
"Gak gitu gak gitu,udah keluar sono lu" Lemparan bantal tepat mengenai Ameera.
"Kakak ngapain di sini,ayo mau makan malem,kan?" Ameera menarik tangan Dimas yang tidur terlentang.
"Tiduran bentar." Mengubah posisinya jadi tengkurap.
"Ayo !" Ameera menarik kaki Dimas.
"Ishh apa sih ni anak ya !" Dimas mendengus kesal.
"Kakak gak keluar malam ini?" tanya Ameera memancing suasana.
"Shutt gue lagi dihukum, dalam masa percobaan gak boleh keluar tahu!" Dimas memberi isyarat telunjuk di bibirnya.
"Hahaha kasian," Oops !
***
Malam ini Divya kembali merasakan pening di kepalanya. Namun, sebisa mungkin ia menutupi itu dari Haris.
Gemercik air masih belum berhenti, beberapa kali Divya menoleh. Menatap pintu kamar mandi dan jam dinding bergantian.
Perutnya terasa aneh, seperti melilit tapi bukan untuk minta diisi.
"Isshh. Aww !" Ia meringis dan meremas perutnya sendiri.
"Ih lama banget sih. Dia mandi apa semedi ? Ya ampun!" Divya yang masih meringis kesakitan itu menggigit bibirnya sendiri, mencoba mengurangi apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Tak berselang lama, Haris pun keluar masih dengan handuk di pundaknya, mengusap-usap mengeringkan rambutnya yang basah.
Ah wajah tampanmu itu bahkan tak bisa membuat rasa sakit ini hilang. Malah justru semakin sakit tahu. Mimik wajah Divya yang datar itu membuat Haris mengernyit heran.
"Hei,kenapa? Terpesona." Gerakan halisnya itu,menyebalkan.
"Idih ... Gak sama sekali !" ketus Divya,membuat Haris tergelak.
Divya lebih memilih meninggalkan Haris sendiri di kamar daripada meladeninya.
Aku sudah menunggu pintu ini terbuka dari setengah jam yang lalu, tahu. Batinnya ketika sudah berada di ambang pintu kamar mandi.
"Aw !" Namun, langkahnya terhenti ketika ia baru saja menutup pintu dan kembali berteriak keras.
"Sayang, hei ... Buka pintunya! Kamu kenapa?" Haris mengetuk-ngetuk pintu itu berkali-kali.
"Apa yang sakit? Divya! Buka pintunya sayang!" Terang saja saat ini sudah terdengar suara panik Haris.
"Sebentar !" teriak Divya sedikit meringis menahan sakit.
"Duh aku gak bisa jalan ini perutku sakit, rasanya kram begini. Aw ! Tuh,kan ! aku kenapa ya ?" Divya bergumam sendiri tertatih kembali meraih gagang pintu .
"Kalau mau datang bulan juga sepertinya tidak begini" tanya Divya pada dirinya sendiri.
"Kamu kenapa sayang ?" Haris langsung memeluk Divya begitu pintu terbuka.
"Kamu menangis? Apa yang sakit,bilang sama aku !" Dengan nada khawatir, Haris mengusap lembut kepala istrinya.
"Perut aku sakit sayang," ucap Divya. Haris langsung menggendongnya tanpa aba-aba,merebahkan Divya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Mau ku panggil dokter ? Atau kita ke rumah sakit,ya ?" ekspresi paniknya yang lucu jelas tergambar di wajahnya.
"Gak perlu sayang, rebahan sebentar pasti sembuh," Ia menolak.Divya lebih takut lagi jika dokter berkata yang aneh-aneh.
"Ya sudah,tidurlah !" ucap Haris dengan menaikan selimut sampai batas dada,di ciumnya dahi Divya,mengusap perut serta kepalanya.
Satu jam kemudian kram di perutnya justru semakin menjadi-jadi.
Divya berteriak kesakitan.
"Kita ke dokter !" Telunjuknya terangkat pertanda ia tak ingin mendengar penolakan.
Haris pun menekan tombol telpon rumah.
"Siapkan mobil! Sekarang !" titahnya sedikit penekanan dikata 'sekarang'.
Dengan cepat ia menggendong Divya keluar kamar menuruni anak tangga.
"Minta mbok Jum siapkan baju ganti nona," tukas Haris memerintah kepada salah satu pelayan rumah yang ia temui di lantai bawah . Tuan Haris berbicara bahkan tanpa menghentikan langkahnya.
"Mana mobilnya ? cepat !" Haris sudah di luar.
"Aw !!" dan Divga meringis lagi.
"Tambah sakit sayang? Sabar ya kita ke rumah sakit sekarang." Haris membawa tubuh Divya masuk kedalam mobil, ia berputar arah lalu masuk dan duduk di samping istrinya.
"Ayo jalan,pak !" titahnya,Haris membawa kepala Divya agar tertidur di pangkuannya.
"Yang cepet bawa mobilnya !" Suara khawatirnya makin jelas.
