Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Rumah baru


__ADS_3

Dan di sinilah sekarang mereka berada.


Rumah dua lantai dengan tipe minimalis.


Untuk apa sebenarnya Haris membawa Laras ketempat ini.


Dan rumah siapa pula ini?


Sekelebat pertanyaan muncul begitu saja.


"Kau tahu kenapa kakak ajak kamu ke sini ?" tanya Haris begitu membuka pintu utama rumah tersebut.


"Nggak Kak, memangnya kenapa? Dan ini rumah siapa? " Laras menjawabnya dengan pertanyaan .


"Ini rumah kamu ,"


Laras melongo mendengar pernyataan Haris. Rumahnya tapi untuk apa. Apa ini hadiah dari kak Haris?


Tidak. Atau jangan -jangan Laras mau di jodohkan ya dengan pemilik rumah ini.


"Rumah ku ? "


Spekulasi pun muncul di otak Laras.


Mana mungkin Kak Haris berubah pikiran secepat itu, setelah sebelumnya ia mengatakan jika hanya akan memberi Laras hadiah kalau dia sudah bisa melanjutkan hidup.


Menikah dan membawa adik ipar untuk -nya.


"Iya, tadinya aku pikir aku baru akan memberikannya saat kamu sudah menikah, tapi bagaimana kamu mau nikah pacar saja kamu tidak punya. "


Perkataan Kak Haris memang benar ,tapi apa tidak bisa ya di sensor sedikit. Bikin nyesek, tahu !!


"Ish Kakak nih, " Laras mendesis dan mencebik kesal.


Melihat itu Haris terkekeh.


"Tapi kak, apa aku pantas mendapatkan semua ini setelah banyak kesalahan ku sama Kakak. Keluarga kakak. Aku rasa aku gak pantes dapet kebaikan kakak seperti ini. Kemarin aku cuma bercanda itupun karena tante Rahma mengingatkan kakak soal janji mau ngasih sesuatu setelah bisa membawa Ibu (Inah) pulang dari tempat itu"


Rumah sakit jiwa, tempat terburuk sepanjang sejarah kehidupan Laras.


Bagaimana ia harus masuk ke dalamnya, mengingat semua itu.


Sekali lagi Laras merasa dirinya tidak pantas mendapatkan kebaikan lebih dari Haris. Ia sudah terlalu sering membuat laki-laki itu sedih dan sakit hati.


"Bukankah sudah aku katakan,aku memaafkan mu sepenuhnya. Asal kau bisa jadi orang yang lebih baik lagi. Sekarang terimalah. Ajak ibumu kesini. Rawat dia seperti orangtua mu sendiri. "


Dan lagi Haris menegaskan jika ia tidak pernah menyimpan dendam ataupun kebencian.Haris berharap jika kelak Laras bisa menemukan kebahagiaan.


Menjalani hidup sebagai seorang mantan pasien rumah sakit jiwa tidaklah mudah. Ada banyak pertentangan di antara masyarakat.


"Ini sih bukan kak Haris banget, dia yang aku kenal punya sifat keras dan pendendam. Tidaklah mudah mendapatkan maaf dari -nya. "


Itulah kenyataan yang selama ini Laras tahu, dan itu pula yang membuat Laras selalu merasa takut dan putus asa.


Bagaimana caranya meminta maaf pada laki-laki ini.


Tapi sungguh di luar dugaan karena Haris justru dengan mudahnya memaafkan segala kesalahan -nya. Dia bahkan memberi kesempatan kedua, juga sebuah hadiah.


"Ini pasti karena kakak ipar, kan? Kalau tidak mana mungkin Kak Haris bersikap begini ."


Tebakannya tentu saja benar. Haris memang jauh lebih penyayang setelah kedatangan Divya di kehidupan nya.


Haris hanya tersenyum menanggapi apa yang Laras katakan. Dan ya, dia memang tidak pernah bisa melupakan satu pun kesalahan orang padanya. Dengan tanpa ampun Haris akan menghukum mereka yang berani berurusan dengannya.


Namun, berbeda kali ini. Laras.


Bagaimana pun gadis itu ia kenal dari sejak kecil.

__ADS_1


Merayakan kepulangan Laras dan ibu Inah ke rumah baru mereka, semua orang berkumpul.


Semua bahagia. Inilah akhir dari semuanya.


Laras mendapatkan seorang ibu di tengah kesendirian -nya .


Dan Inah mendapatkan putri walau dia bukan Marisa.


Melainkan gadis yang memisahkan ia dengan putrinya itu.


***


Tujuh belas tahun kemudian.


Bulan dan tahun silih berganti.


Ada banyak kejadian dalam kehidupan mereka. Marisa ,Leonard dan satu adik kecilnya Anna.


Tumbuh di tengah kasih sayang ayah dan bundanya.


Marisa yang kini tengah kuliah kedokteran, semester akhir.


Leonard baru menginjak usia 18 tahun.


Dan si kecil Anna yang baru berusia empat tahun.


Icha si cantik bertubuh mungil, berambut sedikit bergelombang seperti sang bunda. Lesung pipi yang telah menjadi ikonnya sejak kecil, manis.


