
"Mau kemana?"
Saat waktu menunjukkan pukul 10.00 malam Haris beranjak meninggalkan Divya yang baru saja memejamkan mata di atas tempat tidur,dikamar mereka.
Sore tadi Divya pulang setelah segala tuntutannya terpenuhi.
"Aku mau tidur di kamar atap saja ya sayang?"
Haris pikir Divya sudah terlelap,tapi ternyata ia mendengar pergerakkannya turun dari ranjang.
"Kenapa?"
Mimik wajah yang sulit dimengerti,seakan kecewa atau juga merasa aneh.Tiba-tiba saja suami tercinta memilih tidur terpisah.
"Kau dengar tadi kan,Intan memintaku untuk tidak menyentuh mu"
Halis gadis itu bertautan,ia kini duduk bersandar melipat kedua tangan di depan dada.Mengedikkan bahu.
Well !!
"Aku mana bisa tidur kalau menempel terus denganmu"
Mengusap tengkuk,Haris mana bisa tidur pulas sebelum ritual malam di atas ranjang berhasil ia tuntaskan.
"SATU MINGGU SAYANG !! AKU BISA GILA !"
Divya tergelak,lucu. Baru satu minggu sudah kelabakan begitu.
Bagaimana jika satu bulan.
Ah dasar candu.
"Ya sudah pergi sana !"
Pura-pura mengusir tapi Haris benar-benar melangkah hendak menuju kamar atap.
"Sayang"
"Heum"
Berbalik lagi.Menatap Divya yang seperti itu.Rasanya ingin sekali melahap wanita itu.
"Kalau aku butuh sesuatu,bagaimana?"
Wajah menggemaskannya mengundang untuk dicubit,dicium,diunyel-unyel.
Bibir cemberut dengan tatapan penuh harap itu meminta untuk dilumat.
Pertahanan sekuat apapun nyatanya tak bisa mengalahkan gejolak yang sudah terpendam selama lima hari ini.
"Kau membuatku gagal sayang"
Mengacak rambutnya frustasi.
Menyambar bibir itu tanpa ampun.
Peduli setan dengan perkataan Intan.
Ia melakukan aktifitasnya tanpa penolakan.Divya,dirinya seperti merindukan juga hal itu.
Menggigit-gigit kecil bibir manis itu dengan gerakan tangan Haris yang mulai tidak terkendali.
M****** dua buah sintal di balik helaian tipis.
Gaun malam berwarna merah yang mengundang gairah.
"Sayang,Ahhh"
Lenguhan Divya nyata begitu menggoda.Keluar seiring gerakan bibir Haris yang mulai turun menjelajah bagian leher jenjang si pemilik hati.
"Aghhhhh,Sayang"
__ADS_1
Desahannya, diikuti tangan yang mencengkram kuat bahu Haris.
Saat suasana semakin memanas.
Kilasan itu kembali.
"Hati-hati jangan kau sentuh istrimu setidaknya satu sampai dua minggu ini,Ris"
"Kalau kau memaksa terima akibatnya,kondisi istrimu tidak bisa lebih baik dari ini"
Kata-kata Intan kembali berputar di memori otak Haris .Wajah seriusnya tergambar jelas,dengan tatapan mata mengancam.Seakan tahu kebiasaan Haris yang tidak bisa lepas dari Divya barang sehari pun.
Seketika tautan bibir mereka terlepas.
"Aku tidak mau menyakiti mu.Tidurlah sayang !! Membantah nasehat dokter hanya akan membuatku menyesal seumur hidup"
Haris mencium dahi wanita yang teramat berharga bagi dirinya.
Melihat ia terpejam,mengerti.
Jika Haris tak ingin menyakitinya,mendapati Divya terbaring lemah hanya akan membuat ia semakin gila.Satu minggu itu tidak akan masalah.Haris pasti bisa.Buktikanlah.
Menuntun Divya kembali berbaring,
Ikut pula merebahkan tubuhnya di samping Divya.
"Sayang kenapa waktu dirumah sakit kamu ngamuk gitu?"
Pertanyaan macam apa itu,aku tidak mengamuk,kan? Batin Haris.Dahi mengkerut ,tanda pikiran dan hati serta tindakan yang tak sejalan.
Enggan memberi jawaban.
"Hei !" Tepukan kecil mendarat di pundak Haris,menyadarkan ia dari sehala lamunan yang entah sedang menerawang apa.
"Heum"
"Kamu ngelamun ya?"
Saat tatapan mereka bertemu,tertarik garis bibir Haris melengkung mengukir sebuah senyuman.
