Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kesalahan Pranando


__ADS_3

Gemercik air hujan di pagi hari, gemuruh langit seakan bertalu.Raisa menatap jendela sendu. Ada yang ia cari dibalik rintik hujan ,ada yang ia tunggu di tengah gelapnya awan.


Semalam Pranando lupa arah jalan pulang. Jangankan untuk kembali ke rumah, berjalan menuju mobilnya saja ia sempoyongan. Menyandung apa saja yang menghalangi kakinya melangkah. Menubruk siapa saja yang ia temui di sepanjang koridor bar yang gelap.


Entah sejak kapan ia kembali pada kebiasaan lama. Mabuk-mabukan. Mungkin setelah dua bulan lalu, ia tak bisa lupa akan hal itu.


Pikirannya semakin kacau. Rasa bersalah terhadap Raisa istrinya pun kian menguat. Namun, begitu ia tidak berniat menjadi lebih baik tapi justru sebaliknya menjadi lebih buruk. Sangat buruk. Teramat buruk.


Bagaimana mungkin ia bisa kembali terjebak rasa sakit. Terhimpit rasa perih.


Pecundang !


Sejauh apapun ia melangkah bayangan itu kian menguat seakan mengikutinya setiap waktu. Seakan mengejeknya setiap saat. Ingin,ingin rasanya ia pergi ,tapi kemana ? Bagaimana dengan Raisa? Melodi ? Terlebih bagaimana dengan putranya.Reynand ?


Hancur sudah segala pertahanan diri Pranando. Ia bersumpah akan melanjutkan hidupnya saat Vero-nya benar-benar sudah bahagia. Dulu di tepi danau ia berharap Vero kembali.


Tapi melihat wanita itu rapuh karena pria lain ia memilih mundur. Haris, hanya dia yang ada di hati dan pikiran


Veronika. Tidak ada namanya.


Tuhan cinta macam apa ini.


Benarkah Raisa hanya pelarian ? Kenapa harus sejauh ini. Mereka menikah dan memiliki seorang putra.


Lalu kenapa setelah semua itu Pranando kembali tersadar akan perasaannya. Ini salah. Tidak seharusnya seperti ini.


Bagaimana perasaan Raisa setelah semua pengorbanannya, semua pengabdiannya.


Pranando memang tidak pernah meminta semua itu namun ia pantas bersyukur .


Tuhan mengirimkan dia bidadari setulus Raisa.


Jika Pranando terus bersikap seperti ini maka ia membenarkan apa yang dirasakan Haris. Kecurigaannya dan rasa cemburunya. Haris sama halnya seperti Pranando mereka sama-sama pria.


Haris pasti bisa melihat jika masih ada cinta di mata laki-laki itu untuk wanita yang telah sah sebagai istri dan ibu dari anaknya.


Bukan sekadar cemburu buta.


Nyonya Wiryawan yang kian hari mendapati putra angkatnya semakin hancur merasa begitu takut.


Takut jika anaknya tak bisa mengendalikan diri lagi .Dulu saat dia di permalukan, ia hampir mengakhiri hidupnya. Jika bukan karena Raisa.Mungki ia sudah tiada.


Dan sekarang ia harus menyaksikan menantunya terus berderai airmata.


Pagi ini hujan semakin deras seakan tahu ada hati yang tengah menangis.


Dia lah istri yang terabaikan sejak dua bulan terakhir. Entah karena alasan apa, ia tidak tahu.

__ADS_1


Pranando masih setengah sadar ketika nyonya Wiryawan menyambutnya di ambang pintu. Tanpa berpikir panjang satu tamparan keras mendarat di pipi putra angkatnya itu.


"Begini cara mu menghadapi masalah"


Teriakan si nyonya menggelegar beradu keras dengan suara gemuruh langit.


Petir dan geledek silih berganti.


"Jawab Nando? Kau tidak tuli ,kan? Kau juga tidak bisu. Apalagi bodoh"


"Aku pungut kau sebagai putra dan aku sekolahkan kau sampai keluar negri.Begini cara mu menghadapi hidup? "


"Ibu~ " lirih Pranando seakan tak rela ibunya menangis.


"Apa? Apa ! Aku masih hidup nak. Aku masih hidup kamu sudah begini. Bagaimana kalau nanti ibu mu ini sudah tiada.Kamu tega? Lihat istri mu ! Lihat putra mu"


Nyonya Wiryawan terus terisak pilu.


Membelakangi Pranando.


