Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kedatangan Pranando


__ADS_3

Semua orang di rumah ini tengah di sibukkan mencari keberadaan satu gadis kecil saja. Gadis yang bahkan baru masuk playgroup beberapa bulan lalu. Dimana Icha?


Kekhawatiran pun melanda. Tidak seperti biasanya.


Tidak ada di kamar. Tidak di toilet juga.


Semua pelayan rumah di kerahkan demi mencari gadis itu.


"Tadi dia di kamar sayang, pulang sekolah dia gak mau keluar."


tutur Divya mengadukan jika putri mereka memang tengah merajuk.


"Tapi kenapa bisa gak ada"


"Ya mana aku tahu. Mama gak lihat juga Icha keluar atau kemana?" tanya Divya pada sang ibu mertua.


"Tadi pas kamu masuk kamar Mama ke belakang nyusul Papa terus ngobrol di taman, Mama gak tahu kalau Icha keluar kamar atau kemana"


Mama Rahma yang juga ikut panik dan khawatir.


Haris sudah akan menelpon polisi kalau saja Divya tidak mencegahnya.Ia teringat ada satu tempat yang belum terperiksa.


"Kamar atap" seru Divya dan Haris bersamaan.


Mereka memburu masuk ke dalam kamar dan naik melalui tangga yang berada di balkon kamarnya, satu-satunya akses ke taman atap atau kamar atap yang mereka sebut tadi.


Disana Pranando mengikuti keduanya. Langkah ia sedikit memelan ketika menatap kamar serta ranjang mewah bertengger di depan matanya, ia berbalik menatap pintu balkon dan melangkahkan kaki kesana. Menaiki tangga dan sampailah ketiganya di atas.


Pranando begitu takjub melihat keindahan taman itu. Ada tempat seindah ini disini?


Bahkan di tempatnya berdiri terasa sejuk, angin sore berhembus.


Matahari hampir tenggelam.


Haris menatap jauh ke arah kamar kaca


Disana terbaring sosok yang mereka cari-cari.


Divya menarik nafas lega.Sementara Pranando masih terkesima.


"Ada kamar juga disini? " gumamnya pelan. Ia pun melangkah mendekati kamar itu.


Lagi kedua orangtua itu tengah membangunkan putri mereka yang tidur nyenyak di atas kasur. Pranando malah mematung di ambang pintu.Menatap lurus setelah puas menelisik seluruh sudut ruangan.


Icha terbangun, ia menggeliatkan tubuhnya. Menyipitkan mata melihat bunda dan ayahnya ada di dekatnya.


"Anak bunda di cariin ada disini, lihat ada siapa tuh ! "


Divya menunjuk Pranando dengan sudut bibirnya. Icha yang melihat tentu saja berjingkrak senang. Ia bangun dan langaung memeluk pria yang ia panggil 'Papa'.


"Kalian masih mau disini? "


Haris sudah melangkah keluar. Ia juga menarik pelan tangan istrinya.


"Kita turun duluan dan kamu turun nanti jangan melewati kamar kami" ketus Haris pada Pranando.


"Hei sayang, akses kesini cuman dari kamar kita loh, kalau tidak boleh lewat kamar terus kemana?"


"Suruh dia terjun sana"


Dengan santainya Haris menunjuk kebawah sana.


Mengerikan jika harus terjatuh.


"Kamu tuh! " Divya menepuk pundak Haris. Keduanya turun meninggalkan Pranando dan Icha yang tengah melepas rindu.


Bermain-main di taman hingga matahari tenggelam. Mereka turun saat kedua orang di kamar tengah saling merangkul.


"Astaga tutup mata mu Icha sayang"


Pranando menutupi mata Marisa dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Dengan senyum malu serta rona wajah yang memerah Divya melepas pelukan dari tubuh Haris.


Tanpa banyak bicara lagi Pranando keluar dari kamar itu. Menggiring Marisa yang masih tidak mengerti apapun.


Bagaimana rasanya memergoki


dua orang tengah berpagut ciuman di dalam kamar. Mereka memang suami isteri dan itu sah sah saja. Tapi dia yang pernah juga ia cintai. Pernah bertengger di lubuk hatinya. Mengingat jika ia juga pernah memaksa merasai bibir manisnya. Ah mengingat itu Pranando merasa bersalah.


Ia mengacak rambutnya sendiri.


Kacau !


Pikirannya melayang entah kemana.


Masih terbayang saja kejadian tadi di rumah Haris.


Sial !


Kenapa musti memergokinya seperti itu. Bahkan sekarang ia kesulitan hanya untuk memejamkan mata.


Pranando membalikan tubuhnya melihat Raisa sang isteri yang sudah tertidur pulas. Memeluknya erat meredam semua perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Lama kelamaan ia pun terlelap juga.


