Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Tuan Haris Santoso


__ADS_3

Malam itu sepeninggal Rudi yang baru saja pulang kerumahnya,


Tuan muda Haris santoso pergi ke ruang kerja .


Tidak lama kemudian ia keluar lagi dan masuk kedalam kamarnya.


Mandi lalu berganti pakaian.


Haris merebahkan tubuhnya di atas sofa,menyangga kepala dengan kedua tangannya.


Pikiran nya menerawang entah kemana.


Beberapa detik kemudian suara pintu diketuk menyadarkan lamunan nya,Mbok Jum pembantu rumah yang datang.


"Permisi Tuan,Tuan tidak turun untuk makan malam? Nyonya sudah menunggu Tuan" Mbok Jum yang datang memanggil Haris untuk makan malam.


"Papa ada Mbok?"


Haris yang kini mengubah posisi tidurnya bersandar di pinggiran sofa malah menanyakan sang Ayah.


"Tuan besar masih belum datang, Tuan"


Jawab mbok Jum sejujurnya.


"Kemana dia,mbok ? Tidak biasanya Papa pergi sendiri "


Haris bertanya heran,mengapa Ayah nya pergi tanpa memberi tahu dirinya.


Lebih-lebih lagi kesibukan apa yang ia lakukan?


Jika urusan pekerjaan,harusnya dia lah yang paling tahu lebih dulu,bukankah tanggung jawab perusahaan sudah berada di pundaknya.


Santoso tinggal ongkang kaki menikmati masa tuanya.


"Si Mbok tidak tahu, Tuan"


" Ya sudah,nanti ku coba telpon Papa"


Haris bangun dari posisinya tertidur, meraih hp di atas meja.


"Ah iya mbok,bawakan makan malam kesini saja,aku mau makan malam di kamar"


"Mbok temenin ya?"


"Loh,Nyonya bagaimana ,Tuan?"

__ADS_1


"Biarkan dia makan sendiri,biar tahu rasanya ditinggalkan"


Haris menjawab acuh.


"Tuan.."


Mbok Jum terlihat tak senang mendengar Tuannya mengucapkan kalimat seperti itu.


" Bagaimana pun,Nyonya ibu nya Tuan"


"Tolong mbok"


Haris sudah malas membahas hal yang sama setiap hari nya.


"Baiklah "


Dan Mbok Jum memang tak pernah bisa membantah jika Haris sudah bersikap seperti itu.


Mbok Jum keluar dari kamar Haris dan kembali lagi dengan membawa makan malamnya.


"Mbok belum makan malam,kan?"


Tanya Haris ketika makanan sudah tersaji di atas meja.


"Sudah Tuan"


"Jangan bohong !"


Haris bukan orang yang mudah saja percaya,ia tahu betul bagaimana mbok jum selalu merasa tidak enak jika ia mengajaknya makan bersama.


"Ayo makan,temani Haris"


Haris yang memang manja hanya pada mbok Jum itu memaksa,disodorkannya piring dan mengisi nya dengan beberapa makanan.


"Tapi ,tuan...?"


Pembantu yang hampir renta itu masih berusaha menolak


"Panggil aku ,Nak ! Seperti biasa.Bukankah mbok yang bilang, kalau aku sudah seperti anakmu?"


Protes Haris menuntut kepada pembantu sekaligus pengasuhnya sejak ia kecil.


"Maaf,iya Nak"


Selalu,

__ADS_1


mbok Jum tersenyum haru.Selalu seperti itu setiap ia di perlakukan layaknya orangtua sendiri oleh Haris.


Akhirnya Haris makan malam ditemani Mbok Jum.


Haris yang memang lebih dekat dengan mbok Jum pembantu nya itu,dibanding dengan ibunya sendiri.


Terlebih wanita yang melahirkannya itu sudah tak perduli padanya.


Sejak kesuksesan yang di capai tuan Santoso,Nyonya Santoso memang seakan lupa diri.Yang ia lakukan hanya terus berfoya-foya saja.


Haris selalu lebih nyaman menceritakan hal apapun pa mbok Jum.


Seperti malam ini,setelah selesai makan malam mereka asik mengobrol.


"Mbok kau ingat gadis yang ku ceritakan tempo hari?"


Tanya Haris membuka perbincangan mereka.


"Dia tadi datang menghadiri rapat di Kantor ku,Memberikan persentase yang luar biasa"


Mulai membahas wanita yang mencuri perhatiannya.


Mbok tersenyum melihat Haris yang kembali senang menceritakan seorang gadis,setelah sekian lama.


Seperti biasa Mbok menemani dan mendengarkan curahan hati Tuannya dengan senang hati.Ia yang mengasuh Haris sejak usia 9tahun memang sudah menganggapnya seperti anak sendiri,begitupun sebaliknya Haris menganggap mbok Jum seperti ibunya sendiri,sering mimanta mbok Jum mengusap kepalanya,seperti bocah yang merindukan belaian seorang ibu.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dua jam sudah mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol .


Haris menyuruh Mbok Jum pergi beristirahat karena malam sudah mulai larut.


Mbok Jum pun pamit pergi ke kamarnya.


Ya Haris memang menceritakan kejadian hari itu.


Ia nampak tersenyum mengingat insiden di pinggir jalan saat pertama kali bertemu Divya,gadis yang justru datang ke kafe untuk menemui nya,sebagai utusan dari perusahaan Wiryawan group


Haris tak menyangka jika kali ini ia justru tertarik dengan tawaran kerjasama yang diajukan pihak perusahaan tempat dimana Divya bekerja.


Gadis itu berhasil menyakinkannya


walaupun tidak sepenuhnya tepat.


Bukan,bukan meyakinkan tapi sedikit mengancam.


Bagaimana mungkin ada gadis yang berani mengancam seorang Haris Santoso kalau dia tidak punya cukup keberanian.

__ADS_1


Itulah hal yang membuat Haris semakin penasaran dan merasa tertantang untuk terus berurusan dengan gadis itu.


__ADS_2