Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 23


__ADS_3

Sementara itu Marisa datang ke parkiran menelisik seluruh penjuru di mana deretan motor terparkir di sana. Tidak ada kuda besi milik Fadlan di tempat ini. Marisa menarik nafas berat,dengan langkah gontay ia berjalan menuju mobilnya. Disaat bersamaan petugas parkir yang biasa bertugas di tempat itu menghampirinya.


" Mba dokter cari pacarnya ya? " ucap pria itu saat beberapa langkah dari mobil milik Marisa.


Begitu seringnya Marisa dan Fadlan datang ke cafe ini sampai-sampai petugas parkir saja hafal.Entah Marisa datang untuk janjian bertemu atau keduanya datang bersama-sama.


Memakai mobil Marisa atau berboncengan menggunakan motor Fadlan layaknya sepasang kekasih.


"Ah iya mas," Marisa tersenyum malu. Mendengar pria petugas itu menyapanya apalagi menyebut Fadlan itu sebagai kekasihnya.


"Eum ,mas lihat dia datang?" tanyanya kemudian.


Pria yang tengah bersandar pada tiang besi sambil mengibas-ngibaskan lembaran uang receh di tangannya itupun terlihat berpikir sebelum lantas menjawab pertanyaan Marisa.


"Barusan aja pergi mba," jawab pria itu yakin,ia memang hanya mengenal satu laki-laki yang biasa bersama dokter cantik itu. Marisa tidak pernah datang dengan orang lain lagi selain Fadlan karenanya ia yakin laki-laki yang baru saja meninggalkan pelataran cafe lah yang sedang dicari wanita di hadapannya ini.


"Mas yakin itu Fadlan ,yang biasa kesini bareng saya?" tanya Marisa meyakinkan.


"Iya mba dokter ,yakin. Mana mungkin saya keliru,mba sama pacar mba kan sering kesini."


Marisa tersenyum tipis,ia sekarang tahu jika Fadlan memang datang ke tempat ini. Lalu mengapa dia pergi lagi. Dia mendengar percakapannya dengan Anita,lantas mengapa?


Marisa semakin dibuat bingung.


" Mba dokter," Marisa baru saja hendak membuka pintu mobilnya saat pria itu kembali memanggilnya.


" Kekasih mba membuang sesuatu di tempat sampah."ucapnya lagi menunjuk tempat sampah di sudut kanan parkiran.

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya apapun lagi Marisa bergegas mendekati tong besar yang petugas parkir tunjukkan. Haruskah Marisa menyentuh tempat kotor itu? Apa pentingnya barang yang Fadlan buang. Kalau dia saja tidak menginginkannya,lalu untuk apa Marisa penasaran.


Melihat Marisa yang melangkah ragu,pria itu lantas berinisiatif mengambilkannya.


"Saya tidak akan memberi tahu mba dokter kalau ini tidak berharga." dia menunjukkan karangan bunga mawar dan sebuah bingkisan.


Marisa mengambilnya dan mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan tempat itu dan mencari keberadaan Fadlan.


Mencarinya ke seluruh tempat yang biasa pemuda itu datangi, taman,warung makan pinggir jalan. Kedai kopi,tempat tongkrongan, bahkan arena balap. Fadlan biasa latihan balap di jam-jam setelah makan siang seperti sekarang ini. Namun,apa yang Marisa dapatkan,nihil tak ada dirinya di semua tempat itu. Semua teman- temannya pun tidak ada yang mengetahui keberadaannya,sudah satu minggu pula Fadlan tidak masuk kuliah.


Beberapa kali Marisa mencoba menelpon Fadlan, nomor ponselnya tak dapat dihubungi. Apa dia kembali ke pesantren? Marisa pun memutuskan mencarinya di rumah sewa Fadlan terlebih dahulu,sebelum ia ke pesantren. Entah ada rasa bersalah yang begitu kuat di hati Marisa,mengingat kepergian Fadlan dari cafe tadi bisa jadi karena dia mendengar dirinya yang akan menikah dengan Reno.


"Perasaan apa yang aku rasakan tuhan,mengapa aku begitu takut jauh dari dia.Fadlan,kenapa kamu pergi.Dan apa pula maksud dari karangan bunga mawar ini?" gumam Marisa melirik karangan bunga itu sekilas,tangan,kaki dan matanya berusaha mengendalikan laju kendaraan,dengan terus bertanya-tanya.


