
Tanpa Fadlan sadari saat ia keluar dari dalam cafe tersebut ia berpapasan dengan wajah -wajah tidak asing. Hanya saja Fadlan terlalu tersihir oleh perkataan Marisa yang ia dengar di dalam tadi. Hancur dan musnah segala harapannya. Ia pergi begitu saja tanpa mampu lebih dulu menemui wanita itu .
Kedua orang dan satu anak kecil masuk ke dalam cafe itu, saat matanya menangkap dua orang yang tak asing si wanita itupun lantas segera menghampiri.
"Marisa, Anita!! " serunya begitu berdiri tepat di samping meja mereka.
"Hai, ya ampun Shintia apa kabar ? Hendri ! Wah kita kayak mau reunian gini bisa ketemu bareng di sini. " ucap Marisa begitu berbinar bahagia.
"Ini anak kalian? " tanyanya kemudian.
"Iya Cha, ini anak aku Arka namanya. " jawab Shintia menyebut nama anaknya yang kini dalam gendongan Hendri.
Mereka menikah dua bulan setelah pulang dari Puncak,waktu itu. Setelah menikah Hendri memboyong serta Shintia ke kampung halamannya di Jogja. Mereka menetap di sana. Selama ini hubungan mereka terbilang masih dekat, sama-sama masih saling menghubungi lewat telpon atau media sosial.
"Hallo, ganteng ih lucu banget sih, " Anita mengelus pelan dede Arka yang usianya baru sekitar tiga tahunan itu. Pipi gembilnya yang menggemaskan membuat siapapun terhipnotis saat melihatnya.
"Iya dong,kan kayak Papa -nya ." ucap Hendri membanggakan diri.
"Huuh, " riuh terdengar dari ketiga wanita saat Hendri mengucapkan kata-kata itu sambil terkekeh.
"Hei, ayo salim sayang sama tante dokter dan tante~ tantean. " Shintia tergelak.
"Enak aja tante cantik, tahu !" seloroh Anita tidak terima.
"Iya deh tante cantik, yang gagal move-on ," Shintia kembali terkekeh, meledek temannya itu.
"Enak aja, gagal move-on !" Anita memberenggut.
"Habis kamu tuh ngilang kayak setan, gak ada kabar. " dengus Shintia kesal dengan satu temannya ini.
"Ya dan kalian tahu, dia datang-datang masa udah nikah, ngelangkahin
Marisa. Kesel aku tuh! " Marisa mengatakan itu dengan mengangkat tangan Anita yang jarinya tersemat cincin pernikahan.
"Seriosly, waw! " Shintia terperangah tak percaya.
__ADS_1
"Beneran,Nit ?" tanya Hendri sama kagetnya. Anita pun mengangguk mengiyakan apa yang memang terjadi dalam hidupnya selama empat tahun terakhir. Satu tahun pertama terasa begitu berat, dan di tahun berikutnya ia menemukan sosok laki -laki yang berhasil menaklukkan hatinya.
Ia tersenyum bahagia menandakan jika apa yang ia ceritakan memang sebuah kejujuran.
"Dan kalian tahu, bentar lagi ada
yang akan nyusul ke pelaminan lho!! "
ujar Anita melirik Marisa yang tersenyum malu.
" Oh waw, benarkah. Kenapa aku baru tahu, Cha. Serius?" tanya Shintia memastikan.
Marisa hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Icha juga mulai gelisah saat Fadlan yang ia tunggu tak kunjung datang. Beberapa kali ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sesekali juga memeriksa ponselnya. Adakah Fadlan menghubunginya? Di mana dia sekarang? Hati da pikiran Marisa mulai tak sejalan.
"Cha, kamu baik-baik aja ,kan? Aku ngeliatnya kamu gelisah gitu? " tanya Shintia yang mulai menyadari kejanggalan di diri sahabatnya. Senyum yang tadi mengembang lebar, menguap hilang entah kemana.
"Hah, i iya gak apa-apa, aku-aku baik, it's ok! " jawab Marisa gugup.
"Kamu lagi nungguin orang, Cha? " kali ini Hendri yang bertanya, dengan tidak tahu malu ia sudah duduk dan menikmati hidangan kedua sahabat perempuannya.
Dengan lemas Marisa terduduk di kursi tempatnya tadi. Ia terlihat menarik nafas gusar.
"Aku lagi nungguin Fadlan, dia minta aku datang kesini . Katanya ada hal penting yang pengen dia sampaikan ke aku tapi sampe sekarang masih belum datang juga, aneh. Aku khawatir takut dia kenapa-napa di jalan. " tutur Marisa sejujur-jujurnya.
