
Bahkan ini sudah terlambat.
Benar-benar terlambat !
Ia merobek kertas itu hingga menjadi serpihan tak berbentuk.
Berjam-jam duduk menunduk memeluk lututnya sendiri.
"Pantas saja selama ini ibu selalu over dalam menjaga kami,ini sebabnya.Clarisa ! Aku punya kakak perempuan bernama Clarisa dan ternyata dia yang selama ini ku kenal lewat cerita suamiku sebagai Marisa , dia hilang saat usia delapan bulan"
Gumam Divya sambil terisak.
"Bertahun tahun hingga aku dewasa ibu selalu melarang ini itu karena takut kehilangan anak lagi"
"Mama memisahkan Haris dan Marisa pasti karena~"
Ia bahkan tak kuasa melanjutkan kalimatnya .
Divya harus apa sekarang ia bahkan sudah mulai berpikir jika mungkin saja hubungannya dengan Haris juga sebuah kesalahan.
ia baru tersadar begitu melihat notifikasi di ponselnya,ada banyak panggilan tak terjawab juga chat dari pria yang selama ini sah menjadi suaminya.
Divya merasa jijik sendiri jika mengingat hal itu,ia berdiri dengan sempoyongan berjalan meraih dinding,tertatih melangkah menuju kamar lamanya.
Divya mengambil beberapa baju ganti yang masih tersimpan rapih di kamarnya.
Bajunya dulu sebelum ia menikah,ia mengenakannya lagi sekarang setelah selesai mandi.
Baju ini yang kecil atau tubuhnya yang mulai menggendut.
Divya merasa sesak memakainya,berputar menghadap cermin.
Ia memegang perutnya sendiri,rasa lapar yang sudah ia tahan sejak pagi tadi.Divya belum mengisinya dengan apapun .
"Aku lapar "
Gumamnya melirik lagi jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore.
Divya memutuskan keluar mencari pedagang makanan di sekitar rumahnya.
Divya masih ingat tempat-tempat makan yang sering ia sambangi dulu.
"Makan bakso enak kayaknya"
Gumam Divya melangkahkan kaki menelusuri jalanan dengan memakai penutup di kepalanya.
Sengaja agar tak ada yang mengenalinya di sana.
Sampai juga di warung bakso pinggir jalan,tempat sederhana itu dulu sering ia datangi setiap pulang kuliah.
Bahkan penjualnya saja masih mengingatnya.
"Eh ini teh neng Divya kan ya ? "
Bibi penjual bakso itu menyapanya.
"Ah iya bibi masih ingat saja"
Seru Divya menyambut uluran tangan wanita itu.Beliau memang selalu ramah,sudah puluhan tahun beliau dan suaminya mencari nafkah di tempat ini.
"Pesanannya neng"
Menyodorkan semangkuk bakso ke hadapan Divya.
"Neng Divya kemana saja? Sudah lama sejak ayah neng meninggal bibi baru melihat neng lagi sekarang."
Si bibi duduk di depan Divya.
"Saya tinggal di Jakarta ,bi"
"Si neng makin cantik ya"
Bibi memuji Divya yang memang terlihat semakin cantik.
"Ah bibi bisa saja"
__ADS_1
Jawab Divya tersipu malu.
"Neng tahu nggak,rumah lama neng yang dulu di tempati pak Hasan sekarang kosong loh neng"
Rumah lama Divya bersama kedua orangtuanya dulu memang tidak terlalu jauh dari rumah kecilnya yang ia tempati setelah terusir oleh pria bernama Hasan.
Pria itu yang diketahui bukan hanya merebut rumah namun perkebunan teh milik ayah juga.
"Memangnya Pak Hasan nya kemana bi?"
Bertanya walau setengah malas membahas hal yang ia anggap sudah tak penting lagi.
"Dua hari lalu ada yang datang dari Jakarta,katanya dia itu yang punya rumah sama perkebunan.Pak Hasan sendiri yang menyerahkannya "
Terang si Bibi.
"Mungkin dia itu sudah tobat neng,habis dulu kan ngusir neng dari sana "
Si bibi yang memang dulu tetangga di rumah besar Divya.
"Isshh bibi jangan gibah ah"
"Eh bener neng itu namanya karma"
Sungguh pembahasan tidak penting ini hanya mengisi kesendirian Divya di meja warung bakso.
