
Terlalu lama larut dalam kesedihan bukanlah sebuah pilihan hidup.
Hidup harus berubah,harus bangkit.
Yang pergi takkan pernah kembali lagi tapi yang di tinggalkan
masih harus melanjutkan hidupnya.
Itulah pedoman yang senantiasa di pegang kukuh seorang gadis berparas cantik bernama Divya.
Ibu dan ayahnya memang bagian dari kehidupan,hampa rasanya setelah kepergian mereka untuk selama-lamanya,tapi apalah daya semua sudah menjadi takdir illahi. Sekarang hanya seuntai doa yang bisa ia panjatkan untuk kedua orang tuanya.
Lupakan semua kesedihan.
Pagi ini hari pertama Divya bekerja.
Dua hari yang lalu ia diterima setelah melalui proses interview di sebuah perusahaan yang memang bekerja sama dengan perusahaan milik
pamannya,Frambudi.
"Pagi sayang ! wah ponakan bibi sudah cantik,mau berangkat kantor ya ?" Sapa Rita menyambut kedatangan Divya di meja makan lengkap dengan pakaian formal yang melekat di tubuhnya.
"Haha...iya Bibi.."Gadis itu tersipu malu.
"Sukses ya kak" Kali ini Ameera memberi semangat.
"Jadi gak sabar nunggu sebulan" Celetuk Dimas.
"Apa? mau apa memangnya dalam waktu sebulan ?" Kini Fram juga ikut nimbrung.
"Traktiran dari gaji pertama kakakku yang cantik ini" Dimas menggerak-gerakkan kedua alisnya menggoda kak Divya.
__ADS_1
"Kamu tuh baru juga mau masuk kerja udah mikirin gajian" Menepuk tangan adik jahilnya,yang ditepuk malah nyengir kuda.
Merekapun menghabiskan sarapan bersama.
***
"Pagi mba" sapa Divya Ramah pada pegawai resepsionis
"Pagi,mba Divya ya?" Tanya petugas resepsionis menebak gadis hadapannya.
Divya tersenyum dan mengangguk
"Silahkan mba langsung masuk saja,mba sudah tau ruangan mba?" Dengan tersenyum ramah petugas resepsionis itu mempersilakan Divya untuk masuk.
"iya sudah mba,terimakasih saya masuk dulu ya" Jawab Divya .
"Baik mba sama-sama"
Semua meja sudah terisi,
memang selalu begitu tidak boleh ada alasan untuk terlambat terutama di hari senin seperti sekarang.
Para staf menatap penuh pesona ke arahnya,terutama pegawai pria menatap tak berkedip.
Divya bukan hanya cantik,dengan bentuk tubuh yang proporsional seperti itu sudah bak model yang berjalan di atas red karpet.
Dengan senyum manis yang tak lepas dari bibir merah merona ,menyapa mereka yang masih terdiam tanpa suara dengan tatapan yang menyusuri setiap lekuk tubuh, mengikuti setiap langkah hingga gadis itu berhenti.
Berhenti di depan pintu bertuliskan MARKETING MANAJER
Ya bukan hanya karena paman Fram tapi dengan prestasi gemilangnya Divya diterima di bagian manajer melalui jawaban-jawaban lugas dia saat interview.
__ADS_1
Ceklek suara handle pintu yang terbuka.
Divya pun masuk beberapa langkah lalu berhenti sejenak,matanya sudah menyusuri setiap sudut ruangan.
Ayah hari ini hari pertama ku bekerja,doakan aku ya ,Yah.
Sudah menyentuh meja lalu kursi mengusapnya lembut,
duduk bersandar merasakan nyamannya kursi sebuah kantor,dan ini untuk pertama kalinya
epilog
"Menejer baru,menejer baru tuh" Suara bisik riuh terdengar.
"Cantik ya,masih muda pula" Celetuk salah seorang staff pria yang sedari tadi tak henti-hentinya menatap Divya.
"Haduh yang Jomblo mah gak boleh lihat cewek cakep dikit langsung bening aja tu mata" Timpal yang lainnya
"Hahaha" Mereka pun lantas tergelak,meski dengan suara pelan.
"Eh suutt..ssuutt..Jangan berisik! Semuanya balik kerja !" Titah seorang pegawai perempuan,terlihat seperti pegawai paling senior.
***
Tok...tok...
Suara pintu ruangan Divya terdengar ada yang mengetuk,seorang staff masuk setelah Divya mempersilahkan.
"Permisi Mba,ini ada berkas yang harus diperiksa,dan setelah selesai harus segera di tanda tangani oleh pak direktur" Ucapa staff yang baru saja masuk menyerahkan dokumen pertama Divya yang harus ia kerjakan.
"Baik,terimakasih" Divya tersenyum ramah menerima berkas yang di sodorkan staff perempuan kira-kira seusianya.
__ADS_1
bersambung