Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Rumah sakit jiwa


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang. Setelah semua kegelisahan tuan muda. Setelah ia banyak menerka kemana arah mobilnya melaju. Disinilah ia berada sekarang.


Apa ini ? RSJ !


Aku belum gila untuk dibawa ketempat seperti ini, Intan.Sisi Benak Haris mengumpat. Tidak salah lagi plang besar di hadapannya itu bertuliskan Rumah Sakit Jiwa.


Ia menatap heran pada dokter yang sudah menjadi sahabatnya sejak dulu. Untuk apa dia membawaku ketempat seperti ini.


"Aku ingin kau menemui seseorang, Ris"


Intan yang mengerti apa yang dipikirkan Haris pun mulai melangkah masuk.


Tuan muda serta dua pengawal mengekor di belakangnya.


Ada yang aneh, dokter dan perawat di rumah sakit jiwa ini sigap memberi hormat. Mungkin ini karena mereka mengenal siapa laki-laki yang datang itu. Tapi bukan, bukan hal itu yang membuat semuanya terasa aneh di mata Haris. Dokter dan perawat seakan sudah mengenal Intan. Apakah dia sudah sering mengunjungi tempat ini?


Dan lagi siapa yang ingin Intan temui disini.Perjalanan menuju ruangan dimana seseorang yang ingin Intan tunjukkan pun sudah sampai di depan mata. Sebuah ruang seperti penjara.


Kosong.


"Dimana dia ? " tanya Intan pada dirinya sendiri.


Ia menoleh mencari penjaga atau suster yang bisa ia tanyai dimana pasien yang biasa ia temui setiap dua minggu sekali itu. Atau bahkan Intan akan datang jika pihak rumah sakit ini menelponnya.


"Suster " panggilnya begitu ia melihat seorang suster tengah menggandeng pasien perempuan dengan rambut yang mulai memutih dan gimbal membawa boneka di tangannya.


"Dimana dia? " Intan menunjuk ruangan di depannya yang kosong.


"Tadi dia ingin keluar dokter"


Suster itu menundukkan kepalanya hormat.


Sambil tangan menepuk-nepuk wanita gila yang dibawanya agar diam sebentar sementara ia menjawab pertanyaan dari dokter Intan.


"Dimana ? " tanya Intan lagi.


"Sepertinya di taman belakang, dok"


jawab suster itu sambil hendak berlalu karena pasien yang dibawanya meronta-ronta.


Baru saja Intan dan yang lainnya melangkah mereka dikejutkan dengan aksi si wanita gila yang terlepas dari pengawalan suster. Wanita yang membawa boneka tadi kembali berbalik arah dan meronta memegangi lengan Haris sambil mengoceh.


"Sayang ini anak kita "


Pengawal berusaha melepaskan pegangan tangan wanita itu dari tuannya.


"Sayang lihat anak kita tampan seperti mu. Iya kan? "


Perempuan gila itu masih tidak mau menjauh, dia terus menahan Haris dan menunjukkan boneka yang ia bawa.

__ADS_1


"Ah tidak tidak anak kita ini perempuan cantik seperti aku.Haha"


Dia tertawa sendiri. Suster berusaha membujuknya untuk pergi. Satu tangan wanita itu terlepas dari lengan Haris.


"Ayo ikut suster yuk" ajaknya.


"Tuan maafkan ketidaknyamanan-nya disini memang seperti ini "


Suster itu merasa tak enak hati, ia menundukan kepala meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Bawa dia ! "


Saat kedua tangan wanita itu terlepas, saat itulah segera Haris bergegas.


Ia mengusap lengan jas-nya dengan sapu tangan yang sigap diberikan pengawal padanya.


"Mimpi apa aku semalam" gumamnya.


"Dan bahkan aku sendiri tidak tidur semalaman bagaimana aku bisa bermimpi" Haris menggerutu.


"Punya anak dengan wanita gila. Astaga


aku bisa ikut gila kalau lama-lama di tempat ini" keluh Haris pada dirinya sendiri.


"Sebentar lagi sampai. Kau tenanglah? "


"Sepertinya kau sudah terbiasa,Tan? Tidak risih apa melihat banyak orang gila disini ?"


Haris mengedarkan pandangan ada banyak laki-laki dan perempuan gila disini.Ada yang sudah tua ada yang masih sangat muda. Tidakkah Intan risih dengan pemandangan ini ?


Bahkan Haris saja sampai bergidik ngeri.


