
Hiruk pikuk kota London kembali normal setelah kejadian yang menimpa seorang pelayan kafe yang diketahui berasal dari negara Indonesia.
Luna sudah berada di ruang ICU sebuah rumah sakit di kota London,Inggris.
Kehilangan banyak darah membuat keadaannya kritis.
Divya nampak khawatir wajahnya pucat,ia duduk bersandar di bahu Haris.
Beberapa saat kemudian dokter keluar menjelaskan kondisi pasien.
Luna sudah mendapatkan transfusi darah namun keadaannya justru semakin lemah,ia ingin bertemu dengan Divya.
Bagaimanapun ia mengenal Divya dengan baik meski hanya lewat sebuah cerita yang disampaikan Nando,ia yakin Divya yang ia panggil nona Vero itu seorang wanita yang baik.
Haris sudah berada di samping Divya ,melihat Luna yang terbaring lemah dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuhnya.
Ia mulai membuka mata,tersenyum tipis melihat sepasang suami istri itu ada untuknya saat ini.
"Luna" Ucap Divya,lirih.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya-nya,meraih tangan Luna menggenggamnya.
Luna merespon dengan mengedipkan matanya.
Nafasnya mulai tersedak.
"Kau mau mengatakan sesuatu?" Divya menangkap mimik wajah Luna yang seakan ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa?"
"Kau mau minum?"
"Tidak" Suara serak Luna nyaris tak terdengar.
Haris keluar menemui dokter,ia memastikan apa saja yang bisa dokter lakukan,lakukanlah dengan sebaik mungkin.
Sebagai seorang yang terpandang di negaranya,tentu saja uang bukan
masalah baginya.
__ADS_1
Sekalipun Luna juga bukan bagian dari keluarga Haris ataupun istrinya,Divya.
Namun apalah daya,uang tetap saja uang karena nyawa ada pada tangan Tuhan.Sekaya apapun,sehebat apapun seseorang , takdir tetap tak bisa di pungkir.
Manusia selalu punya rencana tapi hanya tuhan lah yang menentukan segalanya.
Luna,akhirnya pergi untuk selama-lamanya,itulah yang dokter ucapkan beberapa saat kemudian setelah memeriksa pasien.
Divya menjerit histeris ketika Haris masih di ruangan dokter,ia mendapati Luna kejang-kejang seperti hendak meregang nyawa.Dan benar saja tangan Luna yang di genggam Divya jatuh lunglay, setelah mengatakan jika Melodi juga ada di rumah sakit ini,gadis kecil itu menderita kelainan jantung akibat lahir prematur.
Dia membutuhkan banyak biaya,itu yang sebenarnya mau Luna katakan di kafe tadi,sayang Haris tak memberinya kesempatan bicara lagi.Ia menarik paksa istrinya keluar kafe,sampai-sampai tasnya tertinggal.
Rasa bersalah tentu yang membuat Divya tak berhenti menangis meski ia berada dalam pelukan suaminya sekarang. Haris sudah berusaha menenangkannya sedari tadi.
"Ini salahku sayang.Ini salahku!"
Hanya kata-kata itu yang terus berulang keluar dari bibirnya.
"Kalau sampe Luna kenapa-napa,semua ini salahku,seandainya saja aku gak pergi dari kafe.Seandainya saja tas ku gak ketinggalan,dia...dia gak bakal nyusulin aku,dia gak akan nyusul kita sayang !" Ada banyak penekanan di setiap kalimat yang Divya ucapkan dengan suara serak nya dan deru nafas yang tersenggal-senggal.
"Sayang sudah dong! Jangan salahkan diri kamu seperti ini.Ini bukan salahmu ! Ini takdir sayangku,ini takdirnya" Ucap Haris terus mengingatkan Divya untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Melodi" Lirih Divya ketika tersadar tentang putri Luna itu.
"Putri Luna" jawabnya datar.
"Putri Luna?" Haris tersadar.Ya ia teringat percakapan mereka berdua di kafe tadi.
