
Epilog
Haris mengintip dari balik pintu kamar mandi,saat Divya menatap foto-foto koleksi Haris,foto gadis bernama Marisa.
Haris juga melihat Divya menangis,
Namun ia tidak keluar,justru tetap berdiam sembari memerhatikan Divya.
''Untuk itu aku melarang mu datang ketempat ini,bodoh.karena aku tahu kau pasti sakit hati.dan aku...Aku belum bisa membuang semua kenangan itu.."Gumam Haris.
***
Divya keluar dari ruang Galeri dengan sedih,langkahnya gontay menuju pintu.
sekilas ia melirik sebuah lukisan yang sepertinya masih belum selesai, menghadap ke arah Dinding.
Hatinya tergerak ingin melihat namun di urungkan nya.
"Lukisan apa itu ya"Divya bertanya-tanya dalam hatinya.ia melangkah masuk ke dalam kamar."Mungkin lukisan gadis itu lagi" wajah cemberutnya jelas terpantul di depan cermin.
Malam hari Haris keluar setelah makan malam.
ia pergi sendiri membawa mobilnya,tanpa memberi tahu siapa pun. Hampir Dini hari ia baru kembali dalam keadaan mabuk berat.
dengan di antar Rudi.
malam itu Rudi menyalahkan Divya atas kejadian ini.sudah sejak lama Haris tak pernah menyentuh lagi minuman beralkohol,apalagi mabuk sampai separah itu.
__ADS_1
Rudi menanyakan alasannya sampai seperti itu pada haris,Namun ia hanya menjawabnya asal.Ngelantur entah apa yang dia katakan.
Rudi meyakini bahwa sikap haris seperti itu karena Divya membuat masalah.
Untung saja Tuan dan Nyonya Santoso tidak mengetahuinya,mereka sudah tidur .
dan tidak ada yang mendengar kedatangan Haris.
Divya sendiri sebenarnya sudah tidur.Namun Rudi menelponnya memberi kabar tentang keadaaan Haris Suaminya.
***
Keesokkan harinya seperti biasa Divya sudah bersiap-siap berangkat ke kantor.
Ia langsung berangkat tanpa menyempatkan diri untuk sarapan.
Sudah terlambat tidak ada waktu untuk sarapan,pagi ini CEO baru akan datang.
Semua ini karena Haris mengerjainya tadi,minta gonta ganti kemeja ,alasannya tidak cocok yang ini lah itu lah,entah berapa kemeja teronggok begitu saja di keranjang baju.bahkan aku tak sempat membereskannya kembali.pikir Divya.
Ia turun pamit kepada mertuanya,lalu pergi menaiki taksi online.
***
Divya benar-benar terlambat,saat dia datang ke kantor,beberapa staf sudah tidak ada di tempat nya.
Hanya meninggalkan meja dan beberapa berkas sisa pekerjaan mereka.
__ADS_1
Tatapan para Office boy dan office girls
membuatnya semakin gugup.
dengan cepat ia melangkah masuk kedalam ruangannya,mengambil berkas yang sudah sejak hari sabtu ia siapkan.
Meluncur menuju tempat rapat berlangsung.
Astaga bagaimana ini.Divya merasa gelisah menunggu pintu lift terbuka.
sampai di depan pintu ruanga,ia masuk begitu saja tanpa mengetuk .
"Selamat pagi,maaf saya terlambat" Seranya setelah pintu terbuka.
Matanya langsung tertuju pada sosok Pria yang terduduk di singgasana kekuasaannya.Kursi Direktur utama.
"Kau...!!!" bibir Divya nampak berucap pelan,ia melongo kaget,bahkan berkas yang di genggamnya pun terjatuh begitu saja.
Sosok Pria yang tidak asing baginya berdiri menatap.
Meski bertahun-tahun tidak pernah bertemu namun Divya ingat betul dengan wajah itu.
ia tak mungkin salah.
Demi menyembunyikan wajah kaget nya, ia kembali memungut berkas yang berserak di lantai.
Satu berkas teronggok tepat didepan kaki Pria yang kini menjadi CEO barunya.
__ADS_1
Ia ragu hendak mengambil berkas itu.
sampai Akhirnya Pria itu membungkuk,mengambil berkas dan menyerahkan nya ke tangan Divya.