
Sementara di tempat lain Santoso masih berusaha bicara baik-baik dengan Rahma,istrinya.
mencoba menasehati wanita itu agar lebih bisa menerima kenyataan.
Sedangkan Haris sudah sejak pagi meninggalkan Rumah berangkat kantor bersama Rudi.
"Terima lah Divya sebagai menantu mu,bahkan anggap dia seperti putrimu.
Apa kau tidak ingin melihat putramu bahagia,Rahma? " Ucap Tuan Santoso di sela-sela perbincangan nya dengan istrinya yang sudah sejak tadi terus mencela Divya.
"Dia benar-benar keponakan Fram,anak siapa dia? Fram pungut anak darimana lagi itu" Rahma justru terus mengorek asal usul Divya.
" Yang jelas Divya dan kedua adiknya memang keponakan Fram,orangtuanya sudah tiada.aku berteman lama dengannya,kau tahu itu.
aku sendiri tidak mungkin menikahkan putra ku pada gadis sembarangan.jadi cobalah terima semua ini." Santoso terus berusaha menjelaskan.
"Ah tidak tahu lah.! aku tetap tidak suka,kau memutuskan persoalan sepihak.aku baru akan menerimanya jika Haris sudah mau bicara padaku lagi" jawab Rahma
"Baiklah kau juga harus berusaha mengambil simpati anakmu itu,mungkin saja dengan kau mau menerima istrinya,dia jadi mau bicara lagi padamu" Santoso mengangkat bahu nya seakan mengatakan mungkin saja kan?
ia meraih secangkir teh dimeja,melanjutkan kembali aktifitas nya membaca koran.
Rahma tak lagi menjawab ia memerhatikan apa yang dilakukan suaminya,mungkin sedang mencerna apa yang dikatakannya.
***
__ADS_1
Siang ini Haris menerima undangan makan siang dari seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.
ia sudah berangkat dari kantor menuju sebuah restaurant setelah pekerjaan nya selesai,dan waktu makan siang tinggal beberapa menit lagi.
setibanya di restauran ia langsung menuju ruang yang sudah dipesan,sudah ada yang menunggu disana.
Seorang Pria dengan stelan jas biru navy,tengah duduk bersama seorang perempuan di kursi sebelahnya.
Mata haris langsung tertuju pada gadis berambut panjang dengan pakaian nya yang menonjolkan lekuk tubuh yang indah.
Dialah Divya istri sah nya sendiri.
Divya tampak sedikit terkejut dengan kedatangan Haris bersama kak Rudi.ia merasa kikuk.
Nando. batin Rudi menggelitik.
"Wah selamat siang Tuan Haris Santoso,senang bisa berjumpa denganmu" Nando mengulurkan tangan,yang disambut oleh Haris dan Rudi.
"Langsung saja pada intinya,aku tidak punya banyak waktu" ucap Haris sudah kesal duluan melihat keberadaan istrinya,bersama Seorang pria.
Dia ini. Divya menunduk ketika pandangan mereka bertemu.
"Iya Tuan,tentu.kau pasti sibuk."
"Vero tunjukkan berkas nya" Nando mengalihkan pandangan pada gadis yang tengah tertunduk itu,sontak Divya melotot ketika namanya di sebut.
__ADS_1
"Hei Kenapa bengong" Nando memegang punggung tangan Divya,yang dengan segera ditepis pelan .
"I iya bos...ini berkasnya" jawab Divya gugup.
Ya ampun kenapa harus Vero yang kau sebut,lihat itu mata suamiku hampir loncat mendengarnya.
"Ah iya ini Divya,Menejer perusahaan sekaligus Assisten pribadi saya" tersenyum penuh arti matanya mendelik sinis kearah Rudi.
Rudi masih tidak bergeming.
"Jadi kau putra Wiryawan?" tanya Haris Acuh.
"Iya Tuan ,Saya pewaris tunggal keluarga Wiryawan" Jawab Nando bangga sambil kembali mendelik kearah Rudi.
Sombong paling kekayaanmu itu tidak akan sampai setengahnya dariku. Batin Haris sambil terus membolak balikkan berkas ditangannya.
Sikap Haris Nampak acuh ia bahkan tak menghiraukan Jawaban dan perkataan Nando berikutnya.
matanya fokus memeriksa berkas yang di serahkan Divya.
Tidak membuang waktu lagi,setelah mengajukkan beberapa syarat. Haris langsung bergegas meninggalkan restauran.tanpa menyantap sedikitpun makanan yang sudah terhidang.
Ia hanya menyeruput segelas kopi.
menatap Jengah istrinya,berlalu pergi meninggalkan tempat itu diikuti Rudi.
__ADS_1