Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Ngidam part 1


__ADS_3

Hari-hari tenang kembali setelah semua permasalahan terselesaikan.


Semua aktivitas berjalan dengan sangat baik,Rudi kembali ke perusahaannya.


Begitu pun Haris. Divya bisa bernafas lega menjalani perannya sebagai ibu dan calon ibu lagi dari janin dalam kandungannya.


Usia kehamilannya kini memasuki usia lima bulan. Setiap hari Divya mengantar dan menjemput Marisa yang sudah mulai kembali ke sekolah.


Seperti biasa bodyguard bayangan siaga mengawasi setiap pergerakan mereka.


Tanpa menunjukkan siapa jati diri Marisa bersekolah layaknya anak-anak pada umumnya. Ia dilarang keras berbicara pada orang asing apalagi jika harus ikut dengan ajakan mereka.


Gadis empat tahun yang polos itu hanya mengangguk saja ketika segala aturan di sebutkan satu persatu oleh bundanya.


Di tempat lain keluarga almarhumah mbok Jum juga kembali damai, tidak ada lagi teror yang menyerang mereka.


Kehidupan pun kembali normal.


Siang ini seperti biasa Divya menjemput Marisa dari sekolah.


Ia mendapati putri cantiknya itu tengah termenung sendiri.Ia mengadukan banyak hal hari ini. Mulai dari temannya yang nakal sampai Icha yang terpaksa memungut sampah karena teman-temannya membuang sampah sembarangan di hadapannya.


Ia di marahi guru karena bertengkar dengan anak laki-laki.


"Permisi nyonya ! Selamat siang ! "


Seorang guru menghampiri Divya


saat masih berada di depan


ruang kelas.


"Iya bu, selamat siang"


jawab Divya sopan.


"Sebelumnya mohon maaf sekali nyonya, saya terpaksa menghukum putri nyonya, sebab~"


"Tidak apa-apa. Saya mengerti "


ucap Divya memotong perkataan sang guru.


Ia mengerti apa yang ingin guru ini sampaikan.Guru Marisa yang memang tahu siapa Divya dan putrinya.


"Jika anda tidak menghukum putri ku maka anda akan dianggap tidak menegakan keadilan,bukan? "


"Marisa memang putri saya dan suami tapi itu di rumah, disini ,di sekolah anda adalah orangtuanya yang berhak menghukum Marisa jika dia bersalah" imbuh Divya.


Siapapun kalian ,bahkan anak mentri sekalipun .Di sekolah kalian semua adalah anak-anak bagi setiap guru. Guru merupakan orangtua kedua kalian yang mana mereka berhak menentukan benar atau salah. Tidak ada perbedaan antara setiap anak dimata setiap orangtua.


"Baiklah saya tidak khawatir kalau begitu karena saya tahu siapa bundanya Marisa ini. Anda seseorang yang sangat bijak nyonya"


ucap sang guru itu tersenyum lega.


Setelah itu Divya pamit pulang ke rumah membawa serta putrinya yang masih memasang raut wajah masam.


Divya tersenyum melihat itu.Sesaat terlintas pemikiran dimana ia ingin anaknya kembali ceria.Ia tahu apa yang bisa membuatnya bahagia.


"Sayang pulang nanti bawa dia ke rumah. Aku tidak mau mendengar penolakan atau anak dalam kandungan ku ini, dia akan sedih kalau keinginannya tidak di turuti .Ok ! "


Isi percakapan Divya di telpon setelah mereka sampai di rumah.


Mama Rahma yang mendengarkan percakapan antara anak dan menantunya lewat sambungan udara itu hanya tersenyum saja.


"Papa-nya Icha siapa lagi"


ucap Divya masih dengan nada suara memelas.


"Kamu bilang mau menuruti semua keinginan ku,kau ayahnya. Papa icha sayang"


"Pranando! Jangan pura-pura deh"


"Idih ! "

__ADS_1


"Ya memang ngidam ku itu sekarang, siapa yang mau kau salahkan coba"


"Sudah ya ku tutup telponnya. Ingat jangan berani pulang kalau tidak membawanya"


Ia lantas tergelak bersama Mama Rahma setelah menutup panggilan di ponselnya. Sudah di pastikan jika Haris saat ini tengah menggeram kesal .


Divya memberikan isyarat telunjuk di bibir, takut Marisa yang sudah masuk ke dalam kamar mendengarkan semua rencananya.


"Papa dimana Ma ? " tanya Divya kemudian ketika tak mendapati keberadaan Papa mertuanya disana.


"Papa mu sedang bersantai di taman belakang "


jawab Mama masih dengan majalah di tangannya.


"Oh ok ! Aku pikir sedang keluar,Divya ke kamar dulu ya, Ma"


ucap Divya pamit pergi ke kamarnya.


"Heum" Rahma menjawabnya dengan anggukan.


