitahu ku.Jahat!" Mendengus kesal.Namun, Intan tersenyum penuh arti.
"Haha ya sorry,kau tahu bagaimana aku, kan?" Jawab Haris.
"Ya..ya Tuan muda memang sulit di tebak.Tapi ngomong-ngomong pintar kau cari istri" Melirik Divya dan tersenyum."Cantik"
"Kau sering merasa pusing?" Kali ini pertanyaan ditujukan kepada Divya.
"Tidak !" Menggelengkan kepala " Baru pagi ini,dok" Ucap Divya.
"Panggil saja Intan" Begitulah wanita itu meminta,panggilan akrab yang terlontar dari mulut Haris beberapa kali.Mungkin dia itu teman tuan muda,Divya menyimpulkan.
"Kau jangan keterlaluan Haris,kasihan istrimu!" Lagi-lagi menggoda Haris yang hanya mengusap tengkuk sebagai jawabannya.
"Seminggu tiga kali cukup,jangan seperti mapia,monster.Istrimu sampe kelelahan begitu" Intan terkekeh.
Disusul gelak tawa dari semua yang ada diruangan itu.
"Iya iya bawel ! Jadi bagaimana keadaannya,dokter Intan?" Sedikit penekanan saat menyebut Intan sebagai dokter.
Ya mereka memang sudah akrab sejak sekolah dulu.Intan dikenal sebagai gadis supel yang mudah bergaul .
Mereka sering dikira pacaran karena kedekatan keduanya.
"Itu tadi,istrimu hanya kelelahan.Kalian baru habis pergi dari suatu tempat, mungkin?" Tebakan yang benar,karena Haris dan Divya memang baru pulang dari berbulan madu.
"Pantas saja kalau begitu.Istirahat saja.Minum vitamin dan air putih yang cukup.Makan buah-buahan juga jangan lupa" Intan memberi beberapa tips pola makan yang sehat,ia juga menulis resep vitamin yang harus Divya konsumsi."Ah iya bagaimana dengan siklus menstruasi mu,siapa namamu? Aku sampe lupa nama adik iparku"
"Divya, dokter" Jawabnya tersenyum
" Aku harusnya sudah dapat dua hari terakhir ini,tapi mungkin terlambat.Akhir-akhir ini sering begitu soalnya." Terduduk bersandar di tepi ranjang.
"Apa tidak apa-apa?"
"Aku rasa masih wajar,mungkin karena hormon yang tidak stabil.Bisa juga karena capek atau banyak pikiran,bisa di bilang stres pengaruh utama tidak teraturnya siklus haid" Jelas Intan.
"Kau tidak pakai alat kontrasepsi,kan?" Tanya Intan lagi.
Haris mendelik tajam,Divya menggeleng pelan.
"Baguslah.Semoga ini pertanda" Tersenyum berharap dugaannya benar."Kalau benar,jangan lupa dijaga baik-baik" Pesannya.
"Jadi ada kemungkinan istriku hamil,Tan?" Haris antusias.
"Kau lihat,pria tua bangka ini sudah kepingin gendong bayi" Intan terkekeh lagi.
__ADS_1
"Kurang ajar" Mendengus sebal."Kau bilang aku tua bangka"
"Ya setidaknya aku sudah punya dua anak" Intan tak mau kalah,ia meledek menjulurkan lidah.
"Lihat ! Papa ku saja masih gagah dan tampan begitu,aku di bilang tua bangka" Haris menunjuk Santoso. Divya tertawa melihat interaksi kedua orang di hadapannya.
"Iya lah,aku lihat ! Om Santoso memang masih gagah dan tampan.Apa ,anaknya mah.Kalah !" Rahma dan Rudi juga ikut tergelak.
Santoso menggelengkan kepala.
Divya terkekeh melihat ekspresi lucu Haris.
Jangan tanya mbok Jum,ia sudah tidak ada di tempat.Entah kapan wanita sepuh itu pergi dari kamar Haris.
"Hei bagaimana istriku hamil atau tidak ?" Kesal juga akhirnya.
"Hahaha ...Masih dugaan sementara,kita lihat dua pekan kedepan untuk memastikannya.Mungkin bisa iya bisa tidak,mengingat siklusnya yang kadang tidak sesuai" Jelas Intan. "Ya semoga saja yang terbaik" Haris menarik nafas lega.
