Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Episode 77. Pikiran yang berkhianat


__ADS_3

Sebuah mobil mewah memasuki pelataran rumah keluarga Santoso.


Seorang gadis turun setelah mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk.


Tak pernah sedikitpun ia bermimpi jika sekarang ia berada di tengah kemewahan.


Rumah megah bak istana.


Mobil mewah lengkap dengan sopir pribadi.


Juga deretan pelayan yang bisa dan sigap kapanpun Divya memberi perintah.


Semua ia dapatkan sekarang karena Haris,karena menikahinya.


Apakah ini sebuah kesalahan?


atau


Ini adalah sebuah pilihan.


Pilihan?


Atau keterpaksaan.


Mungkin Takdir.


Entahlah.


Apa ini sebuah kebahagiaan?


Yang Divya rasakan saat ini mungkin memang kebahagiaan,ia sendiri masih ragu.


Divya,gadis periang yang juga sangat sensitif kalau sudah urusan hati.


Ia tipikal orang yang susah buat jatuh cinta,namun selalu bisa menerima kebaikan orang dengan mudah.


Seperti


Kesalahan pria bernama Nando Wiryawan,ia yang menghilang selama hampir 6 tahun lamanya,lalu kembali dengan sifat yang berbeda,arogan dan terlalu Obsesi terhadapnya,


hingga memicu sebuah hal yang dirasa tidak pantas dilakukan seorang yang berpendidikan seperti dirinya.


Namun semua itu mampu ia maklumi ketika mengingat kembali kebaikannya beberapa tahun silam .


Lalu


Haris Santoso,Pria Kasar ,Dingin, Emosional,bahkan sering ia sebut monster .


Ia luluh dengan kebaikannya walau hanya beberapa saat.


Dalam hitungan pekan ia sudah jatuh kedalam cinta yang tak pernah ia tahu seperti apa akhirnya nanti.


Yang Divya tahu dan sangat ia sadari bahwa dirinya sudah memberikan segalanya kepada laki-laki itu.Entah kedepan ia akan bahagia atau tidak.


Mengingat masa lalu Haris saja masih belum ia ketahui dengan pasti.


Marisa, siapa dia?


Dimana dia sekarang?


Mengapa Haris masih sering mengingatnya,menyimpan kenangannya itu bukan hanya dalam hati,tapi juga dalam sebuah memori.


Di ruang Gallery.


Ruangan yang semula sangat diharamkan bagi Divya untuk menginjaknya,


dan setelah kejadian hari itu ,


Divya akhirnya tahu apa yang di sembunyikan Haris .


Sakit.Tentu saja


Rasanya sakit.


Divya berjalan menuju kamar,


sesaat setelah ia mengganti pakaian terdengar suara seperti pesan masuk di ponselnya.

__ADS_1


Ke ruang gallery sekarang !


Isi pesan itu tertulis, Sang Tuan Monster yang mengirim.


Nama kontaknya saja masih sama seperti sesaat sebelum mereka menikah.


"Ruang Gallery ? ngapain?" gumam-gumam kecil,sambil membenarkan ikatan rambutnya.


"Memangnya aku sudah boleh kesana sekarang?"


"Tau dari mana dia aku sudah di rumah" akhirnya membuka pintu ruangan itu.


Suasana hening seketika berubah tatkala sebuah lagu diputar,alunan nada romantis,senandung yang pernah Divya nyanyikan tempo hari dengan memainkan piano.


Dia indah meretas gundah


dia yang selama ini ku nanti


membawa sejuk,membawa rasa


Dia yang selalu ada untukku


Di dekatnya aku lebih tenang


bersamanya jalan lebih terang


Tetaplah bersamaku jadi teman


hidupku


Berdua kita hadapi dunia


kau milikku ku milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


Kau milikku ku milikmu


kau milikku ku milikmu.


Mata Divya berkeliling mengitari setiap sudut ruangan.


Hanya ada sebuah foto pernikahan dia dan Haris di sana.


Menempel di sisi kiri ruangan.


Haris memeluknya dari belakang,saat Divya terpaku menatap dinding kosong.


"Kenapa sayang? ini yang kau mau kan ?" Haris mengeratkan pelukannya.


"Yang ku mau? "


Memangnya apa yang ku mau?


"Kau mau aku menganggap Masa lalu hanya sebagai kenangan yang tidak pantas dikenang bukan"


"Aku sudah kabulkan keinginan mu"


Imbuhnya lagi,sudah dua kecupan mendarat di pipi Divya.


Keinginan? aku tidak pernah mengatakan itu.walaupun aku senang melihat ini sekarang.


"Tinggal kau yang harus bisa melupakan dia" Kata-kata Haris yang membuat Divya terhenyak.