Jika Luna memiliki seorang putri dari pria yang selama ini selalu jadi ancaman bagi Haris .
"Kenapa sama putrinya,sayang?"
Divya mengusap air matanya,ia menatap Haris sejenak.
Kemudian
dokter keluar dengan wajah lesu penuh penyesalan,seakan merasa gagal dengan tugasnya.
"How is the patient,doc?" Tanya Divya,ingin lebih memastikan lagi.Ia masih berharap jika Luna hanya pingsan,dan bukan...
__ADS_1
"I'm sorry, miss,but Mrs Luna has passed away" (Maafkan saya, nona, tapi nyonya Luna sudah meninggal dunia) Jawaban dokter begitu mematahkan harapan Divya.
"Ya Allah!!" Pekik Divya kembali menghambur ke pelukan Haris.
Haris mengusap lembut punggung serta kepala, menenangkannya.
Mereka pun mengikuti doctor kembali masuk ke ruang ICU tempat Luna di rawat.
"But are you Mrs.Luna's family,sir?" Tanya dokter itu kepada Haris.
"No,eum...yes you could say that,because Luna is mya wife's relative" (bukan,eum...iya bisa dibilang begitu,sebab Luna masih kerabat istri saya) Jawab Haris sedikit berbohong.
"Oh yes! good then,I don't think he has any relatives here,because so far Luna's mother only came alone to see her daughter who was treated in this hospital" (Oh ya! bagus kalau begitu,saya pikir dia tidak memiliki kerabat disini,sebab selama ini nyonya Luna itu hanya datang sendiri menengok putrinya yang dirawat di rumah sakit ini) Jelas dokter panjang lebar.Rupanya dokter ini juga yang merawat Melodi anak dari Luna. Seorang
dokter wanita spesialis jantung.
"her daughter was treated intensively here,because if taken home no one would look after her while she worked"
Dokter itu menjelaskan jika anak Luna sudah dirawat intensif selama ini karena Luna tak bisa membawanya pulang.
Ia tidak tega meninggalkan anaknya yang sedang sakit,terlebih tak ada orang lain yang merawatnya.
Sudah sejak lahir bayi Melodi tinggal di tempat ini.
Divya sudah berada di depan ruang inap bayi,melihat dari balik kaca bayi 4 bulan itu di dalam kotak inkubator.
Melodi bayi empat bulan yang bobot badannya tak seperti bayi pada umumnya,jauh lebih kecil.
"Bagaimana ini sayang,apa yang harus kita lakukan?" Tanya Divya kepada Haris yang saat ini masih terpaku menatap anak manusia yanv sedang berjuang di dalam sana.
"Kita urus pemakaman Luna dulu,soal Melodi kita pikirkan lagi nanti" Jawab Haris tegas.Mau tidak mau ia memang harus terlibat dalam masalah Luna,wanita ini tidak mempunyai kerabat lain bahkan dia dan istrinya juga baru saja mengenalnya.
Tapi,sisi kemanusiaannya yang mengatakan jika ia harus menolongnya ,ini akhir dari kisah hidup Luna yang masih menjadi misteri.
Bagaimanapun Haris maupun Divya belum sepenuhnya tahu tentang wanita ini.Seperti apa kehidupannya di masa lalu ? Benarkah Melodi itu putri dari Nando ? Lalu bagaimana nasib putrinya setelah ia tiada sekarang? Haruskah Divya kembali terlibat dengan laki-laki dari masa lalunya itu?
Bagaimanapun Haris tidak akan suka.
Bukan Haris namanya kalau ia buntu hanya dengan masalah seperti ini.
__ADS_1
Ia lantas menelpon Rudi agar menyusulnya menggunakan pesawat jet pribadi bersama beberapa orang pengawal.
Selama lima hari ini mereka berdua hidup layaknya warga biasa,tanpa pengawal,bahkan Divya tak mau menggunakan kendaraan pribadi Haris yang terbilang mewah itu.