
Keputusan Marisa
Hari ini keputusan Marisa sudah bulat. Satu pekan setelah kejadian yang mengerikan di Bandara. Marisa memutuskan menerima pinangan Reno. Tidak ada yang salah toh dia mengenal bagaimana sosok Reno itu.
Dia laki-laki yang baik, bukan masalah bagi Marisa jika memang harus dia yang menjadi pendampingnya. Ia bahkan rela jika harus menikah saat ini juga.
Haris tentu saja dia tersenyum saat mendengar penuturan putrinya. Meski di sisi lain sang bunda sempat berujar rasa ke khawatirannya. Bagi ayah Haris jika dia saja bisa lalu mengapa Marisa tidak bisa.
"Lo yakin, kak? " begitu Leo berdiri di ambang pintu dan langsung melempar pertanyaan.
"Heum, " jawaban pendek yang Marisa lontarkan.
"Serius yakin? " Leo mengulang pertanyaannya.
"Iya Leo, " Marisa sedikit menggeram kesal. Mata serta tangannya sibuk mengetikkan pesan, entah siapa yang ia hubungi. Sekilas bisa Leo lihat Marisa seperti sedang mengirimkan pesan itu pada Fadlan.
***
Satu minggu Fadlan berusaha menghubungi Marisa, baru kali ini lagi ia membalas chatnya. Sudah satu minggu pula ia berada di pesantren.
Fadlan pulang membawa amarah. Haz adik kembarnya yang ia cari. Setidaknya harus ada penjelasan dari setiap masalah. Tak ingin menimbulkan keributan ia berusaha untuk tidak tersulut emosi. Ummi dan Abinya pun sudah mengingatkannya lebih dulu . Fadlan hanya terus mendesak, agar Haz memberi alasan yang sekiranya masuk akal. Mengapa ia memberi harapan pada Marisa sedangkan ia memiliki gadis lain di sana.
" Sekarang, Lan. " Haz memulainya.
"Apa kamu pikir dua minggu itu bisa dibandingkan dengan empat tahun? Kita tidak bisa menentukan perasaan kita hanya dalam waktu dua minggu saja. Lalu apa menurut mu yang terjadi empat tahun itu tidak berarti sama sekali ?" tutur Hazlan memulai kalimat panjang itu, kalimat yang bahkan tidak dimengerti oleh Fadlan.
"Jadi lo berubah pikiran setelah bertemu gadis itu, iya? Lo cuman ngasih harapan palsu ke Marisa ?"
Fadlan mendelik tak terima.
"Awalnya aku memang yakin dia wanita yang baik. Dia juga pintar lebih-lebih seorang dokter. Tapi ~" Hazlan menatap
__ADS_1
saudaranya lekat.
"Tapi apa! "
"Tapi apa kamu gak bisa melihat cinta itu ada bukan untuk aku, Lan? "
Fadlan semakin dibuat bingung dengan penjelasan Haz yang berbelit-belit.
"Kalau bukan untuk lo terus untuk siapa, empat tahun dia nunggu lo,empat tahun cuman gue yang ngerti gimana perasaannya. " ucap Fadlan bersitegang.
" Tepat sekali kak Fadlan ku, cuman kamu kan yang ngerti perasaannya Icha, itu karena kamu yang sebenarnya dia cintai bukan aku. Ayolah, Lan. Kamu gak perlu bohongin perasaan kamu sendiri. Kamu juga suka kan sama dia. Ngaku aja ! " tutur Hazlan mamberi pernyataannya sendiri bahwa sebenarnya yang Marisa cintai itu, kakak kembarnya. Bukan dirinya.
Fadlan terpaku mendengar pernyataan itu. Bagaimana mungkin Hazlan berpikir seperti itu. Sampai ia hanya mampu terdiam tanpa bantahan. Jika boleh jujur Fadlan memang sangat mencintai wanita itu. Marisa yang selalu membuat hari-harinya semangat.
" Kamu diem, kan . Itu karena kamu juga sebenarnya suka sama Ukhti Marisa. "
Haz tersenyum yakin.
Mereka berdua datang ketempat di mana Fadlan pertama kali bertemu Marisa. Mereka sengaja berbicara berdua di sana agar Ummi dan Abi tidak harus mendengar perdebatan adik kakak satu wajah ini.
" Ya, aku memang selalu ada buat dia. Tapi, hati dan pikirannya buat lo, Haz. "
Fadlan masih yakin jika Marisa memang hanya mencintai adiknya dan bukan dirinya.
