
Di keramaian jalanan sebuah kota pinggiran Jakarta,mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Dua orang Pria dan dua orang wanita di dalamnya,termenung tanpa ada satu pun yang mengeluarkan suara.
Divya,Dimas, Ameera dan sang sopir yang mengantar terduduk dalam diam.
Mang Udin sopir yang mengantar mereka hari ini.
Sopir yang sudah hampir delapan tahun bekerja bersama Tuan Santoso.
Usianya kira-kira seumuran Almarhum Ayah Ibrahim.
Duduk di belakang kemudi sudah menjadi tugasnya sehari-hari. Walaupun di Usianya yang tidak muda lagi,beliau masih begitu piawai mengendarai kendaraan roda empat.
Terbiasa mengantar Nyonya Rahma kemanapun ia pergi,terkadang membawakan beberapa berkas kantor yang tertinggal di rumah.
Hari ini tugas mulianya adalah mengantar Nona Muda istri Tuan Muda Haris Santoso,kemanapun nonanya itu pergi .
Beberapa menit kemudian mobil memasuki area dengan gerbang besar bertuliskan Tempat Pemakaman Umum lalu berhenti di sebuah parkiran.
Apa yang mereka lakukan di tempat ini?
mengapa mereka datang ke pemakaman?
segelintir pertanyaan pasti terlintas di pikiran sang sopir yang setia mengantar tanpa banyak bertanya.
Nona hanya mengatakan jika ia hendak berziarah ,ke makam siapa dia pun tidak tahu.
Sampai di pemakaman Ketiga bersaudara itu turun membawa wadah berisi bunga. Mang Udin juga turut serta mengikuti mereka di belakangnya.
Tiba di salah satu makam.
Bukan ,bukan satu melainkan dua.
Makam dengan nisan bertuliskan nama laki-laki dan perempuan. Nika ningtyas dan Ahmad Ibrahim.
"Apa ini makam kedua orangtua nona?" Tanya mang Udin.
"Iya mang,ini makam Ibu sama Ayah saya" Jawab Divya,ia mulai jongkok dan berdoa begitu pula Dimas dan Ameera.
Dimas yang memimpin doa seperti biasanya.
Mang Udin pun turut serta.
Selesai berdoa dan menaburkan bunga mereka pun segera beranjak untuk pulang kembali ke Jakarta.
Namun belum sampai parkiran,
Ameera melihat sosok yang ia kenal tengah berdiri di samping pemakaman.
Walau dua sosok pria itu berdiri menyamping dari tempat mereka berjalan namun jelas, tak mungkin ia salah lihat.
"Kak" Ameera pun berhenti sejenak,menepuk pundak kakaknya yang berjalan di depan.
"Apa?" Divya berhenti demi mendengarkan apa yang ingin disampaikan adik perempuannya.
"Itu" Telunjuknya mengarah ke samping sebelah kanan tempat mereka berdiri,Dimas dan juga mang Udin pun mengikuti arah telunjuk Ameera.
__ADS_1
"Bukannya itu Kakak ipar ya !" Seru Ameera yakin.
"Eh iya itu..." Divya juga merasa yakin ia tak salah lihat. "Ayo !!" Ajaknya menghampiri kedua pria tersebut.
Sementara Mang Udin yang tahu siapa kedua pria itu,masih berdiri tak bergeming.
Tuan ...
Tak berselang lama ia pun mengikuti Nonanya .
"Sayang!" Sapa Divya setelah yakin jika Pria di hadapannya itu benar-benar Haris suaminya.
"Kamu disini?" tanyanya keheranan.
"Divya...! Sayang" Haris yang berdiri bersebelahan dengan Rudi pun nampak kaget dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba.
"Aku..."
"Kamu ngapain disini sayang" Divya kembali bertanya.
Ia lantas melihat batu nisan di hadapannya.
Betapa kagetnya Divya melihat tulisan nama yang tidak asing baginya terpampang di batu nisan.
Marisa???
Astaga,itu ...aku tidak salah lihat,kan?
"Marisa?!" Tak berkedip menatap nisan.
"ini.. ini beneran ini...?" Tergagap ia menunjuk batu nisan dan melihat Haris,bertanya-tanya.
"Sengaja mengikuti kami,iya?"
"Mang Udin" balik bertanya pada sopirnya.
Namun,Divya bahkan mang Udin seperti enggan menjawab.
Lantas Rudi yang sedari tadi diam akhirnya angkat suara.
