
"Pagi Ra !" Suara sapaan di pagi hari membuat Raisa girang gak ketulungan.
Gadis itu langsung saja berlari menghampiri sahabat yang memanggilnya .
"Divya ku sayang!!!" Serunya pada divya,yang baru saja keluar dari mobil.
Masih di area parkir,kali ini Divya diantar sopir pribadi Haris,tidak bisa menolak atau tidak boleh keluar sama sekali.
Ultimatum yang tak bisa ia bantah.
Merekapun sama-sama memasuki gedung kantor.
Sementara Haris sepeninggal istrinya pergi ke kantor,ia lantas membuka kembali stelan jas yang ia kenakan mengganti kemeja dengan kaos.
Sudah malas rasanya pergi ke kantor,ia berbalik masuk ke ruang gallery.
Hanya mengutus Rudi untuk menghandle segala urusan pekerjaannya,begitulah ia kalau moodnya sedang tidak baik.
Ruang gallery yang nampak lengang ,tak ada apapun yang menempel di dinding. kemana gerangan perginya semua foto Marisa?
Entahlah ,kapan Haris membereskan semua ini.
Mungkin saat setelah mereka berdamai dengan hati masing-masing.
Karena itulah yang Rudi tekankan pada Haris.
jika kau mau Divya sepenuhnya bersama mu maka perlahan lepaskan segala ingatan mu tentang Marisa.
Kau pikir gadis mana yang rela berbagi meski hanya dengan masa lalu ?
Seperti kau yang tidak bisa terima kehadiran Nando,seperti itulah perasaan Divya.
Aku tahu keadaannya berbeda tapi Divya,dia tidak pernah tahu tentang Marisa,bukan? kata-kata Rudi yang mulai dipahami Haris.
Saat ini baginya fokus menjalin apa yang sudah terjalin.
Menerima apa yang sudah terjadi.
Divya masa kini dan masa depannya.
Gadis itu mungkin memang memiliki kemiripan dengan Marisa,tapi ia yakin kali ini,jika perasaannya sudah benar-benar untuknya,bukan hanya karena melihat Marisa pada dirinya.bukan.
__ADS_1
Haris mengambil satu foto yang tersisa di laci.Foto ia dan Marisa .
Menatapnya lekat.
Mengusap wajah gadis di dalam foto.
Seranya bergumam " Maafkan aku karena harus melupakan mu" sudut matanya berlinang.
"Maafkan aku yang tak bisa menjagamu"
"Maafkan aku yang baru bisa kembali tersenyum,bahkan setelah lama kepergian mu"
Haris mnyimpan foto itu bersama dengan tumpukkan foto yang lain di dalam sebuah box.
Tak lama berselang dua orang pelayan membawanya ke luar ruangan.
***
Sudah pukul sebelas,tak ada tanda-tanda keberadaan Nando di kantor.
Tak ada kabar apapun juga.
Divya akhirnya menemui Raisa demi menanyakannya.
"Belom Vy,Gak bakal datang kayaknya." jawab Raisa.
"Heum..." Divya hanya manggut-manggut menatap Raisa yang masih tak bergeming dari aktifitasnya.
"Kenapa?" Akhirnya ia mendongak juga.
"Duduk vy,masih aja nunggu aku suruh" seranya meminta Divya duduk,
karena ia melihat Divya yang masih berdiri,menatapnya.
"Aku ganggu ya,nanti aku balik lagi deh" Jawab divya merasa tak enak hati.
"Eh gak kok,ini juga sudah selesai" seru Raisa menutup berkas yang sudah ia kerjakan,tinggal ditanda tangani saja oleh pak bos.
" Ada apa?"
"Bos gak ngasih kabar?" tanya Divya penasaran.
__ADS_1
"Gak ada Vy. Ada apa? ada hal penting?" Raisa menangkap mimik wajah Divya yang nampak bimbang.
"Aku mau ngasih ini,karena bos gak ada aku titip kamu saja ya ,Ra" Divya menyerahkan sebuah Amplop putih yang langsung diterima Raisa di tangannya.
Dengan tatapan heran ia bertanya
" Ini apa Vy?"
"Itu...surat pengunduran diri,aku mau berhenti kerja, Ra" terang Divya yang sejujurnya.
"What?" Raisa refleks berdiri. "Serius?"
"Serius"
"Kenapa?"
"kayaknya gak perlu aku jelasin ,kamu ngerti lah" Divya sudah berdiri, mengangkat bahu.Yakin jika Raisa pasti mengerti.
"Karena Haris?" Oops Raisa menutup mulutnya sendiri " Suami kamu maksudnya"
"Ya Salah satunya itu"
"Terus? Karena Bos juga." Raisa sudah bisa menebak.
"Apa kamu gak mau pikir-pikir lagi? Sayang loh karir kamu lagi bagus bagusnya"
"Aku sudah pikirkan ini baik-baik Ra dan mungkin ini yang terbaik" Divya menghela nafas berat.
Sayang,
memang sayang cita-cita Divya untuk berkarir harus kandas begitu saja.
Tapi apa mau dikata,Divya juga tidak bisa menolak perintah Haris,apalagi jika kehadiran ia di kantor ini hanya membuat luka di hati Nando lebih dalam lagi.
"Aku Harus pergi,Ra.Aku cuman dapet izin sampe jam makan siang.Kamu tolong kasih itu nanti ya" Divya pamit pergi,seranya menunjuk amplop yang di berikannya tadi.
"Dan tolong kamu cari tahu kenapa si bos gak masuk kantor hari ini,terus kamu kabarin aku .ok" Divya pun beranjak setelah mengatakan itu.
Divya kenapa ya,gak mungkin kan kalau dia masih mencintai bos Nando.Tapi keliatan banget kalau dia tuh khawatir.
"Astaga aku gak boleh spekulasi yang bukan-bukan" Huft Raisa bergumam seranya menghela nafas berat.
__ADS_1
Aku cuman gak mau semuanya jadi salah paham.
Jangan sampai ada yang tersakiti.Begitulah Divya gadis perasa,yang bahkan tidak bisa melihat orang lain menangis,apalagi jika itu karena dirinya.