"Sudah selesai belum dokter Intan" Kali ini Rudi berdecak " Mau sampai kapan meladeni Haris,tidak akan ada habisnya" Ia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Iya juga ,meladeni si tua bangka ini buang-buang waktu.Aku harus ke rumah sakit sekarang." Intan setuju,ia lantas berpamitan untuk kembali bertugas.
"Hei dokter ganti panggilanmu,kau tahu aku belum tua!!" Teriak Haris ketika Intan sudah hampir sampai memegang handle pintu,diikuti mama Rahma, Rudi juga Tuan Santoso.Meninggalkan keduanya di dalam kamar.
"Tidak mau !" Berbalik dan tersenyum geli."Jangan lupa tebus resep" Imbuhnya menunjuk kertas di atas nakas sebelum benar-benar pergi dari kamar Haris.
Divya lagi-lagi dibuat terkekeh.
"Dia itu temanmu,sayang?"
"Bukan !" Mengibaskan tangan cepat,"musuh"
"Hahaha"
"Akrab banget"
"Apanya yang akrab sih" Gerutu Haris.
***
"Kamu yakin mau langsung pulang,Tan"
Sudah menuruni tangga " Tidak mau sarapan dulu disini?" Tanya Rahma.
"Tidak tante,terimakasih tapi Intan sudah sarapan tadi bareng anak-anak,lain kali saja ya tante,Intan sudah terlambat sekarang" Intan pun pamit.
"Bagaimana kabar anak-anak mu ,Tan.Bawalah kesini, main .Sudah lama,kan? Tante malah belum tahu anak kedua kamu"
__ADS_1
"Ah iya tante kapan-kapan Intan main kesini bareng mereka,ya !" Jawab Intan sambil terus berlalu menuju pintu.
Rahma mengantarnya sampai ke halaman depan sementara Rudi mengikuti tuan Santoso ke ruang kerjanya.
***
"Masih mau disini? Gak ke kantor?" Melihat Haris yang justru kembali naik ke tempat tidur.
"Aku mau menanimu sayangku" Sudah merebahkan diri disamping istrinya,memeluk perut Divya yang masih duduk bersandar.
"Tidak mau" Laki-laki di sampingnya yang tengah asik mengelus perut Divya yang bahkan masih rata itu,sambil terus mengajak bicara seakan sudah ada seorang janin di dalamnya.
"Tidak mau apa?" Mendongak juga akhirnya.
"Tidak mau kamu temani.Apa! Bukannya menemani malah mengangguku nanti" Wajah cemberutnya yang lucu mengundang rasa gemas di hati Haris.
Di unyelnya itu pipi berkali-kali.
Nah,kan ! Belum apa-apa sudah menganggu dasar tuan Muda. Batin Divya.
Eh tunggu ! Dokter tadi bahkan sama, menyebutnya monster.hahaha.
"Kenapa tersenyum begitu?" Mendapati istrinya tersenyum sendiri tanpa alasan.
"Lucu" Masih dengan senyum jahil.
"Apanya,apanya yang lucu?" Haris kesal ia sudah akan menindih Divya kalau saja gadis itu tidak sigap menghindar.
"Kau memang monster ya sayang ! Dokter Intan juga menganggap mu begitu" Kembali tergelak.
"Aku memang monster yang akan siap melahapmu sampai habis" Memeluk erat,menciumi pipi.
"Hentikan,sayang ! atau aku bisa-bisa pingsan lagi" Merengek.
"Haha iya ok! Tidurlah.Istirahat" Ciuman bertubi-tubi mendarat di kening.
Dan waktu yang hampir beranjak siang Haris memutuskan untuk segera mandi,berpakaian rapih hendak kembali pada rutinitasnya sebagai Presdir Santoso Group.
Setelah satu pekan rehat karena harus berbulan madu,tugas yang ia pasrahkan sepenuhnya pada Rudi,ia ambil alih lagi hari ini.
Walau sedikit terlambat karena adanya insiden yang menimpa istrinya.
Mengawali pagi dengan sarapan yang berbeda tentunya.
Sarapan kepanikan khas tuan muda Haris,apalagi kalau bukan melihat wanita yang di cintainya terluka.
Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama,kali ini Haris tidak akan membiarkan Divya pergi seperti Marisa meninggalkannya dulu.
__ADS_1
Kruyuk suara perut terdengar jelas,disusul gelak tawa keduanya.Mereka baru menyadari bahwa perut belum terisi apapun sejak pagi .