Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 27


__ADS_3

Keputusan Reno


Sekian detik kemudian wajahnya memanas. Merah padam seakan menahan amarah dan rasa malu. Perkataan Reno barusan bagai sambaran petir. Apa dia benar-benar melihat semuanya. Marisa memberanikan diri menatap wajahnya. Senyum tipis di bibir Reno seakan tengah mengejeknya. Mulut Marisa terasa berat hanya untuk mengatakan satu kalimat saja.


"Ada apa? Benarkan yang aku katakan? Temanmu sepertinya sudah sangat merindukanmu. Saat aku melihat semua itu aku pergi, aku tidak ingin mengganggu kalian," ucap Reno kemudian.


Marisa yang tengah terpaku oleh kata-kata Reno tak dapat menjawab apapun. Matanya sukses membulat. Pikirannya berlarian entah kemana.


"Hei, kenapa bengong begitu? Kau baru bertemu dengan Anita 'kan?" tanya Reno mengatakan hal yang berlainan dengan apa yang Marisa pikirkan.


Desahan nafas Marisa terdengar lega walaupun ia masih belum juga merespon perkataan Reno.


"Loh sayang, kamu kenapa diem aja ... betul kamu ketemu sama Anita sampe jam segini?" tanya Divya menyentuh pundak putri sulungnya yang masih terdiam, sambil juga melirik jam dinding yang terpajang di tembok ruang keluarga, di atas televisi. Sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Hah ... i-iya, Eum ... Icha memang ketemu dia." Dengan pandangan menatap lurus ke arah Reno, Marisa menjawab pertanyaan sang bunda.


Marisa sungguh dibuat tidak mengerti dengan apa yang Reno lakukan. Seakan tak ingin terlalu lama berada di hadapannya ia memilih pergi ke kamar.


Reno, dia tengah menutupi kesalahannya kah? Atau dia ....


"Aku ke kamar dulu ya, Bun, Yah ... Ren."


Kembali ia memalingkan wajahnya ketika Reno balas menatap dengan senyumnya yang terkesan ia paksakan.


Dengan ragu Marisa memijakkan kaki menaiki tangga. Masuk ke dalam kamarnya. Setelah berada di dalamnya ia lantas mandi dan berganti pakaian.


Marisa masih berkutat dengan aktivitasnya mengeringkan rambut di depan meja rias ketika suara ketukan pintu terdengar. Marisa menoleh menatap benda bercat putih yang menjulang tinggi itu. Menyuruh siapapun itu untuk masuk ke dalamnya.


"Gak dikunci," ucap Marisa dari dalam kamar.


"Masuk aja, gak dikunci." teriakan Marisa yang kedua kalinya sedikit lebih keras karena dirasa seseorang di luar sana tidak mendengarnya.


Handle pintu terbuka dari luar. Reno berdiri menjulang di depannya. Masih menunggu Marisa mempersilahkan lagi dirinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Reno bukanlah tipe laki-laki yang suka seenaknya. Ia tidak akan melakukan sesuatu sebelum mendapatkan izin dari yang bersangkutan.

__ADS_1


"Ren, masuk aja gak apa-apa. Kamu masih di sini?" Waktu yang sudah hampir pukul sebelas dan laki-laki itu ternyata masih di rumahnya.


Tanpa keraguan lagi Reno memasuki kamar Marisa menyisakan sedikit celah di pintunya. Agar tidak terjadi fitnah dan kesalahpahaman. Mengingat mereka bukanlah pasangan halal dan Marisa mengerti akan hal itu. Ia meletakkan sisir dan handuknya asal. Melirik sekilas apa yang Reno lakukan. Dia berjalan mendekat.


"Ada apa?" tanya Marisa kemudian.


"Aku mau bicara sebentar sama kamu," ungkapnya.


Sambil menunggu jawaban dari Marisa ia terlihat mengambil salah satu foto di meja kerja Marisa.


Meja yang biasa gadis itu pakai untuk mengecek berkas laporan rumah sakit atau laporan perkembangan kesehatan pasien-pasiennya. Terdapat lampu penerang, beberapa buku dan juga laptop di atasnya. Foto yang menunjukkan penampakan tiga orang perempuan dan dua pria di dalamnya.Ialah Marisa, Anita, Shintia,Hendri dan dirinya sendiri. Reno tersenyum menatapnya.


Lima sekawan itu selalu terlihat kompak saat pertama masuk kuliah hingga mereka lulus. Bubar seketika saat dua di antaranya terlibat jalinan asmara. Sampai ke pelaminan dan kini sudah dikaruniai seorang anak. Shintia dan Hendri sukses meraih kebahagiaan di tengah kisruhnya cinta segitiga antara ia dan dua wanita lain di dalam foto itu.