Sesampainya Marisa di depan rumah sewa Fadlan ia memanggilnya dari luar pagar. Tak ada sahutan.


Memanggilnya kembali namun masih tidak mendapat jawaban. Sampai akhirnya seorang tetangga mengatakan jika Fadlan baru saja meninggalkan rumah sewa itu, mengendarai motor dan membawa ransel besar.


Sudah dapat Marisa pastikan jika Fadlan memang pulang ke pesantren. Tanpa banyak berpikir lagi ia pun segera meluncur, melajukan kembali kendaraan roda empatnya menyusuri ramainya jalanan Ibukota.


***


Harapan besar tengah menyelimuti keluarga besar Haris dan calon besannya. Rencana perjodohan Marisa dan Reno sudah akan dipastikan. Haris di sinilah ia yang terlihat paling antusias. Memiliki menantu penurut dan cerdas seperti Reno itu sungguh suatu kebanggaan.


Dua puluh delapan tahun berlalu akankah sejarah perjodohan kembali terulang, entah. Yang paling jelas sekarang hati Marisa saja masih plin plan. Ia tidak pernah serius menerima Reno. Semua ia lakukan atas dasar rasa kecewanya kepada Hazlan.


Hazlan ataukah Fadlan. Namun, Reno di sini ia berdiri sebagai kandidat kuat pemenang diri Marisa. Lalu kemanakah Ia akan melabuhkan perasaannya? Marisa masih bimbang. Siapa yang telah mencuri hatinya?

__ADS_1


***


Pesantren milik ustadt Mahesa Yunus sudah di depan mata, ingin Marisa segera masuk ke dalamnya ,Namun, ia ragu. Keadaannya yang tidak memakai kerudung lagi saat ini ,bahkan ia lupa membawa selendang. Bagaimana Marisa akan masuk menemui Ummi Nara dan Abi Yunus. Bertemu dengannya dengan keadaan seperti ini, sungguh tidak mungkin.


Marisa masih tertegun di dalam mobilnya, sesekali ia melihat mawar merah yang semerbak mengeluarkan aroma lembutnya. Ada kotak bingkisan juga di sana, ia mengabilnya, perlahan membukanya dan, ya itulah yang Marisa butuhkan, ada kerudung di dalamnya.


Fadlan menghadiahkan itu padanya? Luar biasa. Sungguh kerudung putih itu sangat indah, ada kartu ucapan pula di dalamnya.


Aku ingin kau memakainya lagi suatu hari nanti bu dokter cantik. Atau para pasien cilikmu akan terheran melihat rambut indahmu yang kembali terurai tanpa penghalang. Fadlan-mu.


" Fadlan-ku, " Marisa tersenyum tipis.


Mengapa dia tahu apa yang Marisa butuhkan saat ini,ia pun segera mamakainya di depan cermin dashboard , bersiap dengan riasan naturalnya. Marisa yang memang memakai celana kerja panjang ,dan Cardigan putih hanya membutuhkan kerudung untuk pelengkap penampilannya. Setelah selesai ia pun keluar dengan hembusan nafas kasar,berusaha meredam gemuruh di dalam benaknya.


Langkah yakinnya benar membawanya ke tempat di mana ada kendaraan Fadlan di sana, pemuda itu ada di tempat ini. Marisa masuk dan menyambut setiap sapaan dari para santri dan santriwati dengan ramah. Salah satu dari santri cilik itu menghampirinya.


"Kakak dokter cantik yang waktu itu nolongin aku, ya? Kakak cari kak Fadlan, ayo dia ada di taman belakang. "


ucapnya tanpa diminta, anak laki-laki itu memang anak yang empat tahun lalu Marisa tolong,sekarang ia sudah besar dan masih mengingat Marisa meski empat tahun anak itu baru kembali ke pesantren ,sejak ia sakit orang tuanya memutuskan untuk membawanya kembali ke rumah.


"Kamu masuk pesantren lagi? " tanya Marisa di tengah perjalanannya menuju taman belakang.


"Iya kak, kata bunda aku, aku udah boleh kesini lagi,aku udah sembuh. Dokter juga bilang begitu. "


"Bunda titip salam buat kakak dokter, katanya aku harus sampaikan kalau bertemu denganmu. " imbuhnya.


"Oh ya, Waalaikum salam, terimakasih. Siapa nama mu kakak lupa ?"

__ADS_1


__ADS_2