Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Dalam satu ranjang !


__ADS_3

Pagi menyeruak menggantikan malam, sinar mentari menampakkan keindahan kilaunya di luar sana. Silaunya menembus celah kain penutup jendela yang bergerak-gerak tertiup angin.


Gadis berselimut itu masih saja menggeliatkan tubuh di atas tempat tidur. Rasa kantuk dan penat membuatnya enggan membuka mata.


Ia menarik kembali selimut sampai menutupi wajah.


"Eum ... nyamannya, " gumaman kecil Divya sukses membuat sudut bibir Haris—yang sudah lebih dulu terjaga—sedikit tertarik ke atas. "Tidur di sofa saja rasanya senyaman ini ... emang, ya, sofa mahal mah beda rasanya." Tawa kecilnya membuat Haris betah berlama-lama menopang kepala di belakang Divya.


Gadis itu sepertinya tengah merasakan kenyamanan di tempat ia tertidur. Tak berselang lama Divya mengangkat kedua tangan—yang masih memegangi ujung selimut—keatas kepala.


Haris memperhatikan tingkahnya dengan sesekali mengulas senyum, lalu menggeleng sambil berdecak pelan. Sungguh pemandangan baru yang membuat mood-nya berubah 180 derajat dari biasanya.


Puas menyaksikan tingkah Divya, ia pun berdehem cukup keras. Hanya sekali saja, itu pun sukses membuat gadis di sampingnya terperanjak kaget.


Divya berteriak. Ia memekik keras sampai Haris terpaksa harus menutupi kedua telinganya.


"Apa ini!!"


Divya sampai kaget bukan main ketika membuka mata yang dilihatnya malah tuan muda bertelanjang dada.


Lebih terkejut lagi sebab sadar ia tidak sedang tidur di atas sofa, melainkan di atas ranjang tempat tidur si tuan Haris.


Pria yang masih memelototi sambil tertidur miring di sampingnya. Divya tidak sepenuhnya percaya dengan kenyataan yang ada, kemudian ia mengucek-ngucek mata. Mengerjap kecil memastikan jika apa yang ia lihat mungkin saja salah. Divya bahkan sampai nemukul pelan kedua pipinya.


"Ini bukan mimpi, ya?"


"Bukan ini bukan mimpi ternyata! Ini kenyataan." Lagi-lagi ia histeris


Kenapa aku bisa di sini.


Kapan aku berjalan ke atas kasur?


Astaga aku tidak punya kebiasaan tidur berjalan, 'kan?


Divya benar-benar syok, apalagi saat melihat senyum menyeringai di bibir Haris.

__ADS_1


Ah tidak, ini tidak mungkin.


Divya membuka selimut memeriksa keadaan tubuhnya.


Aku masih pakai baju yang sama.


Baju yang aku pakai kemarin sore.


Ia balik menatap Haris, melempar tatapan tajam, meminta penjelasan.


"Apa? Kau berpikir apa hah! Aku memperkosamu? Ck ck ck!"


Haris berdecak kemudian tergelak senang. Dan itu sungguh terdengar menyebalkan.


Divya semakin bingung, ia segera turun dan berdiri di samping tempat tidur. Masih dengan perasaan yang sama. Ia takut, lagi terkejut. Divya tak lantas beranjak, masih menatap Haris dengan segala spekulasi yang muncul di kepalanya. Ia mencoba kembali pada memori semalam, tapi nihil, tidak ada yang ia ingat selain dirinya yang tidur di sofa.


"Kalaupun, iya, itu kan sudah jadi kewajibanku , benar?" Senyum menyeringai kembali hadir di bibir Haris.


"Katakan! Kenapa aku bisa sampai tidur denganmu!" Dengan nada menginterogasi ia bertanya. Divya bahkan berani mengacungkan telunjuk ke arah Haris.


"Jawab saja, kau yang memindahkan aku ke sini?" Divya masih belum menyerah. Lagi-lagi ia memaksa Haris untuk jujur. Intonasi suara ia pun tidak berubah, masih meninggi dengan mata penuh selidik. Namun kali ini, tangannya sudah turun. Tidak lagi menuding ke arah Haris.


"Tidak, untuk apa? Kau sendiri yang berjalan ke sini, dan kau tahu? Tiba-tiba saja kau dengan berani memelukku." Cerita Haris dibuat-buat. Ia kembali dibuat tergelak sebab melihat raut wajah Divya yang pucat pasi.


"Tidak, kau bohong, 'kan? Iya, 'kan? Jawab saja dengan jujur, Tuan yang memindahkan saya ke sini." Divya menyangkal, ia tidak percaya bualan Haris. Mana mungkin ia berjalan sambil tertidur. Sungguh, Divya memang tidak ingat apa-apa. Cerita Harus pasti hanya akal-akalan saja. Tuan muda aneh di hadapannya itu, kan, memang gila.


Ah ... apa mungkin aku yang pindah sendiri ke ranjang?


Iya, sih, memang aku terbiasa ketiduran di sofa, terus aku suka pindah saat sudah tengah malam. Lalu, aku juga biasa tidur bersama Ameera


Apa mungkin aku masih merasa ada Ameera di sini sampai-sampai aku memeluknya, hiiiih ... itu gak mungkin.


Divya bergidik ngeri memikirkan kemungkinan yang terjadi.


"Kenapa kau malah bengong begitu? Mandi sana!" Haris membuyarkan lamunan dan spekulasi Divya.

__ADS_1


"Jawab dulu, kau yang pindahkan aku kan? Ayo jawab !" Kali ini Divya sudah naik kembali ke atas tempat tidur, menggoyang-goyang tubuh Haris, meminta jawaban jujur dari pria yang satu malam ini sudah sah menjadi suaminya itu.


Melihat sikap Divya yang manis seperti ini membuat Haris semakin terpancing untuk menjahilinya.


"Sudah kubilang tadi, kau sendiri yang jalan ke sini, Bodoh!" Haris berbicara dengan nada sedikit lembut, dua jari tangannya berjalan-jalan di lengan Divya. Sampai di akhir kata 'bodoh' ia mencubit pipi gadis itu.


Deg. Aaah ... jantungku.


Entah sudah semerah apa wajah Divya sekarang.


"Ah ... sudahlah, Anda pasti bohong, Tuan. Itu tidak mungkin. Seingatku aku mimpi di gendong Ayah dari sofa ke tempat tidur, aku pikir cuman mimpi."


Setelah bersungut-sungut sebal Divya akhirnya menyerah. Ia menyimpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa ia dibopong Haris seperti mimpinya digendong ayah Ibrahim.


Tidak ingin ambil pusing Divya pun beranjak ke kamar mandi.


Dan, lagi-lagi Haris tergelak melihatnya.


Manis juga dia kalau sedang malu seperti itu. Haris mengulas senyum.


Epilog.


Haris berjalan mendekati sofa saat Divya sudah terlelap. Ia memerhatikan wajah gadis itu sejenak.


Inikah gadis yang kau maksud sayang.


yang akan menggantikanmu.


Yang kau bilang akan mirip sepertimu.


Keberaniannya memang sama sepertimu. Rambut, mata dan senyumnya juga sama persis. Namun, aku tidak tahu apa aku akan bisa menerimanya sebagai pasangan hidupku sekarang atau tidak.


Haris menatap lekat wajah Divya.


Saat Haris sudah akan beranjak kembali, Divya menggeliatkan tubuhnya, mengubah posisi tidur hingga dia hampir saja terjatuh. Haris pun berinisiatif menahan tubuh Divya agar tidak terjerembab. Kemudian, ia memutuskan untuk membawanya tidur di ranjang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2