***


Epilog Or flasback


Sementara itu setelah Divya dan Haris turun tadi meninggalkan Pranando bersama putrinya di taman atap, ia melihat Haris suaminya itu acuh. Tidak menghiraukan walaupun dirinya terus bicara. Divya yang merasa di abaikan tiba-tiba saja memeluk Haris dari belakang menahan langkahnya yang hendak masuk ke kamar mandi.


"Kenapa? Marah? "


Wanita hamil memang terkadang lebih sensitif.Lebih peka hanya dengan diacuhkan sedikit saja.


"Enggak"


Haris masih meresponnya biasa, tanpa berniat memeluk balik isterinya atau melepaskan tangan Divya yang melingkar di perutnya.


"Kamu marah. Karena aku minta dia datang. Atau karena aku bohong ? "


Menyembunyikan wajahnya di ceruk punggung Haris.


Sedangkan Haris yang tak bergeming namun sudut bibirnya terlihat mengulas senyum.


"Aku mau mandi sayang, " ucap Haris kini memengang kedua tangan Divya.


Melonggarkan pelukannya dan membalikan tubuh menghadap isterinya itu. Kini Haris balas memeluknya.


"Sudah bertemu, kan jadi terimakasih lah padaku"


Tuntutan yang selalu ia minta saat selesai melaksanakan apapun permintaan Divya.


"Terima kasih sayang.Tapi harusnya Icha yang ucapkan itu. Karena sumpah aku cuma buat alasan supaya kamu setuju bawa dia kesini.Icha tuh tadi ngambek di sekolah "


tutur Divya meyakinkan Haris jika memang bukan dia yang ingin bertemu Pranando.


"Berterimakasih dengan baik sayang"


Haris mencubut gemas hidung Divya.


"Kan sudah apalagi sih? "


"Lakukan dengan tindakan bukan dengan ucapan "


Perkataan Haris membuat kening Divya yang tadi mengkerut,sekarang semakin dalam.


"Heum" Haris menyentuh pipinya.


Divya menuruti walaupun dengan wajah sedikit memberenggut.


Mencium kedua pipi Haris seperti permintaannya.


"Sudah? "

__ADS_1


"Belum !" jawab Haris cepat.


Ucapan nya secepat tindakannya yang serta merta meraih tengkuk Divya dan menyatukan bibir mereka.


Saling ******* dan saling membelit.


Hingga saat pagutan diantara mereka terhenti di saat yang sama, Pranando.


Pria itu melihat dan sibuk menutupi mata Icha .


Divya memeluk Haris setelahnya dan barulah terdengar suara Nando


mengatakan pada Marisa untuk menutup matanya.


Hingga mereka berdua kaget. Haris berlalu masuk ke dalam kamar mandi


setelah membisikkan sesuatu di telinga Divya.


"Kita lanjutkan nanti" senyumnya. Beralih menatap datar ke arah Pranando di ambang pintu balkon.


***


Pagi hari Pranado bangun terlambat. Raisa sudah berkali-kali membangunkannya. Menepuk hingga menggoyangkan tubuh suaminya.


"Sayang "


"Hei bangun ! Sayang ! "


Dengan malas pria itu membuka mata.


Ia tersadar hari sudah menjelang siang.


"Kau baik-baik saja? "


tanya Raisa heran, tidak seperti biasanya Papa Melodi itu akan telat untuk bangun pagi.


"Heum " jawab Pranando dengan suara seraknya.


"Kau kelihatan tidak sehat, wajah mu pucat" tanya Raisa lagi.


Pranando yang hanya menatap datar sedari tadi justru memeluk erat Raisa. Isteri yang sudah menemaninya selama dua tahun ini.


Mendampinginya sejak ia terpuruk. Setelah dipermalukan karena ketahuan membawa lari istri orang lain. Terlebih istri seorang Haris Santoso.


Jika tidak ada Raisa mungkin hidupnya sudah berakhir dari sejak saat itu.


Lalu.


Berdosakah ia jika dengan bodohnya masih mengagumi sosok Divya, Vero-nya di masa lalu ?


Tidak.


Ini tidaklah benar Pranando mencintai istri dan anak-anaknya. Kebahagiaannya lengkap, apalagi !


Apalagi yang ia harapkan?


Kendalikan dirimu Pranando !


Atau kau akan sama menyesalnya seperti dulu.


"Kamu kenapa sayang? " tanya Raisa semakin merasa khawatir.


"Aku baik-baik saja hanya ingin sekali memeluk mu"


Pranando semakin mengeratkan pelukannya seakan tak ingin jauh dari istrinya itu. Dalam hati ia terus mengatakan jika ia mencintai Raisa.


Raisa istrinya saat ini dan selamanya.


Tidak ada yang lain.


Perasaan itu ! Itu hanya karena kejadian yang tidak disengaja kemarin.

__ADS_1


Akan Pranando lupakan seiring berjalannya waktu.


__ADS_2