Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Negara bersalju


__ADS_3

Empat tahun kemudian


"Ma,Pa aku berangkat sekarang"


Pamit wanita yang tengah susah payah menyeret koper di anak tangga.


Tak lama pelayan membantunya membawakan koper itu ke mobil.


"Iya sayang kamu hati-hati ya ?! Jangan lupa sampai disana langsung kabari kami"


Pesan sang Mama pada wanita itu.


"Semoga semuanya lancar disana ya,nak.Sekarang semua tanggung jawab ada di pundak mu"


Suara Papa juga terdengar menyemangati.


"Iya ,Pa"


"Jaga kesehatan Papa sama Mama,aku juga titip~"


Menunjuk dengan ibu jari arah kamarnya sendiri.


"Iya sayang tenang saja,nanti pasti Mama kabari kalau dia siuman"


Pungkas sang Mama .


"Icaa ayo cepat !"


Dia berteriak-teriak memanggil nama Icaa yang tak kunjung keluar kamar padahal mereka akan segera berangkat menuju bandara.


"Icaa sayang,kamu kenapa lama sih ? Ayo cepetan nanti kita terlambat !"


Teriaknya lagi.


"Kau sedang meneriaki siapa nyonya,aku ada disini"


Entah sejak kapan dia ada disana,ia sudah berdiri dengan tangan terlipat di dada.


"Oh ya ampun !"


Menepuk jidat nya sendiri,tak habis pikir dengan tingkah anak ini.


"Mama kenapa gak ngomong sih !"


Sang Mama hanya menggedikkan bahu mengelak dari tuduhan.


"Dah Oma dah Opa,muah muah muah"


"Aku akan merindukan kalian"


***


Satu minggu sudah Haris siuman dari koma-nya namun ia masih tak melihat tanda-tanda istrinya berada.Kemana dia hingga sampai hari ini tak menunjukkan batang hidungnya.


Ia memaksakan diri keluar kamar dengan tertatih.


Perlahan menuruni anak tangga.


Selang infus dan yang lainnya memang sudah di lepas dokter,tapi untuk keluar kamar saja Haris masih harus didampingi orang lain.


Takut-takut ia terjatuh karena staminanya yang belum stabil.


"Ma ! Mama !"


Ia berteriak memanggil Ibu nya.


"Pa ! Papa !"


Tak mendapat jawaban dari ibunya ia pun memanggil sang ayah.


"Hei,kau mau kemana sayang?"


Buru-buru Mama Rahma meraih lengan Haris memapahnya untuk duduk di sofa.


"Apa sih Ma ? Aku bisa sendiri"

__ADS_1


"Ya sudah,tapi kamu kan belum pulih betul Haris.Jangan bandel !"


"Istriku mana Ma?"


Haris langsung menanyakan keberadaan Divya begitu ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.


Mama dan Papa nya tak lantas menjawab .Mereka berlama-lama saling melempar pandangan seakan bertanya satu sama lain.


"Istirahat dulu sayang"


"Ma dimana dia ? Dimana Divya?"


Haris bersikeras menanyakan dimana Divya berada.


***


Bagaimana rasanya berada di negara orang lain yang selama ini sangat ingin sekali kau sambangi.


Negara dengan musim saljunya yang luar biasa,tak akan kita dapatkan di negara ini.


Walau begitu sejauh apapun melangkah seindah apapun negara bersalju nyatanya Divya merindukan kampung halamannya.


Swiss


Di Negara inilah dia saat ini,sudah hampir dua bulan lamanya.


Merindukan hangatnya keluarga,merindukan rumah,merindukan segala apa yang ada disana.


Memikul tanggung jawab besar memang keinginannya.Bakti ia terhadap keluarganya.Divya gadis yang dulu selalu ceria kini bermetamorfosa menjadi wanita dewasa dengan segala pesona.


Satu kebodohannya yang tak bisa ia lupakan hingga saat ini adalah pergi begitu saja dari laki-laki yang teramat ia cintai.


Lemah !


Entah mungkin karena keyakinannya yang begitu lemah membuat Divya tak lagi mendengarkan kata hati.Ataukah rasa takutnya yang besar hingga ia lari lantas sembunyi dari kebenaran.


Jika saja waktu bisa di putar kembali,rasanya Divya ingin sekali mempertanyakan ini kepada Ayah dan Ibunya.