"Sudah selama dua tahun ini aku sering kesini dua minggu sekali.


Jadi ya sudah terbiasa,Ris"


tutur Intan yang terus berjalan,dan kali ini ia berbelok ke arah kanan.


"Dua tahun ? " Haris tercengang.


"Siapa ? Siapa memangnya yang kau temui disini ? " tanya Haris terheran -heran.


"Kamu lihat saja nanti" jawab Intan singkat tanpa mau mengatakan siapa orang itu.


Beberapa langkah kemudian mereka berhenti. Di sana dengan jarak sekitar lima meter dari tempatnya berdiri, Intan melihat sosok yang sering ia temui. Dia yang ingin Intan pertemukan dengan Haris.


"Lihat itu ! " Intan menunjuk ke arahnya.


"Kau ingat siapa dia? "

__ADS_1


tanya Intan menatap wanita yang tengah melamun di kursi taman di bawah pohon itu .


Ada suster yang menjaganya dari kejauhan.


"Laras ! " Haris tersentak begitu mengingat wajah gadis itu.


Tidak lagi terlihat cantik dengan kulit putih mulusnya. Tidak lagi terlihat anggun dengan rambut panjang yang lurus. Tanpa balutan busana mewah hanya memakai seragam pasien rumah sakit ini. Haris hampir tidak mengenalinya.


"Iya itukah wanita yang kau pertanyakan. Dia yang gadis yang sama yang kau curigai hari ini"


tutur Intan berlinang airmata.


"Bagaimana pun dia mantan adik iparku, meski rasa sakit karena pengkhianatan kakaknya belum bisa aku lupakan"


Bahkan sampai detik ini Intan masih betah menjanda. Manjadi orang tua tunggal bagi kedua anaknya. Semua karena Antonio mantan suaminya yang tega mengkhianatinya. Antonio kakak kandung Laras yang meninggal dalam kecelakaan. Laras wanita gila yang sekarang ada di hadapan mereka.


"Bagaimana dia ada disini? " tanya Haris sembari menatap datar pada gadis itu.


Semua berawal dari penangkapan Laras lebih dari empat tahun yang lalu.


Pengadilan menjatuhi hukuman seumur hidup pada gadis itu bahkan Rahma Santoso pula lah yang menjadi saksi persidangan.


Laras dengan sengaja mencemarkan nama baik keluarga Santoso, mencelakai kekasih Haris saat itu yaitu Marisa. Memperdaya ibu angkat Marisa agar menghasut ayahnya yaitu Ahmad Ibrahim untuk membalaskan dendam namun Ahmad sama sekali tidak terpedaya, ia memilih jalan lain agar semua kebusukan Rahma terungkap,dengan mengirim putrinya sebagai menantu Santoso. Terakhir ia meneror Rahma dan juga Divya.


"Divya ? "


Haris tertegun saat nama istrinya juga di sangkut pautkan.


"Ya! Kau ingat dulu bertemu Amanda putri ku di restoran, saat itu kau dan istri mu tengah makan malam. Laras sengaja membawa putri ku kesana agar Divya salah paham."


Haris mendelik, ia baru menyadari hal itu. Sebelumnya dia pikir semua hanya sebuah kebetulan saja.


"Jadi semua rencananya ?"


Haris kembali menatap Laras yang tengah bersenandung sambil menggerakkan kakinya, sesekali ia juga tertawa lantas menangis tersedu-sedu.


"Ya. Laras sudah beberapa kali meneror istri mu dengan meneleponnya, beruntunglah Divya tidak gegabah. Ia masih mempercayai mu saat putri ku memanggil mu dengan sebutan 'Papa' .Bayangkan saja jika wanita lain ada di posisinya"


"Istri mu itu seperti malaikat Haris. Bahkan saat polisi hendak menahan ibu mu karena kejahatannya. Divya sendiri yang menghalangi. Ia mewakili ayahnya memaafkan segala kesalahan tante Rahma"


Intan menarik nafas dalam, kekagumannya pada sosok Divya begitu besar. Jika dirinya yang ada di posisi itu mungkin sudah tidak akan sudi memanggil Rahma sebagai ibu mertua.


"Dia memang malaikat, Tan. Aku beruntung mengenalnya."


Haris pun tersenyum bangga.


"Apa kau bersedia jika ku minta untuk menemui Laras sebentar ?" tanya Intan lagi.


"Heum, selama itu tidak berbahaya"

__ADS_1


__ADS_2