Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Perkebunan teh


__ADS_3

"Ada yang tidak Mama ceritakan selama ini pada Haris"


Begitu Rahma memulai perbincangan seriusnya dengan sang menantu, di sebrang sana seseorang mendengarkan dengan bahagia terlihat dari senyum licik yang tercetak di bibirnya.Seringai misterius ,seakan mendapat oase di tengah gurun.


Bagus ceritakanlah semuanya tante Rahma,aku akan dengan senang hati mendengarkan disini.


Sesaat setelah Divya keluar kamarnya,Rahma meraih ponsel yang sempat ia geletakan di atas bantal.


Menelungkupkan benda pipih itu disana setelah merijek panggilan masuk dari nomor asing yang beberapa hari ini terus menerornya.


Namun,Rahma begitu terhenyak mendapati panggilan itu ia terima hampir tiga puluh menit lamanya.


Menatap ponselnya dengan tangan gemetar.


"Dia mendengarkan percakapanku dengan Divya,Astaga aku begitu ceroboh"


Gumam Rahma pelan.


Ia lalu mendial kembali nomor tersebut,menunggu seseorang disebrang sana mengangkat panggilannya dengan degup jantung yang semakin tak beraturan.


Emosi dan rasa takutnya bercampur jadi satu.


"Hai tante Rahma !"


Rahma nampak melotot mendengar suara itu,suara seorang wanita yang begitu familiar di telinganya.


"Kangen padaku,tante ?"


"Bagaimana,sudah selesai mendongengnya?"


"Apa menantumu sudah tertidur sekarang,setelah kau mendongeng? Ckckck harusnya kau beritahu semuanya"


"SEMUANYA !!"


Setelahnya hanya terdengar suara tawa sarkas di sebrang sana.Tanpa sedikitpun Rahma terdengar menjawab.


"Hebat sekali tante.Tapi itu belum seberapa bagiku,kita lihat apalagi keseruan yang akan tercipta di keluarga Santoso"


"Ah rasanya sudah tak sabar menanti kehancuran kalian semua.Itu akan jadi hiburan gratis untuk ku"


Dengan tidak menghiraukan perkataan wanita itu Rahma mematikan panggilan,melempar ponsel itu ke sembarang arah.


Ia yang merasa kesal dan marah kembali merebahkan tubuhnya,menarik selimut hingga menutupi dada.


Rahma meremas ujung selimutnya demi meredam rasa takut di hatinya.


Divya,gadis itu melangkah gontay menuju kamar.Sampai di kamar pun ia masih menatap kosong jendela di hadapannya.


"Seperti itukah kehidupan ibu mertua-ku di masa lalu ? Kalau begitu apa Haris bukan anak Papa ?" Gumam Divya di tengah lamunannya.


"Marisa dan Haris itu saudara?"


Divya menghela nafas berat.Penat di tubuhnya membuat kepalanya mulai terasa berdenyut,nyeuri.


"Siapa yang bisa menjawab semua pertanyaan ku sekarang.Mama !


Aku bahkan tidak tega menanyakan hal itu padanya"


Dering ponsel terdengar begitu nyaring di atas tempat tidur membuat Divya segera meraihnya dengan lesu.

__ADS_1


Haris nama yang tertera di layar ponsel.


"Hallo !"


Sapa Divya begitu ia mendial icon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Hai sayang kemana saja,kau tidak membalas chat ku lagi ! Habis darimana?"


"Hai...eum..aku,aku "


"Kau tidak tahu ya aku merindukanmu,di telpon gak diangkat angkat,chat juga gak dibaca"


Divya kembali mengurut keningnya.Baru saja cerita ibunya membuat ia pening,sekarang anaknya juga ber-ulah.


"Hei ! Jawab !"


Teriakan Haris membuat Divya tersentak kaget,mengusap daun telinganya yang berdengung nyeri.


Dengan hembusan nafas kasar ia pun membuka suara.


"Aku tadi habis temani Mama kamu di kamar sayang,aku lupa bawa hp"


Jawab Divya sedikit ketus.


"Kok ketus gitu jawabnya,emang Papa kemana sampe kamu harus jagain Mama?"


"Kamu yang teriak sampe telingaku sakit tau !"


"Papa keluar Kota,katanya ada urusan memangnya gak cerita sama kamu?"


