Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Masih tak menyangka


__ADS_3

Masih seperti sambaran petir di siang bolong,antara harus percaya atau tidak dengan apa yang didengarnya .


Divya terus menatap lekat mencari kejujuran di balik setiap kata-kata Luna.


Ia memiliki putri dari Nando?


Sekejam itukah Nando sampai tega tak mengakui darah dagingnya sendiri.


"Anda boleh tidak percaya nona Vero tapi itulah yang terjadi"


Luna menyeka airmata dengan tangannya.


Sementara Divya masih tak bergeming.


"Apa nona sudah bertemu dengannya ?Maaf tapi sesaat setelah saya melahirkan dia tergesa untuk kembali ke tanah air begitu mendengar kabar nona dari ibunya" Belum sempat Divya menjawab pertanyaan itu Haris sudah menyerobot tangan istrinya itu dengan kasar.


"Perbincangan macam apa ini.Ayo kita pulang!" Haris menarik paksa Divya.


"Tapi sayang..."


"Apa! masih mau membahas laki-laki brengsek itu hah !" Sentak Haris tak terima istrinya terus menanggapi cerita konyol wanita bernama Luna yang entah benar atau tidak .Sedari tadi ia menahan emosi demi memdengarkan apa saja yang mereka bicarakan.


"Luna! do you want to work or just talk?!" Suara seorang pria terdengar cukup keras.


"Tuh kau dengar ! manajer mu marah kan.Pergi kerja sana jangan pernah mengganggu istriku lagi !" Sentak Haris lagi kepada Luna.


"I'am so sorry Mr." Mengatupkan kedua tangannya ke arah sumber suara tadi.


Benar saja manajernya itu sudah berdiri menjulang dengan bertolak pinggang serta sorot mata tajamnya.


"Tunggu nona saya mohon jika nona bertemu Nando sampaikan keadaan putrinya,tolong" Luna memohon dengan kembali mengatupkan kedua tangannya,namun Haris tak berhenti melangkah ia terus berlalu menuju pintu meskipun Divya sempat menengok ke arah Luna sejenak sebelum keluar dari pintu cafe,setelah sebelumnya menyimpan beberapa uang kertas di bawah gelas kopi yang masih utuh, belum sempat Haris meminumnya.


" Ambil ini ! kembaliannya untukmu.Jangan katakan apapun lagi tentang pria brengsek itu!" Tegas Haris.


Akan tetapi sesuatu tertinggal di atas meja tempat mereka duduk tadi.

__ADS_1


Sebuah tas milik nona Veronika wanita yang baru saja di temui Luna hari ini.


Luna meraih tas itu dan melangkah keluar kafe mengejar Vero dan laki-laki yang menyebutnya sebagai istrinya .


Apa tadi itu suaminya? dia sudah menikah? lalu bagaimana dengan Nando? Segelintir pertanyaan menyesakan dadanya.


Ia berlari menuju parkiran namun tak dilihatnya keberadaan dua orang yang ia cari.


"Nona Vero tas mu tertinggal" Luna berteriak menyusuri jalanan yang cukup ramai menjelang sore hari.


"Nona Vero !!" Ia terus berputar-putar menilik setiap sudut jalan.


Tidak mungkin secepat itu mereka pergi kan? seharusnya masih ada di sekitaran sini. Pikirnya sambil terus melangkah.


Pikiran serta mata yang tak sejalan membuatnya lengah,sebuah kendaraan melaju cepat dari arah kanan tempatnya berdiri.


Bruukkk


Menabrak tepat di tubuh Luna hingga terpental beberapa meter.


Divya yang sudah berada di sebrang jalan sejenak menghentikan langkahnya demi mendengar suara seperti seseorang tertabrak. Jeritan para pejalan kaki pun ikut mewarnai teriakan histeris seorang perempuan yang kini telah bersimbah darah.


"Sayang kita lihat dulu yuk itu ada yang kecelakaan sayang!" Ajak Divya kepada Haris.


