
"Tidak ada yang salah memang, melindungi orang yang dicintai dari siapa pun yang berpotensi merebutnya dari sisi kita. Jangan pernah berpikir itu keterlaluan. Sekarang kamu sendiri merasa dikhianati dan akhirnya memutuskan bercerai."
Kalimat terakhir Andra sebelum akhirnya mereka berpisah. Pulang ke tempatnya masing-masing. Mungkinkah tangan Tuhan akan mempertemukan mereka kembali? Entahlah. Ameera mengembuskan nafas berat. Langkahnya tertuju ke lantai atas. Menapaki satu persatu anak tangga dengan pikiran berseliweran ke mana-mana. 'Berpotensi merebut' apa maksud dari kalimat itu? Andra tidak pernah terlihat menggebu untuk bisa menghubunginya. Selama ini, selalu Ameera lebih dulu yang menelepon Andra, itu pun untuk sekedar cerita seputar pekerjaan. Lalu, apa Andra memang punya perasaan lebih dan dia kelepasan bicara tadi, atau itu hanya kecemburuan Erik saja selama ini yang terlalu berlebihan.
Bahkan hari ini pun perasaan Ameera masih sama, menganggap Andra tempat berbagi yang terbaik, bercerita apa pun padanya terasa jauh lebih menenangkan. Enggan berpisah dan banyak yang ingin ia kisahkan. Namun, denting jam sudah menunjuk hampir petang. Tidak baik ia terus di luar hingga malam. Apalagi bersama seorang pria ditengah statusnya yang belum jelas.
"Kamu itu bersuami, Meera. Wanita terhormat yang memiliki pasangan. Tidak pantas menghubungi laki-laki lain apa pun alasannya."
Lontaran sang ibu mertua di depan Erik—putranya—kembali mengusik. Ia pantas disalahkan saat itu. Namun, ego di hatinya yang mengatakan hanya sekedar teman terus mengendalikan pikiran. Hingga kemarahan Erik memuncak. Apa mungkin itu alasannya. Karena Ameera yang salah lebih dulu lalu dia membalasnya. Tapi kenapa harus menunggu rentang tiga tahun baru Erik berkhianat?
Sampai di dalam kamar, tak kuasa Ameera menahan tangis. Gejolak kesedihan mengungkung jiwanya. Ada rasa marah dan juga rasa bersalah.
"Aku masih sangat mencintaimu, Kak Erik." Lirihnya di sela-sela isak tangis.
"Tapi kemarahanku atas pengkhianatan itu jauh lebih besar."
Cengkraman tangan Ameera pada bantal semakin kuat. Melampiaskan amarahnya di sana.
***
Ruang sidang di daerah Jakarta menjadi saksi. Dahulu mereka mencatatkan pernikahan di kota ini. Sekarang di kota yang sama keduanya memutuskan untuk berpisah. Sudah musnahkah rasa di hati Erik untuk Ameera? Bertahun-tahun menanti, lalu berhasil mempersunting. Namun pada akhirnya dilepas begitu saja.
__ADS_1
Sidang berjalan cukup alot. Erik memberi alasan yang berbeda-beda setiap mendapat pertanyaan. Apa yang dia lakukan? Sengaja mengulur waktu. Atau masih ada sisa cinta itu? Mungkinkah dia hanya mempermainkan Ameera saja.
Sidang ditutup, tidak mendaptkan hasil. Lalu Erik menarik paksa Ameera. Dalihnya ada hal yang ingin dia tegaskan. Lagi-lagi tindakannya membuat Ameera jengah. Dia membawanya ke mobil. Kendaraan yang dulu Ameera ikut melunasi cicilannya.
"Ra, kamu gak bisa gugat aku seperti ini. Aku gak siap cerai sama kamu, Sayang," katanya begitu sampai di dalam mobil.
"Gak siap kamu bilang?" Ameera mendecih, "lantas kenapa tanda tangan?" Surat gugatannya langsung Ameera terima di hari yang sama lengkap dengan goresan nama Erik. Apa artinya tidak siap, kalau semua itu justru mudah dia lakukan. Jika boleh jujur Ameera juga enggan seperti ini.
"Saat itu aku lagi emosi, Sayang. Aku gak sadar sama tindakan aku yang langsung tanda tangan begitu aja."
"Omong kosong!" Ameera tidak ingin percaya apa pun lagi dari Erik. Meski hatinya masih berat.
"Sayang, ibu juga paksa aku. Dia minta aku untuk lepas kamu. Tapi sungguh aku, aku gak bisa kayak gini. Aku gak siap."
Erik terdiam untuk beberapa saat. Dia mungkin menyadari di mana letak kesalahannya. Tapi nasi sudah jadi bubur. Terlanjur tanak. Terlanjur Ameera sakit hati. Ia meringsut untuk keluar dari kendaraan itu. Namun, lagi-lagi Erik menahannya. Memaksa Ameera untuk tetap berada di sana lebih lama lagi. Tatapan mereka saling bertemu untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Ameera yang memutus. Ia memaksa keluar.
***
Sementara itu, Andra sengaja datang terlambat. Ia hanya ingin bertemu Ameera setelah persidangan agar tidak harus bertemu dengan Erik, mengingat situasinya masih belum memungkinkan. Bisa saja Erik salah paham lagi kepadanya, bukan?
Niat hati tak ingin mengusik masalah yang sudah ada agar tidak semakin besar. Nyatanya ia malah melihat Ameera keluar dari dalam mobil Erik. Tidak ada yang Andra tahu apa yang terjadi. Namun, ia menjadi kikuk saat Ameera memergokinya tengah melihat ke arah mobil.
__ADS_1
"Meera, aku, aku ...."
"Gak ada apa-apa. Dia cuma ngajak aku nego soal cerai." Ameera bisa menebak apa yang Andra pikirkan.
"Kamu sengaja datang untuk aku?"
"Oh, i iya, tapi aku telat, ya? Sorry!"
"Heum ... aku tau kamu sengaja datang terlambat, dasar!" Ameera terkekeh. Andra dari dulu tidak pandai berbohong. Lihat hidungnya kembang kempis kalau memaksa untuk berdusta.
Baru saja Andra hendak mengajak Ameera berbincang di tempat yang lebih nyaman, Erik datang menghampiri, lengkap dengan kata-katanya yang sedikit keterlaluan.
"Owh, pantas saja kamu tidak mau kembali atau membatalkan perceraian. Ternyata, sudah ada penggantiku, Meera?"
Andra yang sudah membukakan pintu mobil untuk Ameera, kembali menoleh. Tertegun melihat keberadaan Erik. Ia kembali menutup pintu.
"Andra tidak ada hubungannya dengan perpisahan kita."
"Oh, ya? Bukannya kamu senang bisa lepas dan kembali pada selingkuhanmu itu? Ini yang kamu inginkan?" Erik mengangkat tangan ketika Andra hendak mengambil alih jawaban.
"Dan kau, tidak tau malu." Erik mendecih. "Bisa-bisanya kau mencintai wanita yang sudah menikah," imbuhnya.
__ADS_1
Lontaran kalimat Erik, tentu saja membuat emosi Andra melonjak. Wajahnya terasa panas serta rahang yang mengeras. Ingin ia umpat laki-laki di hadapannya itu. Maling yang berteriak maling. Dia yang berkhianat, tetapi menyeru tak punya malu kepada orang lain. Belum lagi Ameera yang menatapnya penuh selidik.
"Kau!" Telunjuk Andra mengudara.