
Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam Haris langsung menghubungi Rudi memintanya menyiapkan pesawat jet pribadi untuk segera meluncur kembali ke kota S dimana mantan pengasuhnya itu berada.
Rudi dengan tergesa datang ke rumah Haris memastikan sendiri ada apa dengan adiknya sehingga menelponnya terburu-buru dan juga terdengar panik.
Menurut Rudi, Haris tidak akan meminta kendaraan mewah itu jika tidak dalam keadaan genting.
Sesampainya Rudi di rumah Mama kandungnya ia segera memeluk Haris yang nampak rapuh , laki-laki itu berderai airmata.
"Sekarang ceritakan ada apa? "
Rudi merenggangkan pelukannya.
Divya tertunduk begitu juga Mama Rahma.
"Om? "
Rudi beralih pada tuan Santoso yang nampak lebih tenang.
"Ibu asuh Haris"
Santoso tersenyum getir.
"Mbok Jum? "
tanya Rudi, menebak siapa yang di maksud ibu asuh Haris oleh tuan besar.
"Ya ! Dia meninggal dunia, Rud. Tadi tepat pukul tujuh"
Tuan besar menuturkan kejadian yang sebenarnya.
"T~tapi kenapa? Kemarin dia baik-baik saja tidak terlihat sakit sedikitpun "
tanya Rudi heran.
Dan memang benar adanya. Pengasuh yang sudah puluhan tahun mengurus rumah ini dalam keadaan sehat kemarin. Meski usianya sudah sepuh ia tidak mengeluhkan sakit apapun juga.
Mengapa tiba-tiba ada berita seperti ini.
"Apa ini akurat ? Beritanya maksud ku. Darimana kalian mendapatkan informasi ini? "
Rudi meragukan satu hal jika mungkin saja ini adalah berita bohong hanya untuk membuat keluarga ini lengah.
"Anaknya sendiri yang menelpon"
tutur Haris yang sudah sedikit bisa mengontrol emosi.
Haris meminta kendaraan khusus agar bisa lebih cepat sampai disana.
Sementara Rudi bimbang karena Shila juga sudah mulai kontraksi.
Saat Rudi tengah menuturkan kebimbangannya saat itulah Mama Rita datang bersama Dimas.
"Pergilah temani Haris, biar Mama yang mengurus isteri mu. " ucap Rita meredam keresahan putra angkatnya itu.
"Baiklah, Rudi titip Shila dan anak-anak ya Ma"
Rudi akhirnya setuju ikut ke kota S bersama Haris dan tuan besar,sementara Mama Rahma dilarangnya demi menemani Divya.
Walau bersikukuh Divya tetap tidak di izinkan untuk ikut menemani suaminya.
Sesampainya disana, semua mata tertuju pada sosok tiga pria dengan deretan pengawalan yang sangat ketat.
__ADS_1
Semua orang tertunduk memberi hormat.
Malam itu juga semua orang tahu jika dua pria diantaranya adalah pria yang sama yang datang ke rumah mbok Jum kemarin.
Tidak pernah mereka duga sebelumnya jika sosok Haris lah anak yang selama ini diasuh oleh mbok Jum.
Wanita itu tidak pernah menceritakan hal apapun tentang majikannya.
Begitupun Haris saat dia ke tempat ini kemarin dengan tidak menunjukkan jika ia adalah orang besar.
Semua terkuak ketika anak sulung mbok Jum mulai menuturkan kronologi meninggalnya sang ibu.
Perempuan yang akrab disapa mbak Lastri itu mengatakan jika ada tiga pria asing yang mengawasi rumahnya sejak Haris mengunjunginya.
Pria itu bahkan sempat bertanya tentang tamu mereka kepada para tetangga.
Haris mulai menerka ,tidak salah lagi jika penjahat itu mengincar dirinya. Tapi kenapa? Perihal bisnis kah atau ada motif lain. Mengapa harus keluarga mbok Jum. Apa nyali mereka tidak cukup untuk mendatangi istana Haris secara langsung?
Pengecut!
Dengan emosi yang kembali bergejolak Haris mulai melancarkan penelusuran atas kasus ini.
"Cari titik terangnya sampai dapat ! "
Teriakan Haris memekikkan gendang telinga para pelayat di rumah mbok Jum.Perkataannya yang tegas penuh penekanan menandakan jika ia begitu serius.
"Aku tidak mau mendengar kata gagal dari kalian"
Entah siapa yang Haris hubungi tapi percayalah jika seseorang di seberang sana tengah mengusap telinga demi mendengar teriakan serta segala tuntutan tuannya.
"Cari pelakunya sampai dapat !"
Haris menutup satu panggilan dan melanjutkan panggilan lainnya.