"Gak ! Papa kebiasaan dari dulu kalau mau pergi pasti gak pernah bilang-bilang"


"Gak apa-apa"


"Ya sudah kamu mau istirahat,kan.Pasti cape ngurusin Mama,tidur siang ya"


"Heum.."


"Jangan lupa makan !"


"Iya"


"Dah sayang"


"Daaah"


Astaga dia telpon cuma untuk bilang kalau dia kangen lagi.LAGI !


Ada yang aneh dengan laki-laki itu.


Tidak bisakah ia tak mengganggu barang sebentar saja.


"Aaahh"


Divya membanting tubuhnya ke atas kasur,memejamkan matanya dan menghembuskan nafas dalam.


Pening di kepalanya terasa semakin berdenyut.


***

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain Santoso bersama Fram tengah mengunjungi perkebunan teh di puncak.


Seorang pemilik perkebunan teh disana memintanya datang untuk menyerahkan perkebunan milik Santoso karena ia merasa sudah tak sanggup lagi mengelola tempat itu.


Usianya masih sangat muda namun kondisi kesehatannya mulai bermasalah.


Ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi sehingga memilih untuk mengakui jika kebun itu bukanlah miliknya.


Sesampainya di sebuah rumah sakit tempat pria itu di rawat,Santoso juga Fram dibuat bingung atas pengakuan mengejutkan si pria bernama Hasan itu.


Ia terbaring lemah,di sampingnya berdiri seorang wanita yang mungkin adalah istrinya.


Hasan berkata jika dulu dia bekerja di kebun teh tersebut. Kemudian seorang wanita membayarnya untuk merebut perkebunan teh yang di ketahui sebelumnya adalah milik keluarga Ahmad .Hasan mengelolanya hingga hari ini dengan pembagian hasil 100% dibagi tiga,dia mendapat dua bagian sementara wanita itu mendapatkan satu bagian.


Kesepakatan yang membuatnya tergiur melakukan kejahatan,ia mencuri sertifikat tanah perkebunan lalu mengubah kepemilikannya menjadi atas nama wanita itu .Bukan hanya itu dia juga memalsukan tanda tangan dan merebut serta rumah milik keluarga Ahmad yang sekarang ia dan keluarganya tempati.


"Apa maksudmu kebun itu milikku?"


Tanya Santoso bingung,ia tidak pernah memiliki perkebunan teh di daerah ini.


Kedatangannya sendiri kesini atas permintaan Fram,si pria bernama Hasan itu memang hapal jika Fram adalah saudara satu ayah dengan Ahmad karena itulah Hasan memintanya datang.


Ibu Fram meninggal kala melahirkannya.Hingga ia dirawat dan diasuh neneknya,ayah Fram menikah lagi dan lahirlah Ahmad.


Baik Ahmad maupun Fram baru mengetahui status keduanya yang ternyata bersaudara itu setelah sama-sama memiliki istri dan anak.


Santoso,Ahmad dan juga Fram sudah saling mengenal sejak mereka sama-sama mengenyam bangku pendidikan.


Ketiganya teman,sahabat bahkan sudah seperti saudara.


"Iya tuan,mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala dosa saya tuan"


"Saya manusia hina .Saya merasa sangat bersalah"


"Sakit saya mungkin karma atas segala yang sudah saya perbuat"


Lalu setelahnya seorang pengacara menyerahkan dokumen kepemilikan tanah perkebunan kepada Santoso.


Dan betapa terkejutnya ia melihat nama yang tertera disana perkebunan teh itu sudah hampir enam tahun menjadi milik Rahma Santoso.


"Jadi wanita yang kau maksud itu istriku?"


"Iya tuan"


Santoso dan Fram saling bersitatap,mengapa sampai Rahma melakukan ini.


Keluarganya tak kurang satu apapun mengapa Rahma sampai harus mengalihkan paksa kepemilikan kebun.


Dengan cara yang tak seharusnya pula.


"Saya juga akan sesegera mungkin mengosongkan rumah itu,saya mohon maaf Tuan"


Dengan nafas tersenggal-senggal Hasan mengatupkan kedua tangannya yang terhubung selang infus.


"Jaangan hukum saya.Saya menyesal tuan.Jangan hukum juga keluarga saya"


"Baiklah akan aku urus masalah ini,kau tidak perlu khawatir.Pikirkan saja kesehatanmu kau juga tidak perlu meninggalkan rumah"


Menepuk bahu pria itu.

__ADS_1


"Tinggal saja disana sampai kau pulih"


__ADS_2