
Haris masuk setelah Rudi menyeret Nando keluar apartemen.
Ia menghampiri Istrinya yang tengah menangis,terduduk di sofa.
"Sayang" Haris berdiri di depannya
Divya bangun dan langsung memeluknya,sambil terus terisak.
"Sudah tenanglah aku disini" Haris mengusap rambut dan punggung Divya .
"Hei,sudah" lirih Haris sedikit melonggarkan pelukannya " kau baik-baik saja,apa dia menyentuhmu?"
Divya hanya mampu diam tertunduk.
"Sayang...lihat aku" Haris meraih dagu istrinya ,menatap lekat kedua bola
matanya yang terlihat sendu.
"Apa dia menyentuh mu?" tanyanya lagi.
Divya hanya menggigit bibir, kelu.
Haris meraih tengkuk Divya,mencium bibirnya sekilas,gadis itu terdiam .
Melumatnya lembut,menghapus jejak yang ditinggalkan pria brengsek itu,pria yang sudah berani menyentuh istrinya.
Airmata Divya terus mengalir.
"Maaf" Suara lirih divya sedikit terdengar serak karena tangisan.
"Hei,kenapa minta maaf sayang.aku yang salah,maafkan aku" Haris kembali memeluk Divya.
"Maaf karena aku tidak mendengarkan mu,maaf karena aku membantahmu,maaf karena aku tidak bisa menjaga diriku" ia menunduk.
"Sudahlah,Kita pulang sekarang"
Haris sudah membawa Divya dalam gendongannya keluar apartemen.
Membawanya masuk kedalam mobil.
Haris duduk di belakang kemudi.
mengendarai sendiri,menembus keramaian jalanan ibukota.
__ADS_1
Sementara Rudi,pergi entah kemana membawa Nando yang sudah babak belur dihajarnya.
Sudah berada di dalam kamar.
merebahkan Divya di atas tempat tidur.
"Istirahat lah" titah Haris "Atau kau mau mandi?" tanya nya kemudian.
"Nanti"
" Ya sudah,aku mandi duluan ya.mau bareng?"
Divya menggelengkan kepala,wajahnya kini sudah berubah merah padam.
Selesai membersihkan diri,keduanya melanjutkan makan malam di kamar.
Tak ada yang tahu kejadian hari ini.baik Santoso maupun istrinya.
Haris sengaja tidak memberitahu orang tuanya.
"Sayang"
"Heum" jawab Divya yang kini bersandar dipundaknya.
"Apa ?"
"Yang tadi itu"
"Apa sih!!" kali ini ia duduk menghadap menatap bingung apa yang di mau suaminya itu.
"Perasaan mu padaku"
"Hah...!" Divya tercengang.
Dia tahu? dia mendengarnya? kapan ?
"kamu..." telunjuk Divya terangkat tepat di depan wajah Haris.
"Maaf" Haris memasang wajah sok bersalahnya " kakakmu tuh,dia nahan aku di luar.kalau tidak sudah ku tendang pintu itu dari sejak aku datang"
mengkambing hitamkan Rudi.karena memang kenyataannya seperti itu.
Rudi sengaja menahan Haris agar tidak bertemu dengan Pria brengsek bernama Nando.
__ADS_1
"Jadi kau...?" Divya menggantung kata-katanya.
Aaaaa malunya aku...ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ayo katakan lagi didepan ku" goda Haris,dengan jari menyentuh pinggang istrinya.
"Aw...geli tau!"
"makanya ayo"
"Apa!!"
"Itu...katakan!"
"Tidak mau..!"
"Ayo dong,aku mau dengar langsung"
"Kau sudah mendengarnya langsung tadi,kan?!"
"Ya tapi mau lagi"
"Nggak"
"Maafkan aku sayang" Haris menyentuh kepala Divya,mengusapnya lembut.
"Untuk?"
"Sikap ku selama ini"
"aku juga,aku juga minta maaf.karena..."
"Karena apa..? karena menolak ku?! iya ?"
"Apa sih" Divya gadis itu tersipu malu.
"Kalau gitu tebus hari ini"
"Masih tidak bisa"
"Kalau begitu aku anggap kau berhutang padaku,katakan kalau kau sudah siap membayarnya" cubitan kecil mendarat di hidung mancung istrinya.
"Ayo tidur !" dan tanpa aba-aba Haris sudah menggendong Divya membawa membaringkannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Suara dering ponsel jelas terdengar tatkala mereka sedang asik bercumbu di bawah selimut,saling mencium satu sama lain.