
Sebenarnya masih banyak yang ingin Divya tanyakan pada Mbok Jum.
Petang itu.
Siapa Marisa dan kemana dia sekarang.
Kalau tuan Haris sangat-sangat mencintainya,bukankah seharusnya dia memperjuangkan cintanya itu. Meskipun mamanya menolak Marisa, toh pada akhirnya tetap sama seperti keadaannya saat ini. Ia menikahi gadis yang sama-sama tidak disukai oleh Rahma.
Mengapa dia lebih memilih menikahi seorang Divya, gadis dari kalangan biasa. Setidaknya jika Haris bersama dengan Marisa, dia akan bahagia.
Lalu kenapa Nyonya juga tidak terlihat marah pada Shila maupun Rudi, jelas-jelas Shila sudah menolak lamaran darinya untuk putranya itu .
Pertanyaan yang entah kapan dan siapa yang akan menjawabnya.
Masih banyak yang ingin Divya ketahui dari laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai suami sahnya.
Namun, semua perbincangannya dengan mbok Jum terhenti ketika terdengar suara deru mobil dari luar rumah. Jelas saja itu Haris yang datang.
Kedatangan Haris mengakhiri percakapan Divya dan Mbok Jum.
Dengan tergopoh pembantu itu menuruni tangga, menyambut kedatangan tuannya.
Di belakangnya,Rudi berjalan mengikuti Haris.
Divya juga turun setelah mbok Jum berdiri di hadapan Haris dan Rudi .
__ADS_1
Divya menuruni tangga, sambil menatap ke arah mereka yang nampak sedang membicarakan sesuatu.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh menit.
"Mbok makan malam sudah siap?" tanya Haris begitu ia sampai di anak tangga pertama, dan melihat mbok Jum turun dari lantai atas.
"Sudah tuan ... ," jawab mbok Jum
"Tuan mau langsung makan?" tanyanya dengan sekilas melirik meja makan yang megah dengan deretan hidangan
di atasnya.
"Tidak, nanti saja saya mau mandi dulu mbok," jelas Haris ia pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Hei, mau kemana?" tanya Haris pada Divya yang sudah berbalik hendak naik kelantai atas.
"Menyiapkan air mandi, kan?" jawab Divya singkat tanpa menoleh.
"Tidak perlu aku sendiri saja yang siapkan," ucap Haris
Heh tumben ... Divya mengernyitkan dahinya, ia menatap Haris yang mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh.
"Rudi, dia mau bicara denganmu," imbuhnyasambil melenggang pergi meninggalkan semua yang ada di lantai bawah.
Divya menatap kepergian Haris dengan tatapan yang tidak biasa.
__ADS_1
Ada senyum tulus yang terukir di bibirnya kali ini.
Entah karena memang Divya mulai membuka hati untuk suaminya itu atau karena percakapan bersama mbok Jum, tadi.
"Kak Rudi mau bicara apa? " tanya Divya heran " Ayo duduk kak ... ," seranya mengajak Rudi duduk di sofa ruang tengah.
"Kakak mau bicara apa sama aku, kak?" Divya mengulang pertanyaan karena kini Rudi hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Rudi tersenyum menanggapi dua kali pertanyaan yang sama terlontar dari mulut adik sepupunya.
"Tidak. Tidak ada yang ingin kakak bicarakan denganmu, itu hanya akal-akalan Haris saja," jawabnya enteng begitu ia membanting tubuhnya di atas sofa.
"O ... ya sudah kalau memang gak ada yang serius. Kirain ada apa. Oh ya, kakak sudah main kerumah paman? Bagaimana keadaan Dimas Sama Ameera?" tanya Divya dengan sekilas melirik punggung Haris hilang tertelan di balik pintu.
"Kemaren memang kakak mampir ke rumah paman. Ameera baik-baik saja, kalau Dimas ... kakak tidak bertemu dengannya, kau belum mengunjungi mereka?" Rudi balik bertanya.
"Akhir pekan kemaren sih sudah, mungkin lusa aku kesana lagi, " jawab Divya. Ia hanya bisa mengunjungi adik-adiknya di hari sabtu setelah pulang kantor karena di hari sabtu Divya tetap masuk kerja setengah hari,
Itu permintaan Haris. Sebab di hari minggu
ia tidak diizinkan keluar rumah, bahkan keluar kamar..
tidakw ada aktivitas yang mereka lakukan sebenarnya. Hanya saja perintah yang mulia Haris tetap harus di patuhi. Begitu kira-kira.
Haris sendiri selalu sibuk di studio mini, di rumahnya. Entah apa yang di lakukan nya.Namun Satu hal yang Divya tahu dari mbok Jum jika Haris piawai melukis dia juga punya hobby fotografi,mungkin itu yang dilakukannya di studio seharian.
__ADS_1