Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Riska Wiryawan sakit


__ADS_3

Nyonya Wiryawan jatuh sakit. Malam ini tepat pukul sebelas ia di larikan ke rumah sakit X demi mendapatkan perawatan .Beruntungnya saat kejadian itu Pranando ada di rumah tengah bermain bersama si kecil Rey yang baru berusia tujuh bulan.


Baby Rey begitu ia biasa di panggil. Pemuda kecil yang tampan. Dia terbangun dari tidurnya karena merasa haus dan di saat bersamaan sang oma tumbang di lantai kamarnya sendiri.


Mengeluh sesak dari siang setelah ia puas menceramahi putranya.


Entah karena hal itu atau bukan namun Pranando memang benar-benar di rumah saat ini .


Tidak keluyuran ke bar hanya untuk bergaul dengan alkohol. Tidak juga melupakan jalan pulang karena seharian ia memang tidak pergi kemana-mana.Sementara itu


Raisa sedari tadi pagi lebih pendiam. Tidak banyak bicara atau pun menyapa Pranando.


Suaminya itu sudah membujuk serta meminta maaf kepada Raisa yang hanya mendapat senyuman kecil sebagai tanggapannya.


Raisa bingung harus apa, di sisi lain ia memang merasa kecewa. Tapi ia juga tahu sejak awal Pranando memang sulit melupakan masa lalunya.


Semalam saat makan malam dan sebelum kejadian ibunya yang pingsan.


Mereka memang sama-sama duduk di kursi meja makan yang sama namun dengan pikiran yang berbeda .Ketiganya hanya diam makan makanan tanpa menikmatinya. Hayut dalam lamunan dan kekesalan masing-masing.


Setelah itu Pranando mengejar istrinya yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat. Ia memeluk Raisa tanpa bicara.


Ada ketakutan di matanya. Ada kegelisahan di wajahnya.


"Kenapa? Kenapa memelukku? "


Raisa tidak pernah berdaya jika melihat suaminya seperti ini. Bahkan ia sering seperti itu saat sebelum menikah.


"Aku, aku~" Entah apa yang harus Pranando jawab.


"Maafkan aku sayang."


Hanya sebatas kata maaf yang mampu ia utarakan.


"Selama kamu masih belum mau cerita apa yang terjadi sama kamu. Jangan pernah berani mendekati ku"


Raisa melepaskan diri dari pelukan suaminya itu.


"Aku minta maaf sayang "


Dengan santai Raisa berjalan menuju tempat tidur -nya.Meninggalkan Pranando yang terdiam mematung.


Sambil terus meminta maaf.


"Kau panggil aku sayang, kan? Tapi percuma kalau hati dan pikiran mu entah kemana.Tidak seirama dengan perkataanmu "


Ucapan terakhir Raisa setelah itu ia menutupi tubuhnya dengan selimut.


Alih-alih terus membujuk Pranando justru mendekati tempat tidur baby Rey. Menatap putranya yang tertidur pulas.


Memerhatikan wajah tidak berdosa itu.


Ibu benar. Batinnya.


Aku yang harus menciptakan kebahagiaan. Bukan mencarinya di luaran.


Hampir dua jam ia termenung, sampai tak lama kemudian baby Rey menangis. Bersamaan dengan pintu kamar yang diketuk dari luar.

__ADS_1


Raisa terbangun demi mendengar tangisan putranya. Pranando beranjak melihat siapa yang memanggilnya di waktu yang sudah hampir tengah malam.


Pelayan rumah berdiri dengan ekspresi wajah cemas. Ia memberi tahukan jika nyonya rumah ini pingsan di kamarnya.


Tanpa banyak berpikir Pranando langsung lari menghampiri sang ibu.


Menuju kamar beliau, mengangkat dan membawanya ke rumah sakit.


***


Satu minggu sudah Nyonya Wiryawan ibu angkat Pranando Wiryawan itu terbaring tak berdaya. Dengan selang infus dan oksigen ia masih bertahan hidup. Selama ini nyonya memang menderita tekanan darah tinggi akut.


Turun naik seiring suasana hati dan pikirannya. Harus selalu di kelilingi ketenangan selama hidupnya. Namun, terakhir beliau mendapati putra angkatnya begitu berantakan.


Alasan itu pula yang membuatnya stres akhis-akhir ini.


Wajah cantiknya kini terlihat layu. Mata indahnya melingkar hitam tanpa sinar kehangatan. Bibir tak lagi mengulas senyum yang menyejukan.


Raisa dan Pranando kembali kompak dalam urusan menjaga sang Ibu.


Bergantian siang dan malam.


Hingga suatu hari saat sift mereka tiba keduanya di kejutkan dengan kehadiran Divya dan juga suaminya, Haris Santoso.