Terang saja sejak tadi pagi ia justru memikirkan keberadaan Nando.Bagaimana keadaannya?


Apa dia baik-baik saja atau tidak?


Ya Tuhan serasa berkhianat aku sekarang.batinnya menjerit.


"Kenapa?" lirih Divya ,memegang tangan Haris yang memelukannya.


"Kenapa kau lakukan ini,aku tidak pernah memintanya, kan?!"


"Aku tahu kau masih sangat mencintainya,tidak perlu lakukan ini jika ini menyiksa mu"


"Kau mau berbaik hati menerima pernikahan ini saja sudah cukup bagiku,sayang" Ya bagi Divya itu yang terpenting sekarang.

__ADS_1


"Kau tanya kenapa? karena aku mencintaimu Divya.Sekarang dan selamanya,apa kau masih tidak bisa melihat itu" Haris melepaskan pelukannya.memilih menyandarkan diri di kursi depan piano.


"Kau sendiri bagaimana? sudah bertemu dengannya,bicara baik-baik pada laki-laki brengsek itu !" Haris mematikan alunan musik yang ia putar sadari tadi,menatap lekat Divya yang tertunduk .


"Aku...aku." Divya tergagap menjawab.


Saling bersitatap,ada kemarahan di mata Haris.


"Dia tidak masuk kantor hari ini,aku tidak bertemu dengannya" Begitulah akhirnya Divya menjawab.


"Kenapa?" dengan masih tak bergeming.


"Aku tidak tahu" Divya memalingkan wajahnya.


"Pantas saja kau murung begitu"


"Apa maksudmu ?"Divya kembali menatap Haris yang kini tak berkenan menatapnya.


"Ya,kalau kau sudah bertemu dan bicara dengannya pasti wajahmu itu ceria, kan" Pernyataan telak yang membuat Divya semakin merasa bersalah.


"Sayang" Berusaha mencairkan suasana,Divya masih berdiri di hadapan Haris ,meraih wajah haris dengan tangan kanannya agar ia mendongak.


"Maaf"


"Kau sendiri tidak pergi ke kantor hari ini?"


"Tidak"


"Kenapa?"


"Menurut mu apa ?"


"Kau marah padaku?"


"Apalagi"


Senyum sinis tercetak dibibir Haris.


" Bagaimana bisa kau bersikap seolah dia tidak pernah bersalah padamu,Divya."


Seketika gadis itu melepaskan tangan menjauhkannya dari wajah Haris.


Dia marah? Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan. menunduk semakin dalam.


"Dengar..!" Haris menghela nafas berat.


"Pergilah ,kalau kau lebih mencintainya.Tinggalkan aku.Jika kebahagiaan mu ada padanya" keseriusan tergambar jelas di matanya.


Hancur mendengar semua itu harus keluar dari mulut suaminya.


"Sayang...bagaimana mungkin "


Mereka saling bersitatap.


"Bagaimana mungkin kau punya pikiran seperti itu,Setelah semua yang terjadi diantara kita"


"Aku tahu sejak awal kau terpaksa menerima ini, kan?" Meraih pipi istrinya mengusap lembut."Pergilah jika kau merasa tidak bahagia denganku"


"Sayang..." Tak terasa airmata menetes di pipi.


"Sudah aku katakan sebelumnya jika tidak akan memaksamu kalau kau masih belum bisa menerima pernikahan kita"


"Maafkan aku"


"Kau sendiri yang mengatakan jika kau sudah mulai mencintai ku lantas kenapa kau masih meminta izin dariku untuk bicara dengannya,bicara baik-baik,Cih"


"Kau lupa ,jika saja aku tidak datang tepat waktu ke appartemen itu mungkin saja kau sudah..." tidak berkenan melanjutkan kata-katanya .


Memalingkan wajahnya,menyembunyikan sudut matanya yang mulai berlinang.


"Ya...sudah dia renggut kesucian ku,itu maksudmu kan? aku tidak pernah berbohong dengan perasaan ku padamu,aku hanya ingin memastikan jika dia sudah menerima hubungan kita ini.aku hanya tidak ingin ada dendam dan kesalahpahaman .


Aku tahu aku salah aku minta maaf"


"Kau yakin dengan jawabanmu?"


Divya mengangguk yakin,itulah tujuannya hanya untuk meyakinkan jika Pria itu tidak akan lagi mengusik hidupnya sekarang.

__ADS_1


Walaupun ia sendiri tahu tidak mungkin Nando berani berbuat macam-macam setelah mengetahui siapa yang menjadi suaminya.


"Ikut aku !" tiba-tiba saja Haris meraih tangannya,mengajaknya pergi entah kemana.


__ADS_2