" Tunggu-tunggu, Fadlan? " Shintia menarik bangku dan duduk dengan tergesa. Ia melempar pertanyaan dengan wajah terheran-heran.
"Iya, Fadlan kalian inget? Kembarannya Haz. " jawab Marisa.
Hendri dan juga Shintia nampak saling memandang, melempar tanda tanya besar lewat sorot matanya.
"Kamu mau nikah sama siapa, Cha? "
Hendri kembali ke topik pertama membahas pernikahan Marisa dengan laki-laki yang belum ia ketahui identitasnya.
" Kalian pasti kaget denger nama calon suaminya Icha. " seru Anita begitu antusias.
__ADS_1
" Reno! " Anita bersorak menyebut nama Reno, membuat Hendri dan Shintia kembali terperangah.
Sementara Marisa diam tanpa ekspresi. Pikiran tentang Fadlan masih mengganggu benaknya. Kemana dia?
"Jadi karena itu Fadlan tadi pergi gitu aja, dia gak jadi nemuin kamu mungkin gara-gara dia denger kamu mau nikah, Cha? " celetuk Shintia menyimpulkan.
"Apa! " Marisa terperanjak kaget.
"Kamu serius ,Shin ? Kenapa gak bilang dari tadi. " Marisa pergi dengan tergesa, meraih tas, ponsel dan kunci mobilnya lalu berlari keluar cafe.
"Bayarin punya aku, Nit. Tolong, nanti aku ganti kalo inget. Dah! " Marisa pergi dengan setengah berlari menuju parkiran.
"Tuh anak kenapa sih? " Shintia dibuat geleng kepala dengan tingkah Marisa yang masih seperti anak-anak, teriak sambil berlari.
" Jadi, Reno sama Icha mau nikah?" Hendri mengulang pertanyaannya tentang pernikahan Marisa.
"Ah iya, terus si brondongnya Icha di kemanain?" Shintia juga merasa sangat penasaran. Bagaimana kelanjutan cerita Marisa dengan si kembar Hazlan. Terakhir ia menghubungi Marisa sekitar sepuluh hari lalu. Marisa menceritakan tentang Hazlan yang akan kembali ke Indo dua hari lagi. Setelah seminggu berlalu Shintia tak mendapat kabar apapun lagi.
Jadi, bagaimana ia tidak merasa kaget jika tiba-tiba mendapat kabar bahwa Marisa sudah akan menikah.
"Itu dia, aku juga baru tahu sekarang. Sepertinya Marisa dikhianati sama tuh anak. Soalnya tadi dia bilabg, penantiannya sia-sia. Dan lagi aku ngerasa bersalah, kalau Marisa gak pernah tahu perasaan aku ke Reno kayaknya mereka berdua sudah akan menikah dari dulu. " tutur Anita, dengan tatapan sendu menyesali semua yang terjadi.
" Udah dong dibahas lagi, kan kita sama-sama tahu kalau Marisa gak ada perasaan sama Reno. " Shintia mencoba memahami Anita, bagaimanapun tidak baik menyalahkan diri sendiri.
"Iya,Nit. Shintia bener,kalaupun kamu gak pernah cinta sama Reno, belum tentu Marisa nerima Reno. Lagi pula Reno juga gak pernah berharap Marisa tahu perasaannya kan? " sama halnya dengan sang Istri, begitulah semua menurut sudut pandang Hendri.
"Tapi, aku tuh bingung ya. Kok sekarang Marisa malah mau gitu nikah sama Reno. " ucap Shintia, mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi.
Anita pun masih dengan tatapan sendu saat menceritakan semua yang baru saja ia dengar dari mulut Marisa. Bahwa, sahabatnya itu diberi waktu hanya satu bulan untuk menunggu kepastian dari Hazlan setelah semua itu, Om Haris ayah Marisa akan menjodohkannya dengan Reno.
"Kasian ya, jadi karena itu tadi kita berdua lihat Fadlan keluar cafe gitu aja. Dia pasti denger pembicaraan kalian. Dan ya tadi tuh anak bawa karangan bunga segala. Tunggu !"
tutur Shintia, kembali mengingat Fadlan yang dilihatnya pergi dengan tergesa -gesa.
"Jangan, jangan! " seru Anita dan Shintia kompak.
__ADS_1
"Fadlan suka juga sama Marisa. " ucap Anita.