
"Istri ?"
Terbesit pertanyaan itu di kepala Haris.
Kapan Dimas menikah ?
Dan kenapa tidak ada binar kebahagiaan di wajahnya.
"Iya sayang jadi Dimas ini sudah menikah loh ! Baru tiga bulan lalu "
Divya menjelaskan jika adiknya sudah resmi menikahi gadis bernama Adara.
Kurang lebih sudah berjalan tiga bulan.
Benar-benar banyak yang Haris lewatkan.Ia begitu tidak mengetahui hal apapun setelah koma selama empat tahun lamanya.
Mungkin jika orang lain yang mengalami ini,mereka sudah pasrah akan takdir.Namun Divya percaya Haris akan kembali suatu saat nanti.
Penantian panjangnya tidak sia-sia sekarang,pada kenyataannya Haris memang kembali pulih.
Bagi Haris menghadapi kenyataan jika Fram sudah tiada menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Tuhan.
Tuhan yang menentukan segalanya.
Ia yang hampir sekarat justru kembali sehat sementara Om Fram harus pergi dengan cara yang begitu cepat dan tidak terduga.
"Oh iya sayang bukan cuman itu~"
Divya kembali berbinar memulai ceritanya.
Kali ini mereka berdua sudah ada di dalam satu mobil,sementara orangtuanya berada di mobil lain bersama Marisa yang bersikukuh ingin pulang dengan Oma dan Opa-nya.
Di parkiran tadi ia berpisah dengan bibi Rita,Dimas dan Adara adik iparnya.Setelah sebelumnya mereka juga menyempatkan diri mengunjungi makam Marisa atau Clarisa yang tak lain adalah kakak kandung Divya yang hilang.Disana Rahma yang paling berderai airmata menyesali segala kesalahannya.
Lalu bagaimana wanita ini bisa lolos dari jerat hukum setelah semua perbuatannya ?
Apalagi jika bukan karena kemurahan hati seorang menantu seperti Divya.
Benar jika Haris selalu menyebutnya bidadari,bahkan Divya lebih seperti malaikat.
"~Ameera juga udah mau tunangan setelah lulus kuliah tahun ini"
"Oh ya ! Sama siapa?"
tanya Haris antusias.
"Sama Erik lah siapa lagi" jawab Divya dengan senyum kebahagiaan.
"Jadi juga Ameera sama dia"
"Heum,sweet ya Erik segitunya nungguin Ameera"
ujar Divya membanggakan sikap Erik yang sabar menunggu Ameera sampai sekarang ini.
Erik sudah lama lulus kuliah dan sekarang ia bekerja sebagai pimpinan anak cabang perusahaan Fram yang kini di bawah kendali Rudi.
"Lebih sweet lagi tuh kita "
Ucapan Haris yang membuat wanita di sampingnya mengerutkan dahi.
"Kita "
tunjuk Divya mengarah kepada dirinya dan Haris.
"Iya kita"
"Gini ya sayang~"
Sekilas Haris melirik istrinya lalu memfokuskan diri pada kemudi dan memulai lagi kalimatnya.
"~Kita ini ternyata pernah di pertemukan dan bahkan di jodohkan saat kita masih sama-sama kecil"
__ADS_1
"Terus kita ketemu lagi,selalu di moment yang salah.Pertama kamu ingat dimana?"
Pertama Divya ingat bertemu Haris di pinggir jalan dengan banyak genangan air,ia terciprat saat kendaraan Haris melaju cepat dan akhirnya Divya marah-marah.
"Ya ! Di pinggir jalan,dengan genangan air.Aku bertemu wanita aneh,galak,tapi~ cantik"
"Tapi juga bodoh,iya kan ? Mau ngomong itu kan sebenernya? Ngaku aja !"
ketus Divya melipat tangan di depan dada dan berpura-pura kesal.
Sementara
Haris malah terkekeh geli.
Ia bahkan masih ingat saat Divya dengan lagak-nya memarahi dia di pinggir jalan.Matanya tak berkedip sedikitpun memandangnya.
Terpesona.
"Kepedean banget sih,siapa yang terpesona.Enak aja !"
Divya justru tidak mengakui hal itu saat Haris menggodanya.
"Di kafe,kamu datang dengan baju kotor sambil muka di tekuk"
Haris sekarang ini malah tergelak dengan senangnya apalagi melihat wajah Divya yang kini memerah .
"Kamu kemanain uangnya?"
Uang yang dimaksud adalah uang ganti rugi baju Divya yang kotor saat itu.
