
Malam semakin tenggelam meninggalkan jejak keramaian.
Ameera masih tertegun ,satu persatu teman-temannya yang tadi datang menyalami kini mulai pergi meninggalkan tempat ini, rumah yang menjadi saksi bersatunya cinta dua anak manusia.
Ia masih menatap kosong jauh ke arah dimana pintu masuk berada.
Hilir mudik pelayan silih berganti membawa tumpukan perabotan yang kotor. Tisu berserak dimana-mana. Sisa cemilan dan aneka minuman berjejer di atas meja perasmanan,bersatu dengan hidangan lainnya yang hampir tandas.
Dimana dia?
Ameera kini berdiri menatap jam di sudut ruangan. Berharap dia datang. Masih menunggu. Entah sampai kapan.
Ini memang bukan cinta tapi persahabatan.Kedekatannya bukan sekedar apa yang orang-orang pikirkan selama ini.
Disaat Ameera tak bisa lagi mempercayai satu teman pun, dia satu-satunya yang tetap berdiri mendampinginya senantiasa mempercayainya.
Haruskah kini ia berhenti berharap?
Sudut matanya berlinang,ia menyekanya sekuat mungkin tidak akan membiarkan tangisnya pecah. Saat Ameera mulai putus asa, pasrah dengan apa yang ia saksikan.Tidak ada dia. Tidak ada dia. Cukup! Jangan berharap lagi.
Bersamaan dengan itu sesosok pria muncul dari arah pintu.
Dia tersenyum Ameera pun tersenyum.
Deru nafasnya terdengar kacau, apa dia berlari untuk sampai ketempat ini.
"Hah "
Suara pertama yang Ameera dengar dari mulutnya.
"Aku pikir kau tidak akan datang"
Ameera langsung melemparnya dengan spekulasi yang sempat hinggap di pikirannya.
"Aku pikir kau lupa hari ini"
Masih dengan wajah muram dia mengoceh tanpa mempedulikan betapa laki-laki itu sulit hanya untuk sekedar mengatur nafas.
"Aku datang, aku pasti datang.Mana mungkin aku lupa acara terpenting dalam hidupmu"
"Andra~"
Laki-laki yang Ameera sebut namanya mendongak dan lantas tersenyum.
"Terimakasih "
Ameera mengucapkan-nya dengan begitu tulus, bahkan airmata yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya tumpah membasahi pipi.
"Ah iya sama-sama, aku yang makasih kamu udah ngundang aku"
Andra mengusak puncak kepala Ameera, menguado lembut airmatanya, segala yang ia lakukan tak lepas dari tatapan laki-laki di samping Ameera. Ia melirik-nya dan mulai menyapa-nya.
"Kau tidak mau mengenalkan suami mu pada-ku "
Andra meninju pelan pundak Ameera.
"Ah iya kenalkan ini suami-ku "
ucap Ameera meminta Erik menyalami sahabatnya.
Andra yang mengulurkan tangan pada Erik pun di sambutnya dengan baik.
"Andra" ~ "Erik"
__ADS_1
Keduanya menyebutkan nama
masing-masing secara
bersamaan.
"Aku tahu! Ameera sudah sering cerita tentang mas Erik"
"Oh ya! "
Erik tersenyum melirik wanita
yang kini telah sah menjadi
istrinya.
Mereka mengobrol sebentar.
Sampai akhirnya Andra pamit untuk pulang berhubung waktu sudah
semakin larut.
Di tempat berbeda di sudut ruangan, di sebuah sofa. Divya yang tadi mengeluh pegal terduduk di sana.
Di temani Haris, Dimas ,Shila.
Rudi dan Mam Rita baru saja turun bersama besan mereka setelah mendampingi pengantin di atas pelaminan.Mereka ikut pula bergabung.
Tuan besar Santoso bersama istri tengah sibuk memomong para kurcaci, Marisa, Melodi dan Arjuna.Cucu-cucu mereka.
Melodi yang datang ke acara pernikahan ini bersama sang Oma.
Tengah asik bercengkerama.
Tiada hal yang lebih membahagiakan selain kebersamaan.
Setelah banyak makanan yang masuk ke perutnya sekian menit kemudian Divya mengeluhkan rasa kantuknya.
Ia pamit ke kamar, kamar tamu di kediaman almarhum paman Fram.
Begitupun Shila yang tengah hamil tua, anak keduanya bersama Rudi. Ia pamit ke kamar lainnya untuk merebahkan pinggangnya yang mulai terasa kaku.
Shila memanggil anak-anak untuk tidur menemaninya.
