Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 03


__ADS_3

Walau begitu tubuh tinggi tegapnya tak tergoyahkan. Pemuda itu masih tak bergeming. Di tengah kebingungannya kini ia mulai mengerti jika gadis di hadapannya ini telah salah paham.


"Oh itu, eum maaf. Itu ~gak sengaja


teh. "


Ingin sesegera mungkin ia berlari menghindari gadis itu. Dengan masih terheran dan gugup ia meminta maaf asal-asalan. Entahlah tapi itu karena ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun padanya.


Dan lagi baru kali ini ia bertemu gadis itu.


Lalu siapa dia? Jika benar dia yang menabrak tubuh Marisa hingga hampir membuatnya tersungkur dan pergelangan kakinya pun sampai terkilir. Mengapa pemuda itu tidak mengakui?


Malah terlihat asing saat melihat Marisa.


Kemarin sore saat bertabrakan. Lama mereka saling memandang di tengah keterkejutan. Marisa yakin ia tidak salah orang .


"Heh mau kemana lo ?" Marisa pun makin tersulut ketika pemuda itu malah menaiki motor dan mulai menstaternya.


"Mau pulang teh, kan saya udah minta maaf. Kurang apalagi ?


Maaf ! "


pemuda asing itu tersenyum dan sumpah demi apapun dia itu tampan.


Kini Marisa bukan hanya terpana melihat senyumnya, ia sampai merelakan pemuda itu pergi begitu saja.


" Hei Cha !" Shintia menepuk pundaknya.


" Udah minta maaf belom tuh orang? Kok di biarin pergi ?"


Marisa akhirnya tersadar. Mengapa ia tadi seakan terhipnotis begitu ya ? Lolos kan dia.


Dengan jengkel Marisa menghentakkan kaki pergi meninggalkan halaman masjid.


"Kenapa tuh anak? " tanya Hendri menghampiri kekasihnya.


Shintia pun hanya menggedikkan bahu.


Mereka melanjutkan kembali aktivitas lari pagi ,hingga sampai di depan sebuah bangunan.


Pesantren !


Pesantren itu terletak tak jauh dari Villa tempat Marisa dan teman-temannya menginap. Berada di seberang perkebunan teh.


Cukup ramai aktivitas para santri dan santriwati di pagi hari. Ada yang tengah bersih-bersih halaman. Mushola dan ada juga yang hilir mudik membawa bahan makanan. Diantaranya banyak santriwati yang sedang mengepel lantai sembari diselingi canda tawa.


Marisa sejenak berhenti di depan tempat itu. Begitupun keempat temannya.


" Ini tempat apa ya. Kok rame banget ? Lagi pada ngapain mereka itu ?"


Begitulah kalau tuan putri raja baru pertama kali keluar istana. Melihat pesantren saja terheran-heran.

__ADS_1


"Itu pesantren namanya Cha, ya ampun. Masa kamu gak tahu sih ! " dengus Anita.Ia menepuk jidatnya sendiri.


" Oo ! Kayak asrama gituh." dengan polosnya Marisa menyimpulkan.


Ia berjalan mendekati pintu gerbang dengan tatapan tak lepas mengagumi apa yang ada di depannya. Puluhan santri itu seperti magnet yang menarik Marisa untuk tahu tempat itu lebih jelas.


"Cha kamu mau ngapain? " seru Anita dari kejauhan.


Baru saja Marisa menyentuh pagar, suara klakson sebuah mobil terdengar


bersamaan dengan itu teman-temannya pun ikut berteriak.


"Awas Cha !! "


Marisa berbalik dan menepi dengan kagetnya. Menghela nafas kasar sembari memegangi dada dan mengusapnya.


"Hampir aja, " gumam Marisa.


Ia yang menepi lantaran hendak memberi jalan agar mobil tersebut bisa lewat dan masuk ke dalam halaman pesantren nyata-nya malah berhenti.


" Waduh gawat , tuh orang turun. Cha!! "


Reno melambaikan tangan agar Marisa cepat-cepat menjauh. Namun, apa yang dilihatnya justru raut wajah Marisa yang berbinar tatkala mendapati siapa sosok yang turun dari mobil tersebut.


"Om Dimas!! " seru Marisa antusias.


Dimas Ibrahim yang tak lain adalah Om-nya sendiri. Adik dari bunda-nya, Divya.


"Icha !! Kamu di sini ? "


Dimas menatap Marisa tak percaya, ia juga melihat ke sekeliling ada empat teman Marisa. Di antara ke empat teman keponakannya itu, Dimas mengenal sosok Reno.


