
Malam mulai larut, jauh meninggalkan terangnya cahaya matahari yang rela tenggelam demi sang bulan. Divya dan Haris kembali ke kamar mereka setelah makan malam. Makan malam yang terjadi dengan suasana hening dan canggung. Tak ada tawa ataupun sekedar senyuman seperti layaknya di rumah Fram. Divya begitu merasa aneh.
Hanya ada satu yang membuatnya masih bisa menganggap ini keluarga, yaitu senyum Papa Santoso yang penuh wibawa dan kehangatan.
Malam pertama bagi setiap pengantin tentunya malam yang sangat ditunggu-tunggu sekaligus jadi momentum paling mendebarkan. Namun, lain halnya mungkin bagi kedua insan yang bahkan masih merasa asing satu sama lain. Saat ini, Haris sedang berbaring di tepi ranjang. Ia tengah memeriksa beberapa Email, di ponselnya.
Sementara Divya duduk di balkon kamar, asyik mengobrol—di telepon—dengan Raisa.
"Ra, tadi siang kamu nelepon aku, ya?" Divya mulai menanyakan maksud tujuan Raisa meneleponnya sampai berulang-ulang. "Tadi tuh aku lagi ada urusan, hapeku aku titip sama adikku, Ameera. Dia bilang kamu sempet ngomong sesuatu tapi sama orang lain, aku gak ngerti, Ra? Siapa yang tiba-tiba datang sampai kamu lupa mematikan panggilan?"
Divya memang sengaja merahasiakan perihal pernikahannya dengan Haris.
Ia masih ragu menceritakan walau pada Raisa sahabatnya sekalipun. Divya takut jika pernikahan ini hanyalah untuk sementara saja. Lalu bagaimana jika Tuan muda itu membuangnya nanti? Ya,
setidaknya kalau tidak banyak orang yang tahu, ia tidak akan terlalu merasa malu di hadapan masyarakat. Begitu pikir Divya.
Saat Divya sedang asik mengobrol dengan Raisa tiba-tiba saja
Haris memanggilnya.
"Hei! Kau mau tidur di luar? Ini sudah malam," teriak Haris memanggilnya dari dalam kamar.
"Astaga Tuan ... Raisa dengar tidak, ya?" Divya refleks menangkup ponsel dengan kedua telapak tangannya.
"Siapa itu Vy?" Raisa menangkap suara laki-laki bicara di sebrang sana, ia pun penasaran dan menanyakannya pada Divya.
"Ah itu, Itu, Dimas. Ya, itu, Dimas. Dia nyuruh Ameera masuk kamar ... eum maksudnya tidur sudah malam, begitu!" dalih Divya. Ia gugup dan dengan bersusah payah mencari alasan untuk menjawab.
__ADS_1
"Sudah dulu, ya, Ra. Kita lanjut besok lagi, oke!"
Divya pun sudah menutup telepon tanpa mendengar jawaban terakhir dari lawan bicaranya. Ia bergegas masuk kamar dan mengambil selimut dari dalam lemari sebelum amarah Haris semakin meletup-letup bagai kawah gunung.
"Maaf, Tuan."
Lagi-lagi Divya meminta maaf. Ia sudah berdiri di samping tempat tidur sambil menunduk dan memeluk selimut.
"Sedang apa di luar?" Haris acuh tak acuh, bahkan ia sama sekali tidak melirik sedikitpun.
"Me-menelepon, Tuan," jawab Divya tergagap.
"Siapa?" Haris masih bergeming menatap layar ponselnya.
"Teman kantor, Raisa namanya.Tadi siang teleponnya dia tidak sempat kujaeab." Divya menjelaskan sejujur-jujurnya.
"Memangnya aku menanyakan namanya, terserah kau mau bicara pada siapa. Bukan urusanku!" Haris mematikan ponsel yang tadi ada dalam genggamannya, menurunkan posisi setengah tidur menjadi terlentang dengan tangan menopang kepala.
Eh hai, kau yang bertanya tadi.
Aku hanya menjawab sejujurnya saja.
Salahku di mana? Dasar aneh.
"Oh, ya, jangan memanggilku, Tuan. Bisa? Panggil saja aku seperti tadi!"
Permintaan Haris membuat Divya mengerutkan kening. "Tadi? Memangnya saya memanggil apa tadi, selain tuan?"
__ADS_1
"Bodoh! Tadi, saat kau menyuruhku untuk mandi, kau panggil aku apa, hah?"
Divya mengingat-ingat. "Oh, itu!" serunya begitu ia berhasil kembali pada memori sore tadi. Divya tersenyum simpul. "Suamiku? Kau ingin aku memanggilmu suamiku, Tuan?" Divya memastikan.
"Ya ... tidak juga. Maksud saya ... i-iya, terutama di depan Papa." Seketika Haris tergagap sebab keinginannya bisa dengan mudah ditebak Divya. Namun, ia juga memberi alasan lain mengapa meminta Divya melakukan hal itu.
"Kau paham, tidak?"
"I-iya baik, Tuan!" Divya manut.
"Heum ...." Haris menggeram saat mendengar panggilan 'Tuan' kembali terlontar dari mulut gadis 'bodoh' itu.
"Eh, iya-iya maaf, Tuan suamiku. Belum terbiasa."
Divya segera meraih bantal dan bergegas menuju sofa. Ia tak ingin meladeni monster gila itu lagi, salah-salah dia yang kena akibatnya nanti. Atau lebih parah, ia bisa ikut gila karenanya.
Divya membaringkan tubuh di atas sofa, ia kembali mengingat apa yang di katakan Raisa melalui sambungan telepon tadi.
"Syukurlah jika nyonya Presdir tidak marah padaku, aku sudah takut saja.
Karena hari ini bertepatan dengan kunjungannya ke kantor aku malah harus cuti. Untung saja aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku dua hari kedepan. "
"Oh, iya! Tadi Raisa juga mengatakan jika putra pak Wiryawan akan datang pekan depan, seperti apa ya dia? Semoga bosku ini baik hati.
Namanya siapa ya? Aku lupa menanyakannya pada Raisa."
Hamparan langit kamar yang megah tak menyilaukan mata Divya. Ia hanya terus menerawang. Membayangkan seperti apa rupa bosnya di kantor yang katanya akan datang dari luar negeri. Dia seseorang yang akan memimpin di perusahaan tempat Divya bekerja pastilah orang yang luar biasa.
__ADS_1
"Tapi semoga saja dia itu memang baik. Tidak sombong seperti Haris," gumamnya mingkem mangap mencibir tingkah suaminya itu.
Rasa kantuk sudah menusuk mata. Namun, Divya masih berusaha terjaga. Pikiran tentang siapa CEO baru di kantornya nanti kian berputar di kepala, ia begitu gugup sekaligus senang hendak menanti kedatangannya, hingga tak berselang lama, ia pun tertidur pulas di atas sofa.