Meratapi nasib yang menimpa putranya. Bagaimana lagi, ia sungguh memahami apa yang di rasakan Pranando lebih dari orangtua kandungnya sendiri.


"Kau tinggal menikmati hidup, nak. Aku tidak memberikan mu beban,bukan? Apa yang ayah mu berikan sudah lebih dari cukup untuk kamu bersyukur. Kamu punya istri, punya anak ,apalagi ? Tidak ada yang kurang "


Tidak ada yang kurang dari hidup seorang pelayan kafe yang menjelma menjadi sosok pemimpin perusahaan.


Sekarang ia memiliki istri dan juga anak.Apalagi yang sebenarnya ia cari.


Kebahagiaan itu ada karena di ciptakan. Bukan mencarinya di luar sana.


Salah !


"Kamu ingat Nando saat dulu kamu memohon agar ibu mu ini mau menerima Melodi.Tanpa ragu ibu menganggapnya cucu. Banyak orang di luar sana yang mempertanyakan siapa kamu, siapa Melodi. "


Pranando hanya diam, tertunduk dalam. Ia mungkin menyadari kesalahannya tapi belum bisa untuk memperbaikinya.


" Nando" Nyonya Wiryawan kembali menghadap, menatap putranya.


"Apa ini ada kaitannya dengan dia? "


Pertanyaan yang langsung membuat dada Raisa yang diam-diam tengah mendengarkan percakapan keduanya itu terasa sesak.


Raisa tahu siapa dia. Siapa yang ibu mertuanya sebut 'dia'.


Dia lah Divya. Tidak salah lagi.


"Katakan nak? " tanya ibu Nando memegangi kedua pundaknya.

__ADS_1


"Apa semua ini karena Divya? Kau begini setelah menemuinya lagi,kan?"


Benar, memang benar apa yang ibunya itu pikirkan. Semua berawal dari dua bulan yang lalu saat Nando pulang terlambat dan ia mengatakan baru pulang setelah menemui Marisa putri Divya yang selama ini memanggilnya 'Papa'.


Yang ibu Nando tahu terakhir mereka bertemu saat merencanakan kejutan untuk Haris di Swiss. Setelah itu semua masih baik-baik saja. Satu sama lain tidak pernah bertemu lagi.


Sampai tiga bulan kemudian Raisa melahirkan putra mereka berdua. Lalu hampir lima bulan kemudian,total delapan bulan mereka baru bertemu lagi, tepatnya dua bulan lalu Pranando datang menemui Marisa atas permintaan Divya dan persetujuan Haris tentunya.


Sejak saat itu baik Ibu maupun Raisa memerhatikan perubahan yang terjadi pada diri Pranando. Benarkah itu karena Divya?


Padahal dalam waktu delapan bulan itu semua masih baik-baik saja. Tidak ada yang berubah meski Pranando juga Divya sama-sama menikmati udara dingin bersalju di Swiss kala itu. Sikapnya masih sama seperti saat pertama kali mereka menikah.


Lalu apa yang terjadi dua bulan belakangan ini? Apa yang Pranando sembunyikan.


"Ya ! "


Rahang Raisa mengeras, terasa sakit saat ia mendengar jawaban pertama dari suaminya itu.


Apa ini ada kaitannya dengan dia?


Apa semua ini karena Divya?


Dan jawabannya Ya! Ya!. Jawaban Pranando iya. Matanya tak mampu lagi menahan lajunya mutiara bening, airmata. Sedih,kecewa.


"Ada apa? Kau tidak bisa mengendalikan perasaan mu ?


Lalu kau anggap apa Raisa? "


Bentak Ibunya, dan Raisa di belakang sana tengah terisak sakit. Perih.


Letih dengan semua takdir ini.


Raisa pikir saat mereka menikah, akan ada cinta di antara mereka seiring berjalannya waktu.


Namun kenyataan terbalik, perasaan cintanya kepada Divya nyata tak bisa tergoyahkan.


"Raisa! " Mata Pranando sukses membulat ketika mendapati istrinya sendiri tengah terisak di tangga teratas.


Ibunya pun ikut mendongak sama halnya yang di lakukan Pranando.


"Tolong jangan seperti ini. Jangan lakukan lagi atau kau bisa saja membuat nyawa ibu mu ini melayang seketika. "


"Berjanjilah Nak! " ucap sang ibu memohon.


"Sebelum ibu tiada"


lirihnya lagi dan itu sekses membuat Pranando menepis.Omong kosong.

__ADS_1


"Apa yang ibu katakan"


Ada desir ketakutan di mata seorang Pranando .


__ADS_2