
Hahaha
"Yang benar saja sayang,hah emang iya?"
"Mana bisa begitu,kau bohong ya.Haris tidak mungkin bisa seperti itu"
Pendusta manapun tidak akan tertarik dengan lelucon yang mengatakan jika pria seperti Haris mau meminta maaf,di depan banyak orang.
Hahaha
Mustahil.
"Kenyataannya memang seperti itu,kalau tidak percaya tanya saja Intan,atau kau tanya Divya,dia bahkan merekamnya"
"Wah sulit dipercaya.Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu gak ajak aku sih,aku pengen lihat muka Haris kalau lagi minta maaf kayak gimana ?"
"Pasti lucu"
Lagi,lagi dan lagi Shila di buat terpingkal-pingkal dengan penuturan Rudi sepulang mengantar Divya dari rumah sakit.
Waduh kepengen lihat muka lucu Haris pas minta maaf itu salah satu bagian dari ngidamnya ibu hamil bukan ya?
Semoga saja bukan,kalau iya bisa berabe ini. Rudi sudah mengusap tengkuknya beberapa kali demi mengusir kecemasan.
Bayangkan saja bagaimana repotnya dia memenuhi keinginan sang istri dan si jabang bayi.
Ngidamnya yang aneh-aneh selalu sukses membuat kepala Rudi berdenyut-denyut.
Kemarin saja Rudi terpaksa meninggalkan Haris di rumah sakit sendiri hanya untuk menemui Shila,ia tengah ngidam hal paling tidak masuk akal,yaitu,kepengen mencium aroma tubuh suaminya,Astagfirullah.Hanya karena cinta yang besar yang mungkin bisa membuat Rudi begitu sabar menghadapi makhluk tuhan paling mulia sekaligus menjengkelkan yang disebut perempuan.
Pernah suatu malam,ketika mereka sedang asik melakukan sesi pemanasan di atas ranjang alias foreplay tiba-tiba mual begitu saat mencium wangi sabun dari tubuh Rudi yang baru saja selesai mandi.
"Eumm ...Oek..Oek.Mual sayang "
Shila beberapa kali terlihat seperti hendak muntah,tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya.
"Kamu kenapa sayang?"
Rudi dengan sabar memijat leher bagian belakang istrinya,sambil ia juga meringis menahan ereksi yang belum terpuaskan.
"Kamu mandi pake sabun ya,aku sudah pernah bilang,kan sama kamu sayang, kalau kamu mau nyentuh aku mandinya jangan pake sabun,aku gak suka"
Aneh-aneh saja kan ngidamnya,mandi kok tidak boleh memakai sabun apa rasanya.Lengket dan bau keringat,apalagi setelah pulang bekerja.Padahal dulu Shila paling anti sama yang bau-bau.Dia tipikal paling bersih dan jeli kalau urusan penampilan fisik.Intinya harus rapih dan wangi.
Sedangkan sekarang,apa ibu hamil itu kebalikan dari aslinya sebelum hamil,ya?
Segelintir pertanyaan tidak bermutu itu keluar dari pikiran Rudi.
Dasar ibu hamil jorok.
Malam itu juga akhirnya Rudi bisa memenuhi hasratnya,walaupun dengan terpaksa Shila menutupi hidung dengan selimut.Membayangkannya saja pasti lucu,Making Love dengan wajah separuh tertutup kain penghalang.
Itupun dilakukan dengan durasi yang sangat singkat.
Waw derita mu sungguh luar biasa Tuan Rudi.wkwkwk
__ADS_1
Pernah suatu hari kejadiannya saat itu sama, keduanya sedang asik bercumbu ,Shila tiba-tiba berhasrat ingin makan bakso beranak yang di jual di depan komplek perumahan tempat mereka tinggal mereka.
"Sayang,ini sudah malam mana ada bakso jam segini"
Rudi menunjuk jam dinding dengan tangan kirinya.
"Besok saja ya,kita tidur sekarang.Ok !"
Setelah terdiam untuk beberapa lama.
Akhirnya.
"Eum baiklah,tapi janji besok belikan aku bakso itu"
Akhirnya, Huh.
lanjut lagi yuk.
"Aku janji sayang !" Binar dimata Rudi nyata terlihat,senyum mengembang di bibirnya.
Satu perjuangan yang luar biasa saat bisa menaklukan keegoisan seorang ibu hamil.
****
Segala tuntutan Divya terpenuhi.