***


Sementara itu Haris tengah kesal saat mendapati istrinya yang menginginkan hal paling aneh di muka bumi.


Bertemu dengan Pranando ! Pria itu lagi.


"Astaga kalau kau minta yang lain aku akan rela melakukannya sayang"


"Kalau perlu ambil seluruh kekayaan ku ini dari pada kau minta bertemu dengannya. "


gumam Haris setelah mendapat telpon dari istrinya.


"Sudah gila apa kau pikir aku akan menuruti permintaan mu" Haris yang jengkel bahkan menggigit ponselnya sendiri gemas.


Bersamaan dengan hal konyol yang dilakukan Haris, Rudi sudah datang ke ruangannya lebih cepat dari waktu meeting yang sudah di tentukan.


Saat ini waktu baru menunjukkan pukul 11.30 sementara meeting baru akan di mulai setelah jam makan siang.


ucap Rudi begitu ia masuk tanpa mengetuk pintu.


" Sialan ! Kau tidak bisa mengetuk pintu? "


Haris melempar ponsel itu di sampingnya.


Rudi pun tergelak melihat tingkah dan raut wajah merah adiknya.


"Hei. Ada apa? "


Masih dengan menahan tawa ia duduk di sofa di samping Haris .


"Ada masalah lagi ? Sampai melampiaskannya pada ponsel yang tidak berdosa itu"


Rudi kembali tergelak.


"Diam kau, sialan ! " Haris melempar bantal.


"Aku pusing, kau tahu ? Apa semua ibu hamil seperti Divya"


"Apa maksud mu? "


"Keinginannya kali ini, keterlaluan ! "


***


"Apa keinginan mu sayang ? Katakan ! Aku akan membawanya saat pulang dari kantor nanti"


Saat itu.


Saat Divya menelponnya tadi, bukan saja membuat laki-laki itu berbinar. Ia begitu bersemangat karena tak seperti biasa Divya akan menghubunginya lebih dulu saat ia berada di kantor.


"Apa! Dia siapa? "


Haris di buat geram ketika Divya memintanya membawa pria itu ke rumah. Ngidam macam apa begitu?

__ADS_1


"Papa-nya Icha kan aku"


"Sama saja kan? "


"Kenapa kau tidak menyuruhku sekalian bawa deretan mantan kekasih mu kehadapan mu"


"Seandainya aku yang hamil, akan ku suruh orang membangunkan Marisa-ku dari tidur panjangnya"


gerutu Haris


pelan namun sepertinya Divya masih bisa mendengar itu.


Divya lantas menutup telponnya dan sama sekali tidak menghiraukan Haris.Dia yang entah setuju atau tidak dengan permintaannya.


Dengan kesal Haris terus mengumpat hingga menggigit ponselnya sendiri, tanpa ia sadari Rudi sudah memerhatikannya.


"Jadi itulah alasan si konyol ini hendak memakan ponsel"


Rudi tergelak lagi ketika Haris menceritakan semuanya.


"Aneh bukan ? Ada ngidam seperti itu? "


tanya Haris sambil mengusap wajahnya kasar.


"Ada! Kalau saja kau bukan adikku aku pasti sudah menghajar mu seperti saat aku menghajar Pranando dulu atau si tuan Andri keparat itu"


ucap Rudi tiba-tiba geram.


"Eeh kenapa jadi aku yang kena?"


Dahi Haris sampai mengkerut saking tidak paham.


"Ya untung saja saat itu kau koma"


Apasih?


"Shila ngidam-nya luar biasa, masa pengen nyium pipi kamu."


Rudi memberenggut.


"Hah" Haris yang tengah menyandarkan punggungnya di sofa sontak terperanjak sambil memegangi pipi.


"Serius ?"


Rudi mengangguk.


"Divya ngasih izin gituh? " tanya Haris lagi.


"Ya gituh, walaupun dia cemberut. Tapi~"


"Tapi apa? "


"Sebagai balasannya Divya nyium"


Rudi menunjuk pipinya sendiri dan Haris langsung mengangkat kepalan tangannya.


"Eittss" Rudi mengelak.


" Kita impas" oloknya menjulurkan lidah.


"Divya itu adikku sebelum dia menikah saja aku sudah dekat dengan gadis itu, sedangkan kau dan Shila. Kalau kau bukan adikku sudah ku lepas selang oksigen mu dulu " ucap Rudi berapi-api


menceritakan masa lalu saat Haris koma.


"Kurang ajar! " timpal Haris sambil juga tergelak senang.


"Tapi dulu kenapa Shila lebih memilih mu daripada aku ya?" gumaman Haris bertanya pada dirinya sendiri.


"Jelas karena aku lebih tampan dari mu"


Rudi yang mendengar itu pun menjawab dengan senyum membanggakan diri.


Haris menyunggingkan bibir, mengolok dan memberenggut.

__ADS_1


__ADS_2