
Membuat laki-laki di hadapannya nyaris tak dapat menelan salivanya sendiri.
Hal yang tak pernah Divya lakukan adalah bersikap agresif.
"Jangan salahkan aku kalau aku hilang kendali saat ini sayang !"
Tangan Haris juga ikut melingkar di pinggang Divya sekarang.
"Sayang !"
"Apa kau sedang merindukan Marisa,sekarang?"
Untuk kedua kalinya Divya mengulang pertanyaan.
"Eum...Tidak !"
Haris menjawab tegas meski sedikit gugup karena sejujurnya.Ya !!!
Dia melihat Marisa di diri Divya saat ini.
Percayalah jika Divya saat ini sedang menatapnya tak percaya.
Tanpa sepatah kata pun Divya memulai aksi,tangannya menyusuri dada bidang Haris dengan sensual.
Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Begini ,kalau kau tidak percaya sayang"
Haris melepas tautan di pinggang Divya,satu tangannya meraih ponsel di atas nakas.
Setelah beberapa saat menscroll layar datar itu ia memperlihatkan sesuatu.
"Lihat ini !"
Menunjukkan foto seorang gadis dalam balutan dress yang sama persis.
"Ini ~ "
"Marisa ?"
"Iya sayang,maaf karna aku masih menyimpan fotonya.Tapi itu kau lihat baju yang kalian pakai itu hampir mirip.
Tatanan rambut,serta riasan di wajahmu
juga sama"
"Lalu ?"
Divya menatap datar,lalu ? Apa itu bisa dijadikan alasanmu memanggilku Marisa,begitu? Jelas-jelas dia sudah tiada,kan?
"Foto ini aku ambil saat Anniv pertama aku dan Marisa,dan hari itu jatuh di hari yang sama yaitu hari ini"
"Dan karena itu kau mengajakku makan malam di luar hari ini,begitu?"
"Untuk mengenang dia,Iya?"
Divya mencebik,berpura-pura kesal.
"Sayang bukan,bukan begitu.Kemarin saat ulangtahun mu aku belum mengajakmu makan di luar,jadi apa salahnya hari ini.Iya kan?"
Menangkup kedua sisi wajah Divya ,meyakinkan niatnya samata-mata memang karena dirinya bukan Marisa.
Kenangan itu hanya kebetulan lewat,saat melihat baju yang sama.Itu saja.
"Sayang percayalah ! Apa kau cemburu?"
"Cemburu?"
"Tidak !"
Divya menjawab cepat,sejujurnya ia memang tidak lagi mau mempermasalahkan hal itu,tidak ada gunanya membuat keributan hanya karena orang yang bahkan sudah meninggal .
"Lalu kenapa?"
"Aku akan menjadi Marisa untuk hari ini kalau kau mau,sayang."
Kali ini Divya memeluk Haris,menyandarkan wajahnya di dada bidang itu,tempat yang selalu membuatnya merasa nyaman.
"Tidak ! Untuk apa sayang,aku lebih suka kau sebagai Divya istriku"
Haris membuat jarak demi kembali menatap manik Divya.Mata indah yang selalu bisa membuatnya tenang.
__ADS_1
Perlahan senyum di wajahnya kembali mengembang.
"Ok ! Kalau begitu kita jadi pergi?"
Dengan satu tarikan nafas Divya sedikit m****** kedua sisi handuk kimono Haris lalu melepas pelukannya.
"Kau bahkan tidak memberiku kesempatan hanya untuk memakai baju,bagaimana kita mau pergi kalau begini"
"Kau membuatku hilang kendali,sayang"
Tangan Haris sudah meraih tengkuk sang istri.
Namun,baru saja ia memiringkan wajahnya hendak menyentuh bibir Divya yang sudah berpoles lipstik berwarna nude,tiba-tiba tangan Divya terangkat menghadang laju bibirnya.
"Mau apa HAH? Mau merusak dandananku, iya ?!"
"Sayang ah,sekali saja"
Jari tangan Haris terangkat.
"Tidak mau !"
Menggelengkan kepala cepat.
"Pakai baju sana !"
Sedikit mendorong Haris sambil terkekeh.
"Kau harus tanggungjawab ini"
Bicara sambil berjalan menuju almari pakaian.
"Apa ?"
"Aku masuk angin gara-gara kau dari tadi menahanku "
"Baiklah baiklah tuanku nanti aku tanggungjawab tenang saja"
Divya tergelak berjalan lalu duduk di atas sofa menunggu Haris bersiap di sana.
Waktu sudah merangsek masuk pukul 07 lebih 15menit malam hari.
Divya bersama Haris sudah menuruni anak tangga.
"Loh Pa,sendirian aja sih ?"
