
Suara Divya tergelak di kamar mandi. Saat ia sedang menyiapkan air untuk Haris. Divya mengingat apa yang baru saja terjadi. Wajah Haris pias begitu ia membuka baju tepat di hadapannya
Lihat monster tampan itu, wajah terkejutnya. *Siapa suruh, m*enantangku, sih.
Hahaha.
"Kau benar-benar tidak tahu malu ya, mengganti pakaian di hadapan
ku." Ucapan Haris tadi masih Divya ingat. Dia mengatakan itu tanpa mengalihkan pandangan dari tubuhnya.
Kenapa, Tuan? Anda tersepona? Eh ....
Haris menatap Divya yang berada tepat di depannya tanpa berkedip.
"Hei kau yang menyuruh ku melakukan ini tadi, kau bilang buang-buang waktu kalau harus ke ruang ganti, jadi aku buka di sini saja," sahutnya tanpa merasa berdosa.
Divya mengelak, ia memang melakukannya karena mematuhi perintah suami gilanya itu 'kan.
"Aku mematuhi perintah mu 'kan? Jadi, aku ini istri yang baik," imbuhnya lagi, ia lantas membalikkan badan setelah selesai mengganti pakaian, menghadap tuan muda Haris. Laki-laki yang beberapa jam lalu telah sah menjadi suaminya itu tampak terkejut.
"Kau yang tidak tahu malu Tuan, melotot seperti itu melihatku.Tutup mata mu!" Dengan tak kalah garang Divya membentak. Jari kanannya menjentik-jentik di depan mata tuan muda, sementara tangan kirinya bertolak pinggang.
"Aaahahaha ...." Divya sampai tergelak dibuatnya. Tanpa rasa takut sedikit pun ia mencemooh ekspresi wajah laki-laki di hadapannya. "Lucu banget, sih."
Haris yang merasa kepalang menanggung malu pun tak kalah pintar mengambil kesempatan. Dengan sengaja ia meraih sebelah tangan Divya dan memeganginya ke belakang tubuh gadis itu agar tidak dapat berkutik. Ditariknya tubuh Divya sampai menempel di tubuh kekarnya.
Sementara itu, satu tangan Divya berada di dada Haris, mencoba menopang tubuhnya agar tidak terlalu dekat.
__ADS_1
Degup jantungnya seakan berpacu kian cepat.
Saat Divya tidak tahu harus berbuat apa.
Meronta sudah, tetapi nihil. Jelas tenaganya kalah jauh dengan Haris. Satu-satunya pilihan yang ada ialah, memejamkan mata. Ia tak ingin melihat lebih jauh apa yang akan dilakukan tuan muda setengah gila ini.
Satu per satu Haris membuka kancing kemeja dengan posisi masih menjerat Divya. Semua ia lakukan untuk membalikkan keadaan. Dada bidang dengan kulit putih terpampang tanpa sehelai benang pun coba ia perlihatkan pada Divya. "Buka mata mu, bodoh!" gertak Haris.
Divya terdiam dan berpura-pura tidak melihatnya. Ia menggelengkan kepala "Tidak mau!" bantahnya. "Lepaskan dulu tanganku." Kembali ia meronta agar bisa terlepas dari cengkraman si monster.
"Kau pikir semudah itu ...." Haris justru makin mengeratkan cengkraman pada tangan kanan Divya. Gadis itu kini benar-benar menyentuh dada Haris.
Astagfirullah bisa copot jantungku kalau begini. Aah ... sedang apa si dia?
Tunggu jangan-jangan dia mau menciumku. Tidak-tidak.
Dan benar saja, senyum menyeringai yang ia tangkap dibibir Haris begitu ia membuka mata. Senyuman itu seakan mengatakan, 'Ini pembalasan'.
Saat tangan Haris sudah mulai mengendorkan cengkraman, secepat kilat Divya melepaskan diri.
Haris tergelak senang. "Kenapa Hah! Kau pikir saya mau apa?" Haris mengetuk pelan pelipis Divya. Menunjukkan bahwa ia tahu apa yang melintas di otak kotor Divya. Gadis itu mendengkus.
"Kau berpikir apa?" Lagi Haris menggoda.
"Tidak Tuan. Tidak ada yang saya pikirkan. Sumpah!" Divya mengangkat dua jari tanda ia tak bohong. "Saya cuma mau merapikan rambut."
Divya menyentuh rambutnya yang terikat membentuk sanggul. Sedari tadi sanggulan itu memang masih belum ia buka. Divya bahkan masih mengenakan mahkota kecil di kepalanya.
__ADS_1
Buru-buru ia melucuti semuanya. Setelah menyisir dan kini terikat rapi—rambut ikat kuda seperti yang biasa ia lakukan saat di rumah—tanpa basa-basi lagi Divya bergegas masuk ke kamar mandi meninggalkan Haris yang masih tertawa penuh kemenangan.
***
Ah ... tapi sialnya aku ... dia membalas ku seperti itu.
Huh! Rasanya sudah mau loncat saja jantungku.
Divya mengelus-elus dadanya menarik napas dalam. Air di badtube hampir penuh. Air hangat yang diminta Haris,m untuk dia berendam. Dengan diberi tetesan minyak essential wangi mawar yang lembut. Sesuai permintaannya tadi.
Setelah selesai menyiapkan air mandi, Divya membasuh wajahnya.
Ah ... segar.
Ia pun keluar memanggil Haris.
"Suamiku ... kau mau mandi 'kan?" panggilnya. Sengaja dengan nada yang dibuat-buat. "Ayo sini! Sudah adinda siapkan air mandimu, Sayang." Ia belaga ingin muntah saat menyebut kata 'Sayang'.
Divya yang tidak mengenal takut itu lantas tergelak. Lebih parahnya lagi ia melempar handuk ke arah Haris. Laki-laki itu pun sigap menangkapnya.
"Kau ...!"Haris sudah mengacungkan telunjuk.
"Apa? Tidak mau mandi, ya, sudah. Biar aku saja duluan yang mandi." Divya tersenyum manis, lalu pura-pura hendak melangkah kembali ke kamar mandi.
Kau pikir aku takut padamu.
Kau belum tahu siapa aku.
__ADS_1