Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 15


__ADS_3

Satu bulan?


Satu bulan ! Marisa meraup udara banyak -banyak mengisi rongga paru-nya yang terasa sesak.


Waktu satu bulan yang diberikan ayahnya.


Hanya satu bulan.


Dan ini sudah berjalan setengahnya.


Bagaimana ini.


Manatap jauh keluar sana. Berdiri di balik jendela. Lurus, kosong.


Tak ada yang menarik. Bahkan hilir mudik para pekerja medis dan pasien mereka pun seakan tak terlihat olehnya .


Tiba-tiba dering ponsel mengagetkannya.


Marisa meraih benda pipih itu, layar datarnya menampilkan satu nama.


Fadlan.


Dengan mengulas senyum, ia mendial ikon berwarna hijau. Menempelkan itu di telinganya.


" Hai, ada apa ?" tanya Marisa


begitu panggilan mereka tersambung.


" Ada apa? Lo lupa teh Icha? Haz-mu akan tiba di Indonesia sore ini. "


Suara lembut Marisa bersahutan dengan suara tegas milik Fadlan.


Jika Fadlan bisa melihat Marisa saat ini, ia pasti tengah tersenyum bahagia. Dengan wajah merona merah dan mata yang berbinar.


"Ah iya. Aku hampir lupa, Lan ." Marisa menepuk jidatnya sendiri. Tarikan nafasnya bahkan bisa dengan jelas terdengar oleh Fadlan .


"Perasaan lo ke Hazlan masih sama , kan ? Lalu kenapa lo bisa lupa."


Marisa hanya terdiam, tidak terdengar menyahut.


"Atau lo udah berubah haluan ?" Fadlan di sebrang sana terkekeh geli.


"Kenapa diem? " Ia menggoda.


Lebih tepatnya mungkin menguji keteguhan hati Marisa.


"Eh enak aja ! Gue~Gak tahu ah.Jam berapa Haz tiba? "


Ada apa ,Cha ? Kamu terdengar ragu.


"Jam tiga sore nanti, gue mau jemput dia ke bandara lo mo ikut ?"


ajak Fadlan,kembali ia bersuara.


"Iya dong, jemput gue ya di rumah


sakit. " Marisa tersenyum manis seakan dia yang ia ajak bicara ada di hadapannya.


"Ok siap laksanakan bu dokter cantik! " seru Fadlan menyahuti permintaan Marisa.


" Ok see you."

__ADS_1


Sambungan telpon terputus.


Marisa bersorak senang. Ia kembali menjalani rutinitasnya dengan penuh semangat.


Apa aku yakin. Berubah haluan?


Apa maksud nya?


Marisa menutup tugasnya lebih cepat hari ini. Satu jam sebelum berangkat menjemput Haz, ia berniat mencari sesuatu yang bisa ia berikan padanya.


Sebuah hadiah kecil.


Langkah nya mantap menyusuri lorong toko tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Mencari sesuatu untuk Haz.


Marisa tersenyum lebar.


***


Sekitar tiga tahun sebelumnya.


Hazlan.


" Haz seneng kalau teteh mau nunggu Haz sampe lulus nanti. Kalau boleh jujur,Haz juga~" saat itu Hazlan ragu. Tapi, Marisa tahu kemana arah perkataan pemuda itu.


" Kamu apa ,Haz? " sambungan telpon kali ini terasa berbeda. Hazlan mulai terbiasa, seakan kehadiran Marisa juga penting baginya.


Setelah beberapa bulan mereka terpisah jauh. Terpisah jarak dan waktu. Terkadang Marisa harus rela begadang hanya untuk bisa bicara dengannya. Mengingat perbedaan waktu antara Kairo dan Jakarta cukup jauh.


Saat siang bagi Marisa lain halnya bagi Hazlan, di sana tengah malam.


" Eum apa ya? Ya, ya gituh. " Ia tertawa kecil.


"Tapi, kalau teteh ngerasa kelamaan nunggu Haz, gak apa-apa kok aku bisa ngerti,teh. Aku gak bisa nahan teteh tanpa alasan. "


" Aku tidak akan pernah menyerah untuk hal yang aku inginkan. Sebisa mungkin aku akan menunggu atau bahkan mengerjarnya sampai


dapat. "


gumam hati Marisa kala itu.


***


Saat ini, di parkiran ia tengah menunggu. Seseorang dengan menunggangi kuda besi turun dan mulai melangkah mendekati-nya. Marisa yang sedari tadi berdiri di samping mobil dengan gelisah. Senyum mengembang begitu ia yang ditunggunya datang, mengusir kegelisahan.


" Lama banget sih? " Marisa memdesis kesal. Tak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menjawab, ia kembali bersuara.