Reno kembali meletakkan bingkai berwarna hitam itu di meja seperti semula. Berbalik pada Marisa menunggu jawabannya mengenai kedatangannya ke kamar ini untuk membicarakan sesuatu.


"Kamu ... mau ngomong apa,Ren?" tanya Marisa, akhirnya ia memberi kesempatan untuk Reno mengatakan apa yang ingin ia katakan.


Senyum miring tercetak jelas di bibir Reno. Marisa bisa dengan jelas melihatnya. Namun, sebelum laki-laki itu bicara Marisa sudah lebih dulu mengambil alih keadaan.


"Kamu lihat aku sama Fadlan, iya kan?"


tebakan Marisa nyata adanya. Memang itulah yang ingin Reno katakan. Marisa cukup tahu bagaimana sikap Reno. Ia tidak akan menceritakan apapun pada ayah Haris. Namun, ia selalu meminta jawaban langsung darinya. Selalu seperti itu saat Marisa melakukan kesalahan.


Reno tertunduk, ia tahu bahwa Marisa selalu pintar dalam hal membaca pikirannya. Ia yang berniat menjatuhkan sedikit saja mental gadis ini justru tidak berkutik. Perasaan Reno pada Marisa itu tulus bahkan jauh sebelum ia tahu bahwa Marisa adalah putri dari tuan Haris mantan majikan neneknya.


"Kau tahu Marisa, aku bahagia dan akan selalu bahagia asal melihat mu tersenyum." Tutur kata Reno yang jauh dari sikapnya yang tadi membuat Marisa gugup dan merasa sangat bersalah.


"Jadi, kau benar-benar melihatku dengannya?" tanya Marisa sekedar ingin memastikan benar atau tidaknya Reno melihat semua yang ia lakukan bersama Fadlan.


"Ya!" Reno yang semula menunduk lantas mendongakan kepala dan menjawabnya tanpa keraguan.


Terlihat bulir airmata menetes di pipi Marisa. Ia tidak menyesali apa yang terjadi antara dirinya dan Fadlan karena ia benar-benar mencintai pemuda itu. Namun, apa jadinya jika calon suaminya sendiri melihat itu. Melihat apa yang sebenarnya tidak terjadi.

__ADS_1


"Kamu salah paham, Ren," ucap Marisa lirih.


"Semua tidak seperti yang kamu lihat," imbuhnya berusaha meyakinkan Reno.


"Lalu apa yang sebenarnya, heum?" Seakan ia tengah menantang Marisa untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Aku ... aku, " Marisa menatap kedua manik mata Reno yang menatapnya datar.


"Kejar apa yang menjadi pilihan mu, Cha! Aku tidak akan keberatan. Kamu berhak bahagia dengan orang yang kamu cintai. Sebelum semuanya terlambat." Kata-kata Reno bagai tamparan keras bagi seorang Marisa.


Di tengah kekalutannya memikirkan pernikahannya dengan Reno serta perpisahannya dengan Fadlan. Laki-laki di hadapannya justru seperti mengerti apa yang diinginkannya.


"Kamu ... "


"Iya, Cha. Aku serius," ucap Reno meyakinkan.


Marisa, gadis itu mengerjap kecil. Sesuatu yang baru saja ia cerna membuat linangan airmata semakin deras menetes di wajah cantiknya. Mengapa dengan mudahnya Reno melepaskan ikatan di lehernya yang menyesakkan.


"Aku tahu kebahagiaan mu ada padanya. Kejarlah ! Kebahagiaan mu lah yang paling utama bagiku," tutur Reno lagi-lagi meminta Marisa mengejar dia yang menjadi tambatan hatinya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan soal Om Haris dan Tante Divya. Aku sudah bicarakan semua pada mereka," imbuh Reno.


Pernyataan itu sontak membuat Marisa terperangah. Ia mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. Mata mengerjap-ngerjap cepat mempertanyakan lewat sorot matanya apa yang Reno katakan pada kedua orangtuanya.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Cha. Jika saja aku egois, aku sudah melamar mu sejak dulu. Aku yakin orangtua mu tidak akan menolakku. Tapi, aku tidak melakukannya karena aku tahu kamu tidak pernah mencintai ku. Terlebih aku juga tidak ingin merusak persahabatan kita. Anita sudah bahagia sekarang giliran mu,"


"Dan kau, " sergah Marisa memotong perkataan Reno.


"Aku, aku akan bahagia melihatmu bahagia," ucap Reno penuh ketulusan.


"Aku ingin menekanmu tapi sekali lagi aku tidak bisa. Itu bukan


sifat ku. "

__ADS_1


Mendengar hal itu Marisa menghambur kepelukan Reno. Terisak di dadanya. Bagaimana mungkin ada laki-laki sebaik dia. Reno sudah mengambil keputusannya dan Marisa, harus mengambil keputusan apa ia sekarang.


__ADS_2