"Mereka pasti habis dari makam paman dan bibi,iya kan Dimas? maaf tuan saya lupa mengatakan jika makam ibu dan ayah Divya juga disini."Rudi menyesali kesalahannya.
"Kau..." telunjuk Haris menuding Rudi,namun tak sempat bicara salah satu dari mereka menjawab.
"Iya Kak,kami habis dari makam Ayah dan ibu,kami tidak sengaja melihat kakak ipar tadi,jadi kami kesini" Jawab Dimas ,yang lantas menatap nisan sambil bertanya-tanya di dalam benaknya.
Memangnya siapa Marisa itu? Dimas.
"Kak !!" Suara dan tepukan Ameera di bahu membuyarkan segala lamunan Divya.
"Hah" suara kaget yang terdengar dari mulutnya,seakan ia belum sepenuhnya tersadar.
"Kakak gak apa-apa? apa kakak baik-baik saja?"
"Ya..iya kakak gak apa-apa" gelagapan Divya menjawab sementara matanya masih tak bergeming menatap nisan.
"Yakin? kakak bengong begitu?" Ameera merasa khawatir.
__ADS_1
"Eum...ya gak apa-apa sayang,kakak cuman kaget aja" Memamerkan senyumnya agar Ameera tidak merasa khawatir lagi.
"Jadi makam mertuaku juga disini,Rud?" Haris bertanya seakan mencoba melumerkan suasana.
"Iya Tuan" jawab Rudi.
"Ayo aku juga mau ziarah, mereka Ayah dan Ibuku juga kan?. Ayo antar kakak kesana !" Ajaknya pada Ameera dan Dimas.
Kedua kakak beradik itupun lantas mengikuti langkah kaki kakak ipar mereka.
Saat melewati tempat mang Udin berdiri,Haris berhenti sejenak.
"Kenapa mang Udin tidak bilang mau kesini?" Ekspresi yang sulit digambarkan,antara kaget,kesal plus mungkin seperti orang terciduk,bertanya dengan sorot mata tajam yang memang sudah biasa ia tunjukkan .
Mang Udin pun lantas menunduk menyadari kesalahannya.
"Maaf Tuan,saya pikir Nona sudah minta izin"
"Hiiish" Haris mendengus kesal,lalu kembali melangkahkan kakinya .
"Dimana makam ibu sama Ayahnya?" Sambil terus berjalan beriringan .
Ameera Dimas saling sikut," Jawab kak" bisik adik bungsunya.
"Issh kau!!" melengos " Itu kak ! itu tuh sebelah sana" telunjuknya mengarah tepat ke sebrang jalan setapak yang mereka lalui.
"Kamu duluan jalan ,Dim!" titah Haris kepada Dimas.
"Eh iya Kak" Akhirnya Dimas berjalan mendahului Haris disusul Ameera paling belakang .
Sementara itu Divya masih tak beranjak dari makam Marisa. Rudi dan Mang Udin menemaninya disana.
Ia berjongkok mengusap tulisan nama Marisa lalu melihat tanggal kematiannya.
Tanggal yang menunjukkan jika hari ini tepat tiga tahun kepergiannya.
satu hari sebelum Ibunya,karena besok ibunya pun tepat lima tahun sudah ia meninggalkan Divya dan adik-adiknya.
Jadi ini yang di maksud mama tadi pagi? jika hari ini beda.Hari dimana Marisa sudah meninggalkan Haris selama tiga tahun.
Ironis jadi karena ini Haris terpuruk selama ini.batin Divya menyimpulkan.
"Kak !" Ia mendongak melihat kakaknya,Rudi yang masih berdiri tak bergeming.
"Kenapa Haris tidak pernah cerita soal ini?"
"Mungkin...dia memang belum siap menceritakannya padamu" Jawab Rudi
"Sudahlah nanti kau tanya sendiri,tapi ingat jangan buat dia tersinggung" pesannya pada Divya.
"Baik kak!" Divya menurut,sampai akhirnya ia kembali mengusap batu nisan sebelum akhirnya kembali berdiri .
Maafkan aku Marisa,aku tidak tahu kalau kau sudah tiada.
seranya mengusap dada mengambil nafas dalam,masih seperti mimpi,ia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Kakak susul Haris dulu ya" Mengusap rambut Divya,yang sedikit tertutup kerudung,ia melangkahkan kaki menuju makam Paman dan bibinya.
__ADS_1
Divya dan sang sopir berjalan menuju parkiran, mereka memutuskan menunggu di mobil.