"Itu karena dia hanya sekedar kagum sama aku. Sebelum dia benar-benar mengenalmu. Setelahnya~"
"~Setelahnya dia kenal sama kamu, dan sering curhat ini itu sama kamu. Bercanda dan tertawa tanpa rasa canggung. Kamu sering kirim foto dia saat tersenyum, juga video saat kalian tertawa bersama. Apa itu belum cukup untuk membuktikan bahwa ukhti Icha sebenarnya jatuh cinta sama kamu, Lan. Hanya dia belum menyadari hal itu. Aku saja bisa menilai itu dari cara dia bicara sama kamu, tertawa bareng kamu. di video -video itu. Sedangkan aku ,belum tentu aku bisa membuatnya seceria itu, Lan. "
tutur Hazlan yakin seyakin-yakinnya jika perasaan Marisa terhadap Fadlan itu yang sebenarnya bukan karena Fadlan saudaranya.
"Tugas kamu membuat dia menyadari perasaannya. Aku lakukan ini untuk mu. Karena aku yakin cuma sama kamu dia bisa bahagia. " Hazlan berbalik menghadap Fadlan, menepuk kedua pundaknya tanda ia merestui jika Fadlan benar-benar akan mengatakan itu pada Marisa dan membuatnya menyadari perasaannya.
__ADS_1
"Tapi, lo. Lo gimana Haz? "
tanya Fadlan.
"Aku, " tinjuknya pada diri sendiri.
"Aku kan sudah ada Zahra. Dia yang selama ini ada bersama ku. Aku mengenal dia lebih dari mengenal ukhti Marisa. Jadi aku yakin untuk melamarnya dan segera menikahinya, setelah kau lebih dulu menikah dengan gadis pujaanmu. " Hazlan tersenyum yakin.
"Bukankah kau bilang sudah melamarnya di sana? " tanya Fadlan heran.
Nada bicara Fadlan jauh lebih kalem dan tenang sekarang, walaupun dalam otak dan benaknya masih begitu kacau.
"Maaf tapi aku berbohong. Itu demi kalian berdua. " ucap Hazlan berdalih.
"Tapi seharusnya tidak seperti ini caranya kan, Haz. Kau membuatnya patah hati. Bagaimana kalau dia salah paham. Apalagi sampai dia membenci ku. Dia berpikir kalau aku menutupi kebenaran mu dengan gadis itu. " Fadlan tak mau kalah dengan pemikirannya sendiri.
" Itu tidak mungkin. Kalaupun dia marah itu hanya akan terjadi sesaat saja. Sebelum akhirnya nanti dia akan merasa kehadiranmu di hidupnya itu sangat penting." kata Hazlan mencoba membuat Fadlan berpikir positif.
" Satu pekan ini aku tidak berani menunjukkan wajah ku di hadapannya, Haz. Dia marah dan mengusir ku saat kau membawa gadis itu, apalagi saat dia menyadari kebodohannya .Apa mungkin dia mau mengerti jika aku menyatakan perasaan ku padanya. "
" Baru tadi pagi dia membalas chat ku setelah satu minggu lamanya. "
keluh Fadlan.
"Nah sekarang dia sudah membalas pesanmu, bukan. Tunggu apalagi temui dia. " Hazlan memberi semangat. Menepuk pundak dan sedikit mendorong-dorongnya untuk segera bergegas menemui Marisa.
Hazlan pun akhirnya menarik paksa Fadlan menuju tempat di mana motor mereka terparkir. Ia menyodorkan kunci ke tangan Fadlan, lantas tersenyum merelakan. Kedipan mata serta anggukan kepala sebagai tanda jika Haz benar-benar memaksanya segera menuju Jakarta.
Tanpa banyak berpikir lagi, Fadlan yang baru memulai skripsi-nya bulan lalu dan akan rampung dalam waktu dekat ini pun segera meluncur. Mengendarai kuda besinya menerobos jalan beraspal yang berdebu itu di bawah terik matahari.
Banyak yang dipikirkan Fadlan saat ini. Bagaimana Hazlan bisa berpikir dan menyimpulkan jika Marisa mencintai dirinya. Padahal selama ini Marisa sendiri yang terus menanyakan kabar Hazlan di Kairo.
__ADS_1
Tidakkah ia keliru. Bagaimana jika Hazlan salah? Haruskah Fadlan menerima kebencian Marisa jauh lebih buruk daripada sekarang.
Tidak. Fadlan tidak akan mampu untuk semua itu.