Saat itu pukul lima sore hari, sepulang bekerja seperti biasa Pranando akan datang setelah berganti pakaian untuk menggantikan Raisa yang menjaga ibunya dari pagi hingga sore.


Divya dan Haris sendiri mereka tidak sengaja melihat Pranando berjalan di koridor rumah sakit saat Divya selesai memeriksakan kandungannya. Setelah bertanya pada seorang suster akhirnya keduanya tahu jika salah satu kerabat Pranando tengah di rawat di rumah sakit ini. Divya menarik Haris memaksa mengikutinya dan sampai di sebuah ruangan dimana ada ibu Pranando disana.


"Sa~" sapa Divya saat melihat Raisa di depan ruangan itu.


"Kalian disini " imbuhnya.


"Siapa yang sakit ?"


tanya Divya perhatian sementara Haris masih acuh mendengarkan.


Baru saja Pranando hendak menjawab Raisa sudah menyerobotnya cepat.


"Ibu "


jawaban Raisa yang terkesan ketus.


Entah karena merasa lelah atau kesal namun Divya tak ingin salah memahaminya.


"Tante Riska? Sakit apa? "


Riska Wiryawan.


Nama wanita yang menganggap Pranando sudah seperti anaknya sendiri sejak beberapa tahun silam dan sejak saat itulah pria itu menghilang dari kehidupan Divya.


"Eum~ Sayang ibu sudah siuman dia nanyain kamu. Temuin gih ! "


ucap Raisa tanpa menghiraukan pertanyaan Divya. Ia memberitahu Pranando jika ibunya sudah sadar dan ingin bertemu dengannya.


Divya yang merasa diabaikan hanya diam memerhatikan mereka.


Ia sedikit melongok dari pintu yang terbuka saat Pranando masuk.

__ADS_1


Raisa yang hendak berlalu meninggalkan Haris dan dirinya pun ia tahan. Divya menarik tangan Raisa menjauh dari jangkauan Haris yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Ia hanya ingin memastikan jika Raisa tidak sedang menghindarinya.


"Apa sih nih" Raisa menepis tangan Divya ketika ia menariknya.


"Aku mau ngomong sebentar sama kamu, Sa !"


Divya terpaksa menarik Raisa lagi karena tidak ingin Haris mendengar apa yang ingin ia tanyakan.


"Ngomong, ngomong aja gak usah narik-narik tangan ku kayak gini"


ketus Raisa.


Dan saat jarak mereka sedikit menjauh baru lah Divya melepas genggaman tangannya di lengan Raisa.


"Kamu kenapa ?"


Raisa memutar bola mata jengah,tanpa berniat sedikit pun menjawab pertanyaan Divya.


"Sa ! Aku nanya loh sama kamu. Kamu kenapa sikapnya dingin kayak gini sih? "


Divya semakin yakin jika ada yang Raisa sembunyikan. Tapi apa?


Mengapa ia sebegitu kelihatan kesalnya pada dirinya .


"Dingin" Raisa tersenyum miring.


"Aku gak pernah keberatan kita dekat sekarang , walaupun aku tahu bagaimana hubungan kalian di masa lalu "


tegas Raisa masih dengan wajah tidak bersahabat.


"Tapi apa, apa yang kamu lakuin sampe membuat hubungan ku dengan suami ku sendiri menjauh"


sekali lagi Raisa berdecak.


"Kamu menghancurkan semuanya Divya. Aku salah apa sama kamu sampe harus terus hidup di bawah bayang-bayang kamu, Vy"


Walau Divya tidak mengerti apapun, ia hanya mengerutkan dahi demi mencerna setiap perkataan Raisa.


Apa yang wanita di hadapannya itu katakan? Salah apa Divya, ia sendiri tidak tahu.


"Apa sih maksud kamu, Sa?"


Divya semakin di buat bingung ketika saat ini justru ia mendapati Raisa mulai terisak.


"Pergi dari hidup ku, jauhi aku dan suami ku. Aku tidak mau membenci mu Divya. Tapi kalau aku terpaksa untuk itu, mau tidak mau aku harus membenci mu. Jangan ganggu hidup ku dan suami ku. Ku mohon! "


Raisa mengatupkan kedua tangannya dengan airmata sudah membasahi pipinya.


"Kalau kau menganggap ku sahabatmu maka tolong jauhi hidup suami ku, atau dia tidak akan pernah menerima keberadaan ku"


Sesaat Divya terdiam, terpaku mentap Raisa. Ia mulai paham.


Apa Pranando masih belum bisa melupakan dirinya.


Lalu menikahi Raisa untuk apa? Untuk permintaannya?

__ADS_1


Divya memang pernah meminta Pranando untuk melanjutkan hidupnya. Memberikan Melodi kasih sayang seorang ibu . Tapi ia tidak memintanya untuk melakukan semua ini jika dia merasa terpaksa.


__ADS_2