Laki-laki itu pernah datang ke rumah dan kakak iparnya, Haris,menyambutnya dengan baik.


" Iya Om,aku sama temen-temen lagi pada liburan, eh gak nyangka ketemu Om Dimas sama tante Dara di sini. Mau ngapain? "


Shintia, Hendri, Anita dan Reno pun mendekat ketika mereka yakin jika yang ada di hadapan itu adalah Dimas. Om dari Marisa.


Satu persatu menyalami Dimas dan juga Adara.


"Ketemu aku juga dong, gak di akuin nih ?" Rio yang sedari tadi sudah menampakkan deretan gigi -nya tak jelas apa yang ia pikirkan.


" Iya lo juga, " dengus Marisa menatap sinis sepupu aneh-nya itu.


" Ish jangan galak-galak dong kakak ku yang cantik,tar cantiknya hilang loh ! "


hal paling menyebalkan kalau bertemu Rio dan dia ngomong yang aneh-aneh.


"Om, belom jawab loh. Om ngapain disini? " tanya Marisa untuk yang kedua kalinya.Tanpa mempedulikan perkataan Rio.


"Ah iya ini mau main,mumpung liburan sekalian biar Rio belajar agama di sini. "

__ADS_1


tutur Dimas menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke pesantren ini.


"Oh iya tuh bener Om, biar aga terang dikit otaknya . Supaya gak gangguin Icha dengan chat-chat anehnya. "


seru Marisa seranya menjulurkan lidah meledak Rio.


Tak lama berselang, ketika mereka semua tengah terkekeh melihat interaksi antara Marisa dan Rio, dari arah dalam pesantren datang sosok pemuda yang tadi Marisa marahi di parkiran masjid. Dia laki-laki yang sama


yang menabraknya di perkebunan teh. Dan kejadian itu membuat Marisa tidak bisa tidur semalam karena memikirkannya.


Marisa semakin di buat bingung saat melihat pemuda itu mendekat ke arah mereka. Dan mulai menyapa serta menyalami Dimas,Rio dan juga Adara.


" Assalamualaikum Om, tante dan Rio. selamat pagi dan selamat datang. "


sapa pemuda itu ramah.


"Lo lagi ! Kok lo bisa ada di sini ?"


" Si teteh yang ngapain di sini?" pemuda itu tidak terima dan balik bertanya.


"Kalian ini sudah saling kenal, ya? " tanya Dimas antusias.


" Iya Om ! " serempak Marisa dan pemuda itu menjawab


"Iish " Marisa mendesis tak suka.


"Dia cowok yang sama yang nabrak aku sampe kaki aku terkilir, kemarin sore di perkebunan teh. " tutur Marisa mengadukan kekesalannya.


Pemuda itu nampak tidak suka ketika Marisa mengoceh dan menjelekkannya di hadapan Dimas.


"Apa memang benar seperti


itu kan? "


"Iya iya tapi untuk itu saya sudah minta maaf, bukan. Kenapa teteh tuh masih ngikutin saya sampe ke sini. "


Marisa dan pemuda itu kembali bersitegang.


"Hei sudah sudah kenapa jadi pada ribut begini? Ayo masuk kita selesaikan masalah kalian di dalam" ucap tante Adara mendamaikan keduanya.


"Gak mau ngapain ke sana ! Lagian tante sama Om ngapain ke pesantren ini ,apa gak ada pesantren yang lebih bagus dari ini. " sewot Icha.


Dimas yang mendengar jawaban tidak sopan dari keponakannya pun akhirnya menjelaskan.Bahwa,pesantren ini milik kakak iparnya yaitu kakak dari tante Adara. Pendiri pesantren ini bernama ustadt Mahessa Yunus merupakan kakak ipar tante Adara. Dan pemuda di hadapannya ,yang sedari tadi Marisa marahi itu adalah putra ustadt Yunus.


Belum hilang keterkejutan Marisa. Tentang siapa pemilik pesantren tersebut,dari arah dalam keluar seseorang yang membuatnya tercengang.


" Cowok itu ~" batin Marisa


Matanya membelalak terkejut melihat sosok yang tak asing yang tengah menghampiri mereka.


Pakaiannya sama persis seperti yang ia kenakan kemarin.

__ADS_1


Marisa begitu juga keempat temannya tak henti saling memandang satu sama lain. Bergantian memerhatikan antara pemuda sholeh berpakaian santri dan pemuda yang sedang berjalan ke arah mereka.


__ADS_2