Seandainya saja waktu bisa melangkah mundur,ia tidak akan membuat kesalahan yang membuatnya harus melihat laki-laki itu menderita,terbaring sakit.


"Masih mikirin dia ?"


Suara laki-laki membuyarkan kenangannya.Dia menyodorkan sebotol air mineral pada Divya,ia menerimanya lantas menenggak isinya hingga separuh.


"Lihatlah,mana mungkin selincah itu jika hubungan kalian salah.Sudah pernah aku katakan bukan ? Jangan pernah lari dari masalah"


Melihat dua gadis kecil berlarian kesana kemari memainkan bola,membuat Divya mengulas senyum di bibirnya.


Benar ! Itulah kenyataannya,gadis kecil berparas manis itu mirip sekali ayahnya.


Cantik,pintar,lincah.


"Ya kau benar !"


Divya membenarkan apa yang di katakan laki-laki di sampingnya


"Bunda,Papa aku mainnya disana ya?"


Seru salah satu dari mereka.


"Iya sayang jangan jauh-jauh ,ok ?!"


"Ok bunda !"


Memberi isyarat jari dengan sangat lucu kepada bundanya yang selalu sukses membuat wanita itu menggelengkan kepala dengan senyumnya yang semakin mengembang.


"Jagain adiknya !"


"Iya Papa !"


Dua gadis kecil itu berlarian menuju taman tak jauh dari tempat kedua orangtuanya berada.


Memainkan bola,saling melempar.


Hingga salah satu dari mereka melemparkannya terlalu jauh.

__ADS_1


Bola memggelinding jauh ke arah bangku taman,mengenai kaki seorang pria.


Keduanya kini berlari mengejar bola,saling menyikut satu sama lain ketika apa yang dikejarnya tengah dimainkan pria tersebut,memutar-mutar bola dengan kedua tangan kekarnya.


"Kau !"


"Kau saja,ayo !"


"Tidak kau saja !"


Dengus satu gadis yang terlihat lebih tinggi.


"Kamu kan kakakku,ayo ambil !"


"Ekheemm"


Suara deheman itu membuat keduanya diam,tak lagi berdebat.


"Do you want this?"


Si pria itu memperlihatkan bola kehadapan dua gadis kecil itu.


Dan mereka saling menatap sebelum akhirnya menjawab.


"I iya Om. Bisa tolong kembalikan?"


Gadis yang lebih pendek nampak imut dengan lesung di kedua pipinya.


"Kalian dari Indonesia rupanya?"


"Iya Om. Om juga ?"


Kata si gadis yang lebih tinggi,nampak cantik dengan rambut kritingnya.


"Iya,tapi lain kali jangan bicara pada orang asing.Apa orang tua kalian tidak pernah mengajarkan ini,bicara dengan orang asing itu di larang !"


"Iya kami tidak ingin bicara denganmu,tapi bola kami ada padamu kalau kami tidak bicara lalu bagaimana?"


"Apa kami harus mengambilnya dari tangan Om tampan tanpa memintanya terlebih dahulu?"


"Itu,kan tidak sopan"


Anak pintar,cerewet dan bawelnya membuat laki-laki yang di panggilnya Om tampan itu tergelak kecil.


"Pintar sekali,siapa nama mu anak manis?"


Dia lantas sedikit membungkukkan tubuh,menyerahkan bola itu ke tangannya.


"Kau bilang tidak boleh bicara pada orang asing.Aku tidak mau bicara denganmu !"


Jawab si lesung pipi dengan nada jutek,merampas bola lantas pergi meninggalkan om tampan yang masih menahan tawa demi melihat tingkahnya itu.


"Maafkan adikku Om"


Si rambut kriting masih berdiri di tempat.


"Tidak apa-apa,adik mu pintar.Siapa namanya?"


"Dia Marisa adikku"


"Dan kau ?"


"Namaku Melodi,Om baik "


Om baik mengangguk paham,walau gurat di dahinya menyiratkan keterkejutan.


Pertanyaan pertanyaan tiba-tiba saja bermunculan di otaknya.


Siapa dua gadis itu ? Dimana orangtuanya?


Dan nama mereka Marisa,Melodi ??


Siapa yang menyangka jika kini dia harus berdiri di belakang dua insan yang tengah bersenda gurau.


Terdengar panggilan Bunda dan Papa dari kedua gadis kecil tadi.

__ADS_1


Apa yang terjadi sekarang?


__ADS_2