Tangan kirinya tak lepas terus membelai rambut sang istri tercinta.
"Kamu nanya apa ,sayang?"
Sejenak Divya terdiam,meredamkan degup jantungnya yang masih tak beraturan.Ini bahkan sudah hampir satu tahun namun perasaannya saat bersama Haris tak pernah berubah,selalu ada rasa gugup dengan detak jantung yang berpacu hebat seperti deburan ombak di tepi pantai.
Apalagi saat menatap matanya.
Ia memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Haris.
"Aku nanya,kamu kenapa reaksinya aneh begitu~"
"Kapan?"
Seloroh Haris main potong pembicaraan.
"Waktu aku bilang aku gak butuh dokter,aku butuh kamu"
Divya menggigit bibirnya sendiri di balik tubuh Haris.
"Itu~"
"Gak usah di bahas,lah"
"Aku penasaran,aneh aja harusnya kan kamu seneng aku ngomong gitu."
Seharusnya reaksi Haris memang tidak sepanik itu,yang ada di pikiran Divya nyatanya berbanding terbalik.
Ia memprediksi jika Haris akan senang mendengarnya mengatakan itu.
Dengan sedikit rayuan akhirnya Haris mau mengatakan alasannya.
__ADS_1
Mereka berbincang hingga larut malam.
Dengan tangan Haris yang terus mengusap lembut puncak kepala hingga mereka terlelap dalam mimpi panjang yang begitu indah.
***
Untuk apa panggil dokter,sayang.Kalau dokter yang aku butuhkan ada disini.
Marisa mengucapkan kalimat begitu indah terdengar oleh telinga Haris.
Bahagia,tentu. Saat sekian lama akhirnya Marisa terbangun dari koma-nya.
Haris mengenang kembali kejadian tiga tahun lalu,peristiwa menyedihkan yang sebenarnya tak ingin ia ungkit.
Namun,Divya kembali mengingatkan kejadian itu.Saat Marisa kecelakaan hari itu Haris selalu setia datang mengunjunginya .Entah sudah berapa lama,sampai akhirnya ia terbangun dan mengatakan kata-kata persis seperti yang Divya katakan kemarin saat ia tersadar.
"Karna itulah aku takut ,aku takut kamu pergi seperti Marisa."
Tak terasa airmata Divya terjatuh mendengar penuturan Haris.
Luka yang teramat dalam nyata tergambar daru setiap ucapannya.
Ia begitu kehilangan Marisa sampai ketakutannya ia tunjukkan dengan cara yang sangat berlebihan.
Haris takut jika setelah kata-kata manis akan datang kenyataan yang lebih pahit.
"Sayang,maaf !"
"Untuk apa ? Kau tidak salah apapun sayangku"
Masih dengan belaian lembut di puncak kepala Divya,menciuminya berulang-ulang.
"Karna aku,kamu jadi sedih.Karna aku kamu jadi keinget lagi Marisa"
"Shuutt"
"Bukan,bukan karna kamu.Hanya mungkin aku terlalu payah untuk sekedar lupa dengan kenyataan pahit itu,sayang"
Haris berusaha menjangkau pandangan dengan Divya.Menatap kedua manik indah itu begitu dalam.Untuk sejenak biarkan mereka berbagi perasaan.
Rasa rindu,rasa cinta,rasa sayang juga perasaan sedih mereka.
"Bukan karna kamu,aku memang pengecut Divya"
"Hei~" Tangan Divya terangkat menangkup sisi sebelah kiri,mengusap lembut pipi Haris.
"~aku tahu rasanya kehilangan.Aku pernah merasakannya~"
Haris nampak mengerenyitkan dahinya.
Bertanya dalam diam.
"~Ayah dan Ibuku,sayang."
"Aku kehilangan mereka,bahkan saat aku membutuhkannya"
Tersenyum getir.
"Aku mengerti perasaan mu.Rasanya kehilangan itu sakit .Semakin lama semakin terasa perihnya"
Tanpa terasa.
Bulir airmata menetes menembus helai benang yang menutupi bagian tubuh Haris.
Sigap ia mengusap itu dari pipi,wanita-nya.
"Kenapa jadi melow gini sih" Divya mengusap-usap pipi sedikit kasar dengan kekehan kecil mengusir kesedihan.
Janji padaku sayang,jangan pernah kamu pergi walau apapun yang terjadi.Kau tau kenapa? Karna
aku bisa jauh lebih gila dari sebelumnya.
__ADS_1
Haris.