
Tak terasa setelah setengah jam pejalanan mereka dari Rumah Fram akhirnya sampai juga di kediaman Tuan Santoso.
Kedua mobil mewah itu memasuki
gerbang utama.Rumah mewah bak istana raja yang Divya lihat.
Walaupun begitu ia tidak merasa kaget lagi,mungkin karena Divya sudah pernah datang ke tempat ini sebelumnya.
Setelah mobil berhenti Divya pun turun,
mengikuti langkah sang tuan rumah. Begitu memasuki pintu utama
mereka sudah di sambut deretan pelayan dan mbok Jum tentu- nya.
Pelayan sepuh itu masih tetap bertahan hingga saat ini meski usianya terbilang sudah tidak muda lagi.
Para pelayan itu serentak menunduk hormat.
Divya memang gadis yang ramah terbukti ia membalas sambutan dengan senyuman yang begitu hangat dan tulus.
Mbok Jum langsung menyapa saat Divya berdiri di hadapannya.
"Loh ini Non Divya, kan?" tanya mbok Jum sambil menunduk hormat.
"Eh iya mbok ini saya, Mbok masih inget ternyata."
Gadis yang disapa itu tersipu malu.
Satu kali Divya bertemu dengan mbok Jum di malam hari pula, tapi mbok Jum tidak lupa kepadanya. Ia pun tersenyum haru.
"Antar Divya ke kamar Mbok!"
Tuan besar memerintah mbok Jum.
Sementara beliau bergegas masuk ke ruang kerja diikuti Haris dan Rudi.
"Baik tuan !"
Mbok Jum manut seranya meraih tas nona muda-nya dari tangan pelayan.
__ADS_1
"Mari ikuti si mbok," ajak mbok Jum mengajak Divya untuk segera mengikuti langkahnya.
"Iya mbok!" Divya pun melangkah mengikuti mbok Jum di depannya.
Sedangkan nyonya Santoso melengos pergi ke kamarnya sendiri, sorot mata tidak suka tergambar jelas saat melihat Divya menantunya itu menaiki anak tangga.
Setelah di dalam kamar, ia menatap ruangan besar yang mewah itu, ranjang tempat tidurnya begitu elegan dan terlihat mahal.
Astagfirullah ... ranjangnya saja mungkin seharga rumahku di desa.
Gumam Divya.
"Mbok, ini kamar tidurnya?"
Divya bertanya seakan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mungkin saja aku ini akan disuruh tidur di kamar pembantu, monster itu kan menikahiku bukan karena keinginannya.
Atau kalau pun ini kamarnya mungkin
aku akan disuruh tidur di lantai olehnya, atau juga, minimalnya tidur di sofa.
Sofa nya saja masih lebih bagus di banding ranjang tempat tidur ku dan Ameera di rumah paman.
"Iya, Non, ini kamar Tuan muda, itu artinya nona Divya juga tinggal di sini. Kalau Non butuh sesuatu panggil si mbok saja," jelas mbok Jum.
"I-iya, Mbok." Masih dalam keterkejutan
Divya pun tersenyum kaku.
"Si mbok masih ndak nyangka loh, kalau Tuan muda nikah sama sepupunya tuan Rudi, lebih-lebih Nona orangnya.
Tak kira waktu itu yo pulang bareng itu siapa? Pas tanya, kata tuan Rudi nona hanyalah rekan kerjanya di kantor, Nona juga waktu itu bilangnya begitu."
Si mbok tampak berbinar ketika menguraikan rasa bahagianya.
"Hehe, iya, Mbok. Aku gak pantes, ya, jadi Nona Haris, Mbok?"
Divya , gadis itu tertunduk malu dengan tawa mengusir canggung.
__ADS_1
"Eh bukan seperti itu maksud si mbok!"
Mbok Jum merasa bersalah karena ucapannya membuat Divya mungkin tersinggung.
"Itu loh anu...eum ...."
Beliau bahkan sampai bingung mau menjelaskan apa.
"Gak apa-apa, Mbok, Divya ngerti kok!"
Divya mengelus pundak mbok Jum agar dia tidak merasa bersalah.
Masya Allah gusti baik sekali
anak ini, semoga anakku Haris bahagia ya Allah.
Mbok jum mengelus dada seranya berdoa.
"Oh iya Mbok. Maaf tempo hari saya bohong, Kak Rudi yang minta supaya Tuan muda jangan tahu dulu saya sepupu-nya. Maaf, ya, Mbok."
Divya tersenyum tulus meminta maaf
soal kejadian saat dia ikut pulang mengantar tuan muda bersama kakaknya, Rudi. Malam itu, Divya menunggu di luar ditemani mbok Jum.
Mereka sedikit berbincang. Saat itu, Divya mengaku mengenal Haris dan Rudi sebagai rekan kerjanya.
Mbok Jum pun mengangguk paham, dan tentunya ia tidak merasa keberatan dengan sikap Divya tempo hari.
Selanjutnya ia menjelaskan seisi ruangan, dari mulai ranjang tempat tidur, ruang ganti sebelah kiri
ada dua lemari pakaian di sana, masih dalam satu ruangan
dan juga ada kamar mandi.
Divya melihat-lihat sebentar, sampai membuka pintu kamar mandi.
Ia memutuskan akan mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar mandi itu, karena tidak mungkin ia ke dalam sana dengan gaun putih yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah itu mbok Jum pamit keluar, meninggalkan gadis itu seorang diri dengan segala sesuatu yang masih sangat asing.
__ADS_1