"Perketat pengawasan rumah! Perketat penjagaan.Jangan ada yang lengah.Termasuk juga keluarga yang lain. Istri dan anak Rudi ,Dimas dan isterinya. Semuanya! Kerahkan anak buahmu kau paham! "
Ameera,Haris juga teringat tentang adik iparnya itu. Ia mengirimkan pesan pada gadis yang baru menikah itu untuk tidak menunjukkan identitasnya sebagai adik dari istrinya.
Rudi yang sedari tadi memerhatikan berusaha menenangkan adiknya itu.
"Kau tenang, Ris! Tenanglah "
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang dalam keadaan seperti ini. Aku juga meninggalkan anak dan istriku
di rumah ."
Haris mengerang frustasi.
Mengapa ia bisa sampai lengah. Dasar bodoh! Berkali-kali pun Haris mengumpat sudah tidak ada gunanya lagi. Semua sudah terjadi dan itu atas kesalahan dirinya. Jika saja Haris tidak datang ke rumah mbok Jum ini,mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi.
Apa mungkin ada yang tahu kedatangannya kesini ? Padahal Haris datang dengan tidak menunjukkan jika dirinya seorang presdir yang bukan hanya memiliki banyak kerajaan bisnis tapi juga memiliki banyak musuh.
Haris datang kemarin hanya bersama Rudi. Tanpa supir bahkan pengawalan.
Dengan kendaraan paling sederhana.
Atau mungkin ada penguntit yang selalu mengawasinya selama ini.
Berjam-jam Haris terus di hantui rasa gelisah. Keesokan paginya jenazah pengasuh yang sudah Haris anggap seperti ibunya sendiri itu akan di kebumikan. Betapa hancurnya ia kala mengingat baru kemarim ia memeluk wanita itu.
Selesai acara pemakaman Haris berjalan gontay di ikuti semua warga desa yang turut mengantar jenazah ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
__ADS_1
"Semoga arwah mu tenang di alam sana IBU "
"Aku putra mu bersumpah demi ketenangan jiwa mu akan sesegera mungkin menangkap orang yang telah keji melakukan ini pada mu"
Jeritan hati Haris begitu memilukan.
Suara notifikasi di ponselnya membuyarkan segala lamunannya.
Ia berhenti sejenak,Rudi dan tuan besar pun juga sama.Warga desa menunduk sebelum mereka berjalan mendahuluinya.
Seseorang mengirim pesan dengan nomor yang tidak dikenalnya.
"Selamat Tuan muda! Selamat atas duka mu dan kebahagiaan ku"
"Jangan risau, ini belum apa-apa bersiaplah untuk target selanjutnya "
Di sertai sebuah foto dimana itu memperlihatkan sosok Marisa putri kecilnya.
Haris begitu marah wajahnya tak lagi suram karena duka, melainkan ada amarah besar yang ia tunjukkan disana.
Matanya sukses membulat sempurna.
"Rud! Lihat ini"
Haris menunjukkan layar ponselnya dan mulai mendial nomor itu. Tapi, nihil nomor sudah tidak aktif.
"Berikan nomor itu ke ponsel ku akan ku suruh seseorang melacaknya"
titah Rudi dan Haris pun menuruti.
"Siapa kira-kira musuh kita ini ?" ucap tuan Santoso ikut geram.
"Cucu ku dalam bahaya sekarang"
Beliau mengedarkan pandangan ke segala arah, melihat jika mungkin ada yang mencurigakan.
Pengawal di belakang mereka pun sigap waspada.
"Ini seperti sebuah peringatan! Mbok Jum bukanlah sasaran utamanya"
Rudi berspekulasi.
" Kita harus secepatnya meninggalkan kota ini.
Sebelum itu minta pihak kepolisian untuk perlindungan khusus bagi keluarga almarhumah" imbuh Rudi.
***
Sementara di tempat lain Divya tengah mengkhawatirkan keadaan Haris, Rudi dan Papa mertuanya.
Marisa berlarian di depannya hingga tidak sengaja menyalakan acara televisi yang menunjukkan jika ada peristiwa besar di kota S.
"Seorang mantan pengasuh di ketahui bernama Jumiati usia 75 tahun meninggal dunia dalam insiden perampokan di rumahnya,penyerangan brutal itu terjadi sekitar pukul tiga sore hari dimana masih sangat ramai. Entah ini murni motif perampokan atau ada hal lain yang mendasari perbuatan nekat pelaku yang melancarkan aksinya
di siang bolong"
"Tim redaksi telah mengumpulkan berita bahwa sehari sebelumnya rumah ini kedatangan tamu yang tak lain adalah anak asuhnya selama almarhumah bekerja.Seseorang mengaitkan kejadian ini dengan mantan majikannya yang di ketahui seorang presdir terkenal yaitu tuan Haris Santoso"
Tim Redaksi xx melaporkan dari tempat kejadian.
Divya terksaiap mendengar berita itu.
__ADS_1
Begitu juga Rahma yang baru datang dan masih berdiri di belakang sofa.
Inikah cara mereka menjatuhkan pamor seorang Haris Santoso .