" Hampir jamuran gue nunggu lo disini, "


sewotnya lagi.


"Hampir, bukan? " Fadlan terbahak.


"Masih belum jamuran, kan? " melihat wajah Marisa memerah menahan amarah.Ia terkekeh geli.


" Ishh ! " dengan menghentakkan kaki Marisa masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi samping kemudi.


Tak lupa sebelumnya ia melempar kasar kunci mobil itu ke hadapan Fadlan.


Mobil pun melaju kencang. Genggaman tangan Fadlan pada kemudi begitu kuat. Ia berucap antusias menyambut adik kembarnya. Tapi, wajahnya menunjukkan hal yang sebaliknya.


Ada apa dengan Fadlan?

__ADS_1


Semua itu tak terlihat di mata Marisa. Ia yang terlalu senang akan berjumpa Haz setelah sekian lama.


Tidak ada pertanyaan keluar dari mulutnya. Fadlan lebih mendominasi pembicaraan seperti biasa.


"Apa yang akan aku katakan pertama kali saat bertemu dengannya nanti. Apa aku sanggup menatap matanya ? Apa dia akan senang melihat ku. Sudah dua tahun ini aku bahkan kesulitan hanya untuk mendengar suaranya. Hazlan. Bisakah kau dengar hati ku saat ini. Aku takut atau aku ragu. Aku tidak tahu apa ini. " guman hati Marisa penuh tanda tanya.


***


Sementara di tempat lain,ada Umi Nara dan Abi Yunus tengah dalam perjalanan menuju Jakarta. Menyambut kepulangan buah hati mereka.


Dua jam sebelum waktunya tiba mereka sudah berangkat. Namun, kemacetan Ibukota membuat Umi merasa cemas. Bagaimana jika tidak bisa tepat waktu.


Hazlan akan menunggu.


Seharusnya Umi dan Abi berangkat sedari pagi atau bahkan dari semalam saja, mereka bisa menginap di rumah sewa putranya yang lain, Fadlan.


Tapi, pesantren. Tidak memungkinkan bagi keduanya meninggalkan para santri didikannya begitu saja.


Beruntunglah Fadlan menelepon.


Kembaran Hazlan itu mengatakan jika dirinya juga bersedia menjemput Hazlan ke bandara.


Sudah dalam perjalanan, dan sebentar lagi akan sampai.


Ingin rasanya Umi memberi tahu Fadlan jika Hazlan tidak pulang sendiri, melainkan berdua.


Tapi, niat itu Umi urungkan ketika beliau mendengar ada suara seorang wanita di samping Fadlan.


"Siapa wanita itu? Apa mungkin dokter Marisa? " gumam Umi Nara saat sambungan telpon terputus.


Rasa khawatir di benak Umi kian menguat, apa yang akan terjadi nanti ? Apa yang harus ia lakukan sekarang ?


Hazlan datang tidak sendiri. Tapi, wanita itu telah menunggunya selama empat tahun. Belum lagi Umi mengenal siapa dan seperti apa ayah dokter cantik itu. Apa putranya salah?


Atau ini memang sudah jalannya.


Umi Nara hanya mampu menghela nafas berat. Bagaimana ia dan adiknya dulu mencintai satu pria yang sama .Dan sekarang, kedua putranya.Tidak !!


"Ada apa umi? " tanya Abi Yunus sesaat setelah ia mendengar istrinya itu berbicara di telpon.


"Yang nelpon itu Fadlan ,kan? " tanya abi lagi ketika Umi hanya meliriknya sekilas. Tanpa mengiyakan ataupun menyangkal.


"Mengapa khawatir seperti itu? Fadlan berulah lagi. Bukankah dia sudah lebih baik ya dari sebelumnya? "


Fadlan berubah walau tidak sepenuhnya. Sikap liar dan terkesan semaunya masih ada. Penampilan berandalnya masih sama. Tapi, ia sudah tidak lagi menyentuh apapun yang dilarang oleh agama.


Abi merasa bangga saat ia sebulan sekali akan mengunjungi pesantren.


Dengan memakai baju koko dan sarung berbaur bersama para santri, mendengarkan ceramah dan mulai menyentuh sejadah.


Membuka kitab suci dan melantunkan ayat-ayat yang terdengar merdu.


Cukup bagi abi Yunus yakin jika Fadlan-nya telah kembali.


" Tidak Abi, tidak terjadi apapun pada Fadlan kita, dia baik-baik saja. "


ucap Umi, berusaha mengulas senyum.


"Tapi, kenapa Umi terlihat begitu


cemas. " tanya Abi lagi.

__ADS_1


"Abi lihat saja nanti ya, Umi juga masih tidak yakin. " jawab Umi.


__ADS_2