"Uang ? "
"Oh itu ! Aku bagiin ke pengemis yang aku temui di jalan.Aku masukin kotak amal juga atas nama kamu"
Jelas Divya sejujurnya.Ia memang tidak memakai sedikitpun uang itu untuk kepentingan pribadinya.
"Waw ! Gak salah ya,aku nikahin kamu sayang"
"Eum"
"Kamu baik" jelas Haris.
Lalu ia meraih jemari Divya dan menciumi punggung tangannya.
Bibir Divya pun tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Kenapa jadi bahas ini,udah lalu kan,gak penting !"
ucap Divya.
"Penting dong kan kenangan kita"
timpal Haris.
"Kenangan buruk"
Menurut Divya banyak kenangan buruk yang tak pantas diingat saat itu.Terlalu menyakitkan,walaupun Divya juga masih tidak menyangka jika akhirnya kini mereka bahagia.
"Loh kok ?!"
"Banyak kenangan yang menyakitkan"
"Tapi,apa sekarang kamu bahagia?"
Kebahagiaan wanita di sampingnya lah yang Haris pertanyakan,karena jika tidak ia akan berusaha apapun itu untuk menebus segala kekurangan di masa lalu.
"Tentu saja ! Tentu saja aku bahagia sayang,terlebih sudah ada Ica di tengah-tengah kita"
"Dan sudah waktunya dia punya adik,iya kan?"
Lagi-lagi Haris menggodanya.
__ADS_1
Membuat Divya berdesis kesal dan malu.Namun sudut bibirnya sedikit tertarik seakan menahan tawa.
Ya memang sudah waktunya jika mereka kembali di percaya untuk memiliki momongan lagi.
Sepanjang perjalanan Haris sebenarnya ingin menanyakan kronologi pernikahan adik iparnya yaitu Dimas.Namun,Haris mengurungkan diri karena merasa ini momentnya justru kurang tepat.
Biarkan Divya menceritakan hal itu dengan sendirinya.
Setelah beberapa menit berlalu kini mobil mereka sudah memasuki area Jakarta.Tak ada yang berbeda dari jalanan disana,tetap sama.Ramai dan selalu riuh dengan suara dentuman klakson yang memekikan telinga.
"Ini kita mau kemana sayang?"
Saat ini Divya mendapati mobil mereka melaju bukan mengarah ke rumah.
"Kita ke kantor dulu sebentar ya"
Divya tahu ini memang mengarah ke kantor,ia melirik jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Mau ngapain ?"
Ia hanya mendapati Haris tersenyum,entah apa yang dia pikirkan.
Tanpa bertanya lagi Divya memfokuskan diri mendial nomor Mama Rahma,mengiriminya pesan WhatsApp.
Mengatakan jika dirinya dan Haris mungkin akan pulang terlambat.
Setelah mendapatkan balasan dari sang mertua ia pun menyimpan kembali ponsel itu ke dalam tas-nya.
"WhatsApp Mama?"
"Eum" Divya mengangguk.
"Aku mau lihat hasih kerja kamu selama aku istirahat kemarin"
Divya menyipitkan mata demi mendengar Haris mengatakan kata 'Istirahat'.Selama itu !
Ia lantas tersenyum .
"Aku benar,kan. Istirahat"
Haris pun terkekeh.
Mengangguk saja tanpa mengiyakan.Terserah kata mu tuan muda.
Lantas Divya berpikir apa pekerjaannya akan mendapat kritikan atau pujian.
Selama Haris koma,Rudi juga tak lagi menjadi sekretarisnya.Hanya membantu sedikit-sedikit jika diperlukan.
Lantas siapa orang di belakang Divya yang membantu setiap pekerjaannya.
Wanita itu tak mungkin mengerjakan semuanya sendiri.
"Aku dengar sekretaris mu baru"
"Heum"
Divya menjawab sekenanya saja.
"Siapa ?"
Kali ini mereka sudah berada di dalam lift.
"Aku sudah hubungi dia tadi,dan seperti -nya dia juga sudah ada disini,mobilnya ada di depan tadi" jelas Divya.
"Oh ya ! Siapa ? Laki-laki atau perempuan"
tanya Haris penasaran,mereka sudah berjalan beriringan menuju ruangan kerja Haris.
"Cowok !"
Haris tiba-tiba saja berhenti,ia berbalik menatap Divya.
__ADS_1
"Ganteng pula"
Sambung Divya menahan senyum melihat bola mata Haris yang langsung membulat sempurna.