Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Monster tampan menjengkelkan


__ADS_3

Malam ini sudah di pastikan Divya tidak akan selamat.Camkan itu !


Gelak tawa Haris mengudara,memenuhi sudut ruangan.


Ah untung saja kamar ini di desain kedap udara.Kalau tidak ,entah Santoso dan Rahma bisa tidur nyenyak atau justru terganggu aktivitas dua anak manusia yang tengah di mabuk cinta itu.


Aaaa lepaskan aku,Tuan! ku mohon.


"Cukup ! ok aku minta maaf sayang,maaf!" Wajah memohonnya sudah ia setting beberapa kali,tapi Haris tetap tidak mau diam.


"Aaah kau ini kenapa sih?" Menggeliat geli,bibir Haris menjalar kemana-mana.


"Sudah ku bilang kan malam ini kau tidak akan selamat !" Memegang dagu istrinya,menyambar bibir tanpa ampun.


Astaga kau ini pendendam .


Siapapun tolong selamatkan aku dari monster tampan


menjengkelkan ini.


***


"Kau mau mandi ? ayo bareng!"


"Tidak mau!" Menggeleng cepat.


"Eh kenapa?" Kau berani menolakku sorot matanya yang bicara.


"Kau tidak akan membiarkanku mandi nanti!" Beranjak dari tempat tidur,walau tangannya masih dipegang erat.


Haris mengikuti hingga pintu kamar mandi.


"Haah sayang apa itu!" Telunjuknya terangkat menunjuk sesuatu di atas atap,wajahnya sengaja ia benamkan dipundak kiri Haris.


"Apa?" Menoleh mengikuti arah telunjuk Divya.Setelah Haris lengah Divya mendorong tubuh kekarnya itu keluar pintu,secepat kilat ia menguncinya dari dalam sambil tergelak,bebas.


"Awas kau ya berani menipu ku!" Haris berkacak pinggang di depan pintu kamar mandi.


"Buka atau kau tidak akan selamat malam ini !" Menggedor-gedor pintu.


"Hahaha...maaf sayang,aku mau mandi,kamu tunggu di luar ya !" Suara teriakan Divya diiringi gemercik air.


Ck. Haris mengacak rambutnya sendiri.


***


Dan benar saja malam ini Divya baru bisa terpejam setelah meladeni keisengan suaminya.


"Haha maafkan aku sayang" Mencium puncak kepala istrinya yang sudah terlelap.


Setelah pertempuran semalam,pagi ini Divya bangun dalam keadaan yang kurang baik.


Ia merasakan pusing yang luar biasa.


Namun,sebisa mungkin ia bangkit dari tempat tidur.Menyeret selimut yang melilit tubuhnya semalaman.


Sampai di kamar mandi pun ia hanya duduk di toilet merasakan kepalanya yang semakin terasa berat,bahkan ia tak berani menyentuh air sedikitpun.

__ADS_1


"Hah kenapa aku ini,rasanya pusing sekali.Seperti berputar-putar" Bergumam sambil mengurut keningnya sendiri.


Sudah lebih dari setengah jam ia berada di kamar mandi tanpa melakukan apapun.


Haris menggeliatkan tubuhnya,meraba sisi sebelah tempat dimana Divya tidur.


Beberapa kali menepuk tempat itu dengan mata yang masih enggan terbuka.


"Sayang kamu dimana?" Membuka mata juga akhirnya.


"Kamu di kamar mandi?" Tanya Haris mengetuk pintu.


"Divya.Sayang !"Berkali-kali tak mendapat jawaban.


Membuka paksa pintu itu,tapi ternyata pintu terkunci dari dalam.


Semakin panik saja.Ia bergegas memakai baju yang berserak di lantai,berlari memanggil beberapa pelayan untuk membuka paksa pintu kamar mandinya.


Rahma juga ikut panik,sementara Santoso ia terlihat tenang.


"Kau yakin Divya ada di dalam,sudah cari ke semua tempat?" Tanya Santoso memastikan.


"Yakin pa,pintunya terkunci dari dalam"


"Di studio mu misalnya dia suka sekali main piano, kan?" Imbuh Rahma.


"Mama nih,kalau main piano pasti kedengaran sampe kesini,kan?" Dengus Haris semakin panik.


"Iya juga" Rahma menyadari pertanyaan bodohnya.


Ceklek beberapa saat kemudian akhirnya pintu dapat terbuka.