Menambah nilai plusnya dengan sifat sedikit tomboy.


Leonard, se- Cool sang ayah.


Tampan, gagah dan mempesona.


Kelakuannya memang agak liar, namun begitu Leo masih berada di dalam batas kewajaran. Membawa nama besar ayah dan kakeknya membuat Leo sukses menjadi selebriti di sekolahnya.


Siswa terpopuler sejagad SMU.


Biasa di panggil Anna atau juga Kekey


gadis manis, cantik, dan selalu ceria.


Baru beberapa bulan saja masuk playgroup. Primadona rumah yang selalu meramaikan suasana. Menggantikan posisi sang kakak Marisa Adelia Vyaris Santoso yang dulu menjadi penghibur lara di setiap suasana. Tentu dengan suara cempreng -nya itu.


Hari ini sudah satu pekan Marisa absen kuliah, ia tengah menjalani sesi hukuman dari sang ayah. Tidak boleh keluar rumah. Kampus atau kemanapun.


Alasannya karena malam itu.


Malam pesta ulangtahunnya ia habiskan


di club, bersama para teman bar bar-nya. Pesta alkohol.


"Kamu calon dokter, Marisa! "


Bentak ayah Haris, menggeram kesal.


Hampir satu tamparan mendarat jika saja sang bunda tidak menahannya.


"Apa yang kamu lakukan ? Dokter macam apa yang membiarkan minuman kotor itu masuk ke tubuhnya. Marisa lihat ayah ! "


Hari itu Haris benar-benar marah.


Emosi -nya seketika memuncak.


Mendapati putri sulungnya kelayapan tengah malam. Bermabuk-mabukkan.


Mungkin itu kali pertama bagi Marisa melakukan hal yang tidak baik. Ia terkena bujuk rayu sahabat -sahabatnya.

__ADS_1


" Tidak harus berteman jika mereka hanya memberi mu pengaruh buruk ! "


Sekali lagi Haris benar -benar memperingatkan putrinya. Membatasi segala pergaulannya.


Haris memberi hukuman yang akan selalu di ingat gadis itu sampai kapanpun hingga ia tidak lagi berani melanggar peraturan.


" Berikan ponsel mu !"


Haris mengulurkan tangan meminta benda paling berharga bagi Marisa.


"Ayah ," rengek Marisa memohon agar Haris berubah pikiran.


Hukum apa saja aku, asal jangan rampas ponsel ku. Batinnya berharap.


Tanpa bergeming Haris masih menunggu putrinya memberikan apa yang dia minta.


Dengan tangan gemetar Marisa memberikan ponselnya ke tangan sang ayah.


"Masuk kamar ! " bentak Haris.


Sang bunda bukan tak mau membela.Ia melihat semua itu namun hanya mampu terdiam. Menatap iba sang putri kesayangan.


Pagi ini Leo pun masih di rumah. Entah kenapa ia tidak masuk sekolah.


Ia memilih masuk ke dalam kamar kakaknya. Seperti biasa menggoda Marisa hingga kakak perempuannya itu kesal.


"Kak! "


"Apa? "


ketus Marisa yang sudah sangat hapal dengan kelakuan adik laki-laki nya itu.


"Ketus amat sih, biasa aja dong jelek tahu !"


Leo merangsek masuk dan membanting tubuhnya di atas tempat tidur Marisa.


"Pinjem ponsel dong! " ucapnya beberapa detik kemudian.


" Lo nyindir gue ya. Gak ada hape. Orang disita ayah. Lupa lo ?! "


tukas Marisa kesal. Melirik jengkel Leo yang sama sekali tidak menunjukkan empati padanya.


"Yaelah masih gitu, kirain udahan. Gak bete apa di rumah terus, mana gak ada ponsel. Gak komunikasi. Di kamar terus. Kabur apa kak, takut banget. "


cerocos Leo tanpa berpikir terlebih dahulu apa yang dia ucapkan


" Gila apa ! Bisa nambah hukuman gue kalo ketahuan. " solot Marisa memutar bola mata jengah.


Leo lantas terbahak mendengar ucapan kesal kakaknya.


Ia tertawa renyah sampai tersedak.


"****** lo. Ngeledek mulu sih kualat tuh !" Marisa melempar bantal ke wajah adiknya yang tengah terbatuk.


"Lagian mana ada seorang Marisa kalah. Gua di rumah gak bakalan bosen lah,lihat nih ! " Marisa menunjukkan laptop kehadapan Leo.


" Waduh ayah masih kalah pinter, hape disita tapi laptop ada disini. "


Leo menepuk jidatnya sendiri.


Ia bangkit dari tempat tidurnya.


"Mau kemana lo? "


"Ngadu ke ayah lah ,apalagi ! "


"Eh awas lo ya kalau berani ngomong sama ayah. Tak kutuk jadi batu kamu! "

__ADS_1


"Heh, LEO ! " teriak Marisa.


Namun Leo tetap berlari hingga ia tidak menyadari di ambang pintu sudah berdiri Divya, sang bunda.


__ADS_2