Di rumah sakit tempat dimana ia dirawat kemarin,Divya melihat sendiri Haris sang suami yang dikenal gengsi itu berani meminta maaf atas kekeliruannya menggertak dokter,berteriak bahkan menghina.Terutama kepada Intan.
Haris sudah seperti budak cinta yang menuruti setiap perkataan Divya.
Sanggah Haris terus mengelak.
"Harus,pokoknya harus !"
Tak terbantahkan.
"Atau aku tidak mau pulang"
Bahkan Santoso dan Rahma yang kala itu baru datang dari Bali untuk menghadiri acara pembukaan hotel baru mereka,langsung datang ke rumah sakit dan disuguhi tontonan menarik.
Rahma sampai geleng kepala bagaimana gadis ajaib itu mampu menggoyahkan hati keras putranya.
Cinta memang aneh,begitu ia berpikir.Seperti cinta juga yang membuatnya tega dan bersikap kejam di masa lalu.
Rahma memang tidak terlalu suka kepada Divya di awal pernikahan.Gadis itu mengingatkannya kepada almarhumah Marisa,kekasih sang putra,yang dengan tegas ia tolak setelah mengetahui asal usul gadis itu.
"Ok untuk para dokter di rumah sakit ini,saya Haris Santoso mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian.Terutama kamu intan ,Sorry !"
Dengan helaan nafas berat ia memulai kalimatnya.
Permohonan maaf yang diminta Divya saat itu atau ia tidak berkenan pulang jika tidak dituruti.
Mengancam !
"Saya tahu saya salah sudah membentak kalian,bahkan menghina pekerjaan kalian.Sekalian juga terimakasih sudah merawat istri tercinta saya dengan sangat baik.Terimakasih !"
__ADS_1
Dengan tangan terkatup di depan dada ia berucap maaf dan terimakasih.
Merangkul Divya memamerkan jika dia lah wanita paling ia cintai.
"Sama-sama Tuan Haris"
Senyum menahan tawa membuat pipi dokter Intan merona merah.
Ia mewakili para dokter merespon permintaan maaf yang entah tulus ataukah tidak,membalas juga ucapan terimakasih dari pria bucin di hadapannya.
"Itu sudah menjadi tugas kami para dokter"
"Namun,lain kali tolong di jaga sikapmu, Tuan"
Kata-kata terdengar nada ledekan di dalamnya,sambil melirik Divya tersenyum penuh arti.
"Kalau begitu,silahkan Nona sudah bisa pulang hari ini,semoga kami para dokter tidak pernah lagi bertemu dengan pasien atau keluarga pasien seperti anda Tuan"
Intan terkekeh geli,di ikuti gelak tawa dari semua orang terkecuali para dokter lainnya dan suster yang tak berani menyuarakan isi hati mereka karena mungkin terlalu takut,yang akhirnya hanya bisa tersenyum menahan tawa.
"Sialan,kau !"
Menuding Intan
" Lihat sudah ku bilang sayang meminta maaf pada Intan bukan ide yang bagus"
Seakan meminta pembelaan Divya.
"Hahaha...minta maaf itu yang iklas sayang"
Gemas rasanya melihat ekspresi wajah Haris,saking gemasnya ia tak mau kehilangan moment sampai merekam aksi yang dibilang Haris paling memalukan itu.
"Haha Ok ! ok ! Sorry,Ris .Kamu tuh lucu kalau seperti itu, tahu gak ?!
Aku salut sama kamu Divya, hebat !"
Apa-apaan itu aku yang setengah mati menahan gengsi Divya yang di bilang hebat. Mendelik tajam mendengar penuturan Intan.
"Aku benar,kan.Istrimu hebat !"
Mengangkat kedua ibu jari menjawab sorot mata Haris.
"Ya ya kau benar dia memang hebat,luar biasa hebat.Cintaku belahan jiwaku"
"Ooowh,so cute !"
Saat itu riuh gelak tawa pun tercipta kembali,hanya ada Divya, Haris, Santoso, Rahma, Rudi, dan Intan.
Dokter dan suster yang lain sudah keluar untuk tugas masing-masing.
Rudi menutup cerita manis itu,memeluk Shila sampai ia terlelap dalam dekapan hangat.
Mungkin saja besok kamu dan Mama-mu ini akan menemui Divya untuk menanyakan hal ini,saking penasarannya.Benarkan?
Rudi tersenyum.
__ADS_1
Mengusap lembut perut Shila yang mulai membuncit.