"Jangan masuk !" Sanggah Haris,tangannya terangkat.Ia menghentikan pergerakan kedua pelayan pria itu yang hendak memeriksa ke dalam kamar mandi. " Biar aku saja yang memeriksa,istriku ada di dalam sana atau tidak" Ia melangkah menuju pintu.


Membukanya perlahan.


"Sayang ! kau ada di dalam?" Tidak mendapat jawaban.


Saat menoleh ke arah toilet Divya ada disana ,duduk bersandar.Memejamkan mata.


"Hah ! Apa dia tidur disini? Bertanya pada dirinya sendiri.


Ia mencoba membangunkan istrinya.


"Sayang... hei,bangun !" Haris semakin mendekat, " Kau tidur?" Menyentuh pipi.


"Panas" Ia terperanjak kaget.


Celingukan mencari baju,tapi tidak ada.Haris kembali menuju pintu,meminta mbok Jum mengambilkan pakaian Divya.


"Kenapa Divya ,Haris?" Tanya Rahma penasaran. " Haris !!" Tidak menjawab.


"Astaga anak itu" Keluhnya pada Santoso.


"Mana mbok cepetan!" Justru teriakannya pada mbok Jum semakin keras.Ia baru teringat sesuatu ketika kembali memegang dahi istrinya.


"Panggil dokter ! Maa panggil dokter Intan" Haris berusaha memakaikan baju Divya,di bantu mbok Jum.

__ADS_1


Setelah rapih ia keluar menggendong istrinya yang masih terdiam memejamkan mata.


"Apa dia pingsan? Kenapa Haris?"


"Haris tidak tahu ma,sudah telpon Intan kesini?"


"Iya, sudah,dia diperjalanan" Jawab Rahma .


Direbahkannya Divya diatas tempat tidur,di selimuti sampai batas dada.


Haris tak sabar menunggu kedatangan Intan.


Intan adalah seorang dokter umum,ia tak lain sahabat Haris sejak SMU.


Berkali-kali melirik jam tangannya,melirik Divya yang masih belum tersadar.


Mbok Jum mengoles minyak angin ke kepala nona nya,sedikit mengurut keningnya perlahan.


Menghirupkan aroma dari minyak angin itu ke hidungnya.


Perlahan Divya mulai merespon,ia nampak mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya tersadar bersamaan dengan datangnya Intan yang diikuti Rudi.


Sudah sejak pagi tadi Rudi menunggu di bawah.Kalau bukan karena kedatangan Intan yang tidak biasanya,mungkin Rudi tidak akan tahu apa yang sedang terjadi di lantai atas.


Dokter Intan salah satu dokter keluarga Santoso.


"Ada apa?" Rudi bertanya,ia melirik adik sepupunya yang terbaring di atas tempat tidur "Kenapa Divya" Melirik sofa ada Tuan Santoso juga Nyonya disana.


"Dia pingsan tadi di kamar mandi" Rahma menjawab ramah. " Kau baru datang,nak" Tanyanya kemudian.


"Sudah lumayan lama,aku tidak tahu kalau semua orang ada disini" Jawab Rudi yang memang sudah sekitar lima belas menit lalu menunggu di ruang tengah.


Tak ada satu pelayan pun yang menghampirinya,semua tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Intan mulai dengan pemeriksaan,memasang stetoskop di telinga,dan menempelkan ujungnya di dada Divya.


Sesekali ia memeriksa jam di lengan kirinya,menyesuaikan detak jantung dengan laju jarum jam tersebut.


Memompa tekanan darah.Setelah merasa yakin dengan kesimpulan yang ia dapat barulah Intan melepas kembali semua peralatan medisnya memasukan kembali ke dalam tasnya.


epilog


"Hai,Rud.Dimana pasiennya?" Intan baru saja masuk dan langsung bertanya.


Rudi yang tidak tahu apa-apa hanya mengangkat bahu.


"Kau tidak tahu? Tante Rahma menelponku,katanya menantunya pingsan" Jelas Intan


"Divya pingsan?"


"Aku sudah disini dari tadi , sejak menikah Haris sering terlambat turun,aku kira sudah biasa tidak ada sesuatu yang terjadi.Begitulah pengantin baru" Rudi menggeleng tak habis pikir.


"Haha..Ya begitulah,kau juga, kan?


"Tidak!" Menjawab cepat.


"Ah tadinya ku pikir tante Rahma bergurau tentang menantu,aku bahkan tidak tahu kapan Haris menikah" Merekapun beriringan menaiki tangga.

__ADS_1


__ADS_2