"Si neng sendirian kesini?"
"Iya bi"
"Ada keperluan apa?"
"Tidak ada cuman~"
Tiba-tiba saja Divya merasakan mual di perutnya.
"~Cuman"
Oee
"Neng mual? Apa si neng sakit ya?"
Eh memangnya sudah menikah?"
Reflek menutup mulut.
Biarkan si bibi itu menduga-duga,tapi wajah Divya sudah mulai memanas.
Ia terlihat pucat.
"Nggak bi"
Memaksakan senyum di bibirnya.
"O iya bibi tahu siapa orang yang datang nemuin pak Hasan?"
"Kalau tidak salah namanya,Tuan Santoso.Iya ! Tuan Santoso itukan yang dulu sering datang kesini menemui ayah neng Divya"
"Papa"
"Eh apa neng?"
"Enggak bi,makasih ya info nya"
Divya tersadar dari gumamannya menyebut nama Santoso,papa mertuanya.
"Ini bi makasih ya ? Divya pamit pergi dulu"
Seranya menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribu.
"Kembaliannya neng !"
Teriak si bibi namun Divya sudah melenggang pergi tanpa menoleh lagi.
Ia terus berjalan entah arah mana yang ia tuju.Sampai di depan sebuah klinik langkahnya terhenti.
__ADS_1
Divya masuk kedalamnya,klinik yang masih ramai meski waktu sudah menjelang maghrib.
Duduk diantara antrian para pasien.Satu persatu masuk bergiliran menunggu petugas menyebutkan nomor antrian secara berurutan .
Belum apa-apa saja sudut mata Divya sudah mulai meneteskan airmata.
Ia takut bagaimana jika benar ia tengah mengandung.
Hubungannya yang ia anggap salah tak mungkin harus membuahkan hasil.
Rasa berdosanya saja masih membuat hati dan pikiran Divya kacau,bagaimana jika itu benar-benar terjadi.
"Nomor selanjutnya,Nona Divya ! Silahkan masuk"
Begitu akhirnya Divya memasrahkan segala rasa takutnya pada yang kuasa.
***
Keesokan harinya.
Baru saja Divya hendak membuka pintu kamarnya tiba-tiba suara pintu depan di ketuk dari luar.
Ia melirik jam di tangannya sudah pukul sembilan malam.Sudah sangat larut,siapa yang datang.
Apa mungkin Haris? Pikirnya.
Pria itu bahkan sudah tak menghubunginya lagi sejak semalam .
Dia tidak benar-benar mencarinya.
Mungkin sembunyi dari rasa malu yang tak bisa ia pungkiri,seperti Divya yang terus menyalahkan dirinya sendiri.
Tapi apa dia tidak ber-empati sedikit saja.Mengapa harus Divya yang menanggung ini sendiri.
Perlahan Divya kembali berbalik masih menggenggam erat benda kecil di tangannya .
Ia tidak begitu saja membuka pintu,memeriksa siapa yang datang lewat celah gorden.
Sampai ia yakin pintu itu terbuka lebar.
Divya menghambur begitu sosok di hadapannya itu tersenyum .
"Sudah ku tebak kau pasti di sini,Divya"
"Kenapa? Kenapa kau datang kemari ?"
"Aku -aku,eum..."
Divya tidak tahu harus berkata apa,ia bingung dan takut.
Rasa takutnya jauh lebih besar ketika ia tahu bahwa sekarang ada kehidupan baru di dalam rahimnya
"Kaaak !"
Divya menangis sejadi-jadinya,kedua tangannya terkepal erat.
"Ya ampun kamu ~"
Rudi menganga melihat isi rumah sudah berantakan. Ia merangsek masuk.
"Aku takut,kak"
Rudi meraih tangan Divya,ia melihat sesuatu di tangannya,memeriksa apa yang membuatnya sekacau ini.
Tespack
Divya masih merasa sangsi hingga ia mengeceknya berulang kali sepulang dari klinik kemarin sore.
"Kau hamil ?"
"Syukurlah"
Rudi kembali memeluk Divya.
"Aku akan jadi Om dari bayi kalian,lantas kenapa kau menangis dan apa ini?"
__ADS_1
"Obat apa ini ?!"
"Kau mau menggugurkan kandunganmu !"