Sementara Rudi mengurus semuanya sampai selesai.
Melodi pulang setelah merengek minta tetap tinggal di sini namun tak mendapat izin dari Oma-nya.
Menggunakan adik kecil Melodi yang baru lahir kemarin menunggunya di rumah sebagai alasan. Dan itu pula yang membuat Raisa dan sang suami tidak ada di tempat ini meski Divya mengundangnya.
Tuan besar dan nyonya pun pulang tanpa Marisa kecil cucu kesayangan setelah semuanya selesai.
Meninggalkan anak menantu serta cucunya di rumah itu.
Setelah semua rapih, pengantin pun sudah masuk ke kamarnya.Entah apa yang akan mereka lakukan di dalam sana.Jangan terraza! Cukup bayangkan saja.
Rudi yang nampak begitu lelah pun membanting tubuhnya di atas sofa.
Menengadah langit-langit rumah bernuansa emas.
Membayangkan sosok yang selalu di panggilnya 'Papa' tak ada di sana.
Fram, dialah laki-laki yang mengangkatnya sebagai putra mahkota, menjadikannya seorang CEO dengan mengawali karir bisnis bersama Haris sahabat sekaligus juga tuan muda-nya.
__ADS_1
Mengabdi, menemani ,menuntun Haris hingga ia bisa seperti sekarang.
Fram, tak pernah sedikit pun terbesit dalam benak Rudi jika dia hanyalah seorang anak angkat.
Kasih sayang Papa Fram dan juga
Mama Rita melebihi kasih sayang orangtua kandung.
Rita sosok ibu yang baik hingga Rudi menikah pun Rita menjadikan dirinya sendiri sebagai ibu mertua idaman para menantu.
Wanita lembut penuh kasih sayang itu tidak di percaya tuhan menjadi seorang ibu kandung. Namun, ketulusan hatinya membuat ia menjadi sosok ibu bagi Rudi dan ketiga adiknya, Divya, Dimas dan Ameera.
Sekelumit pikiran hinggap di kepala Rudi saat ini. Bagaimana Mama Rita akan menjalani hidup tanpa anak-anaknya. Mengingat Dimas yang masih belum mengambil keputusan apapun.
Ia sendiri sibuk, Shila istrinya itu mau saja tinggal disini tapi sekarang ibu kandungnya juga ada di Jakarta. Tengah sakit dan membutuhkannya.Tidak ada saudara lain sebab Shila anak tunggal, ayahnya sudah meninggal sejak ia masih kecil.
"Kenapa kak"
Suara itu mengagetkan refleks Rudi membuka mata setelah penat dengan pikirannya ia sempat memejamkan mata beberapa menit.
Ia menoleh mencari sumber suara yang melempar pertanyaan padanya.
Suara Dimas yang sedari tadi memerhatikan tingkahnya.
"Heum, apa Dim? " seranya balik bertanya.
"Kakak kenapa? Capek? Istirahat gih " titah Dimas melihat kakaknya seperti begitu kelelahan.
"Gak ! Gak capek kok. Cuman, kakak lagi mikirin soal Ameera dia pasti gak akan lama tinggal di sini setelah menikah "
ujar Rudi .
"Lalu? "
Rudi tersenyum tipis menanggapi.
"Kakak pasti lagi mikirin soal bibi yang bakal di tinggal sendiri, iya kan? "
ucap Dimas lagi, menebak apa yang di pikirkan Rudi. Dan benar memang itulah yang ada dalam otak Rudi saat ini.
"Gak perlu khawatir gitu dong. Aku sama Adara bakal pindah kesini lusa"
tutur Dimas tanpa menunggu jawaban dari Rudi terlebih dahulu.
Ia sudah bisa menebak. Kakaknya,Divya sudah membujuknya pada saat hari pertunangan Ameera dan Erik.
"Kau sudah pikirkan itu?"
"Heum" Dimas mengangguk mengiyakan.
"Baguslah kenapa tidak bilang dari tadi"
Menepuk pundak Dimas yang duduk di sampingnya.
"Kakak gak nanya sih, aku mana tahu kakak mikirin itu"
Jawab Dimas memberenggut namun membenarkan kenyataannya yang memang seperti itu .Keduanya pun kini sama-sama tersenyum.
"Dimana Haris? "
Rudi beralih menanyakan keberadaan Haris
"Entahlah mungkin kakak ipar sudah tidur"
__ADS_1
Karena merasa lelah Haris memilih menemani istrinya merebahkan diri, dan terpejam di bawah selimut.