"Apa sih gak usah lah kita pulang sore ini ke Indonesia" Sentak Haris tak mau mengikuti keinginan Divya.


"Sore ini ?! kamu janjinya kan lusa sayang" Protes Divya.


"Aku gak mau perempuan itu nemuin kamu lagi nanti,kita harus cepet pulang pokoknya" Tegas Haris keukeuh.


"That's a cafe waiter" Suara sayup terdengar dari kerumunan warga kota London yang tengah mengerumuni wanita yang tertabrak itu.


Diketahui dari seragamnya dia seorang pelayan cafe.


"Sayang kau dengar,pelayan cafe yang ketabrak itu.Terus kayak ada yang manggil manggil aku kan tadi? jangan-jangan !" Divya menebak dengan perasaan khawatir.

__ADS_1


"Pelayan kan banyak,gak mungkin." Sanggah Haris.


"Tapi sayang.Tas ku ! tas ku tertinggal disana,bukan gak mungkin itu Luna.Ayo kita lihat sebentar " Divya menarik paksa pergelangan tangan Haris.


"Kalau tidak mau ya sudah biar aku sendiri yang pasti kan itu Luna atau bukan" Menyentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Haris yang terdiam mematung sambil berdecak kesal.


Ia pun akhirnya mengikuti langkah istrinya itu.


Benar saja memang Luna lah yang terkapar di jalanan.


"Oh ya ampun,Luna!" Teriak Divya, histeris setelah merangsek masuk ketengah kerumunan.


"Help me ! Call in ambulance,please"Lalu ia tersadar melihat tas di samping tubuh Luna,ia meraih dan mengambil ponselnya dari dalam tas.Disaat bersamaan Haris datang dari arah belakang Divya.


"Sayang" Ia memegang pundak Divya.Matanya langsung tertuju pada sosok wanita bersimbah darah.


"Sayang ayo bawa Luna ke rumah sakit.Ayo!" Pinta Divya,airmatanya sudah tak terbendung lagi.


Kerabat bukan saudara bukan teman juga bukan tapi Divya begitu peduli dengan wanita yang baru ia temui hari ini.Ia teringat kata-kata Luna tadi,seperti ingin memberitahukan keadaan putrinya atau ada sesuatu yang seharusnya Nando tahu tentang Melodi,mungkin saja Luna sudah tidak bisa menghubungi Nando lagi dan dia ingin dirinya menyampaikan pesan itu ,bukan.Banyak hal yang tiba-tiba saja muncul di benaknya.


Kali ini Haris tak dapat menolak,ia menuruti keinginan istrinya membawa Luna ke rumah sakit terdekat,menggunakan ambulance sementara ia menyusul setelah mengambil mobil dari basemen hotel tempatnya menginap.


Mereka memang tak membawa mobil saat keluar tadi,area cafe tempat Luna bekerja tak jauh dari hotel tersebut.


Epilog


"Sayang kenapa sih,itu Luna belum selesai ngomong" Saat keluar cafe ia sedikit meringis merasakan tangannya yang sakit di cengkram Haris.


"Kamu jangan terlalu percaya sama orang asing sayang" Haris tak mau berhenti melangkah.


"Tapi dia jujur aku yakin.Perempuan mana yang menceritakan kehidupannya pada orang asing kalau bukan karena dia mengenalku,kan? aku melihat kejujuran di matanya sayang" Divya masih tak mau mendengarkan alasan Haris.


"Kau itu terlalu perasa bagaimana kalau dia memanfaatkan kelemahan mu itu sayang"


"Lihat tadi dia meminta mu menyampaikan pesannya pada si brengsek itu,apa dia tidak bisa menghubunginya langsung,Cih !! "

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia itu penipu,Hah?!"


Oh ya ampun sayang. Hanya bisa pasrah berdebat dengan Tuan Haris memang tak pernah bisa menang.


__ADS_2