Tanya Divya begitu melihat Papa mertuanya tengah asik menonton acara
berita seorang diri.
"Mama mana,Pa ?"
Kali ini Haris juga ikut mempertanyakan dimana keberadaa ibunya itu.
"Mama mu lagi kurang enak badan,Haris"
"Kalian mau kemana?"
Dengan tersenyum Haris mengusap tengkuknya.
"Kita mau pacaran Pa"
Disambut cubitan Divya di perutnya.
"Kamu ini !" Tuan Santoso terkekeh.
"lihat Mama dulu gih,mana tahu dia senang kalau kamu juga perhatian pada Mama kalian"
"Ok Pap !"
"Sayang aku lihat Mama dulu ya"
"Ikut !" Divya pun mengikuti Haris ke kamar Mama Rahma.
Di kamar Mama terlihat memejamkan mata,meringkuk sendiri di atas tempat tidurnya.
"Hai Mam ?"
Haris merangsek masuk karena keadaan pintu yang memang tidak di kunci.
"Mama tidur?"
__ADS_1
Haris sedikit menunduk memastikan jika Mama Rahma benar-benar tertidur atau hanya sedang memejamkan mata saja.
"Mama,mama !".
Kali ini Divya juga memanggil Mama,menpelkan punggung tangannya di kening Rahma.
Suhu tubuhnya memang agak sedikit naik.
Rahma menggeliat merasakan afa sentuhan di kepalanya,ia mengerjap kecil.Lalu...
"Aaaa ! " Rahma menjerit.
"Marisa !!"
Teriak Rahma ketika Divya menyentuh bahunya.
"Mam,ini Divya bukan Marisa"
Haris mencoba menenangkan Mama yang masih terduduk ketakutan sambil menutupi wajahnya dengan selimut.
"Marisa !!"
"Dia Marisa" Rahma masih bicara sambil menunjuk-nunjuk Divya menantunya.
"Ini aku mah Divya,Mama tenang ya"
Bahkan teriakan Rahma tadi mengundang Tuan Santoso datang ke kamar itu,dengan tergesa ia melempar pertanyaan.
"Ini Pap,Mama ngira Divya tuh Marisa"
"Kita gak usah pergi aja ya ,kasian Mama".
Divya meminta Haris mengambil keputusan.
Rasanya tidak mungkin jika harus meninggalkan Mama dalam kondisi seperti ini,sementara mereka harus keluar hanya untuk makan malam.
"Kalian pergi aja gak apa-apa.Mama cuman kaget"
Rahma yang mulai sadar pun mengerti jika anak dan menantunya hendak keluar.Di lihat dari pakaian mereka berdua.
"Tapi Ma,badan Mama panas gitu loh,kita ke dokter ya !" Bujuk Divya.
"Gak usah sayang,kalian kalau mau pergi,pergi aja Mama gak apa-apa,beneran !"
.Sekali lagi Rahma meyakinkan mereka.
"Apa gak sebaiknya Mama periksa ke dokter,badannya panas loh"
Ucap Divya masih tak berhenti mengkhawatirkan Mama mertuanya.
"Atau panggil dokter Intan gitu"
Usul Divya,ia menyarankan memanggil dokter Intan.
"Iya kau benar"
"Sebentar,aku telpon Intan dulu ya Mam " Ucap Haris sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Mama sudah makan ?"
Sepeninggal Haris yang tengah menghubungi dokter Intan,Divya duduk di samping Mama.
"Belum,sayang" Jawab Mama dengan senyum kecil menghiasi wajah lesunya.
"Loh ! Kok Mama belum makan sih,Divya ambilkan makanan ya Ma ? Mama harus makan nanti tambah lemes kalau gak diisi apa-apa perutnya"
Melihat Mama tersenyum pertanda ia setuju,Divya beranjak hendak pergi ke dapur namun Santoso menahannya.
"Kamu di sini saja tamani Mama,biar Papa yang panggil pelayan bawakan makanan Mama ,Ya "
Divya mengangguk,tidak berselang lama mbok Jum dan satu pelayan lainnya membawa bubur serta alat kompres.
"Papa sudah suruh mbok Jum buatkan bubur tadi tapi Mama mu ini bandel,dia tidak mau makan"
Ucap Santoso kembali duduk di sofa kamar.
"Mungkin lagi kolokan pah pengen disuapi sama menantunya"
Timpal Haris yang baru saja masuk kembali ke kamar orangtuanya setelah menghubungi dokter Intan.
"Intan sudah on the way kesini,Mama makan yang banyak.Mau Haris yang suapi?"
__ADS_1
"Tidak usah biar Divya saja ya Ma?"
Divya menjawab cepat,tak mau posisinya terkalahkan oleh Haris.