"Iya sayang,maaf maaf !" Ia merogoh saku mencari keberadaan ponsel.Akan tetapi ia lupa bahwa tadi saking terburu-burunya Haris meninggalkan ponsel itu di atas nakas.
"Mang Udin, pinjam ponselnya sini!" Haris mengulurkan tangan meminta ponsel sang sopir.
Tanpa pikir panjang dan banyak bertanya mang Udin langsung menyerahkan benda yang di minta Haris tersebut.
Setelah menemukan nomor yang dicari dengan cepat ia mendialnya,menekan tombol panggilan.
"Ya ampun ! Angkat kenapa?" Suara Haris yang kesal karena seseorang di seberang sana yang ia hubungi tak juga mengangkat panggilannya.
"Bagus! Dari tadi aku telponin baru di angkat," dengus Haris begitu panggilan tersambung.
"Suruh siapkan kamar di rumah sakit biasa! Cepat !" Perintahnya kemudian.
Tuttt suara sambungan telpon yang terputus tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.
"Lain kali isi pulsa yang banyak,mang Udin" Haris menyerahkan benda pipih itu kembali ke pemiliknya. Bukan ia yang sengaja menutup panggilan ternyata,itu karena pulsa di ponsel sang sopir lah yang sekarat minta diisi.
"Baik tuan !" ucap mang Udin,dan mungkin hanya kata itu yang bisa ia ucapkan disaat genting seperti sekarang.
Ah padahal aku mau suruh Rudi mengambil ponselku tadi.Batin Haris.
Sampai juga di rumah sakit,dan kegaduhan pun kembali terjadi.
Dokter dengan cepat memeriksa Divya di ruang UGD.
Tak berselang lama Rudi datang menyusul bertepatan dengan datangnya salah satu pelayan rumah yang ia temui di halaman parkir. Pelayan yang membawa serta pakaian ganti nona Divya.
__ADS_1
Rudi meminta tas yang dibawa pelayan tersebut,lalu menyuruhnya kembali ke rumah.
"Bagaimana keadaan Divya,Ris?" tanya Rudi, jika melihat raut wajah Haris yang gelisah ada kemungkinan jika keadaan Divya memang cukup serius.
Ataukah tuan mudanya hanya terlalu berlebihan.Entahlah.
"Nih !" Rudi menyodorkan ponsel Haris.
"Ah iya ponselku !" Binar di matanya nampak jelas ketika menatap benda yang diserahkan Rudi padanya.
"Kau tahu ini tertinggal ?" Bangga dengan kesigapan Rudi,bahkan tanpa ia mengatakannya,Rudi langsung paham.
"Aku suruh pelayan rumah bawa hpmu,dan baju ganti Divya.Aku bertemu pelayan itu di parkiran tadi." Jelas Rudi.Sebuah penjelasan yang tak seharusnya mungkin,karena Haris juga tidak menggubrisnya.Ia lebih memilih mengukur ruangan dengan langkahnya yang hanya berbolak balik tak jelas,sesekali menatap arloji di tangannya dengan gelisah.
Dokter pun keluar setelah pemeriksaan yang memakan waktu kurang lebih satu jam,dengan berita yang cukup mengejutkan.
Dokter menyatakan jika ada masalah di rahim Divya.Haidnya yang selama lima hari ini tertunda bukan dikarenakan ia sedang hamil melainkan ada sedikit gumpalan yang menyumbat saluran di rahimnya.
Kuret adalah satu-satunya cara agar Divya bisa bertahan atau semua akan berakhir menjadi lebih berbahaya lagi .
Seperti kista atau kanker misalnya.
Tentu saja hal itu membuat Haris terpukul,ia dengan segera memerintahkan dokter untuk bergerak cepat.Lakukan apapun yang terbaik untuk kesembuhan istrinya.
epilog
"Kurang ajar kenapa harus bunyi sekarang sih." Dengus Rudi begitu suara panggilan masuk di ponselnya nyata terdengar.
"Lagi nanggung juga" Memilih melanjutkan aktifitasnya berusaha tak menggubris dering panggilan yang semakin nyaring,lalu mati.Selang beberapa detik kembali terdengar.
"Mang Udin" Gumam Rudi menatap layar ponselnya.
"Tidak tahu waktu !" Melirik jam dinding sudah pukul sebelas malam.
Mendial tombol hijau lalu mendekatkan benda itu di telinganya.Baru saja ia hendak memaki seseorang di sebrang sudah meneriakinya sangat keras.
Dijauhkannya ponsel sambil mengusap-usap telinganya sendiri.
"Sialan!" Pekiknya dalam diam.
"Kenapa Divya?" Menengok layar,sambungan terputus
"Dasar ,Haris kebiasaan tidak mau mendengar jawaban lawan bicaranya, langsung saja maen tutup telpon" Bersungut-sungut mengacak rambutnya sendiri.
"Kenapa sayang?" Suara lembut yang selalu membuat Rudi tenang ketika emosinya sedang meledak-ledak.
"Biasa Haris" Tangannya mencari sesuatu di layar ponsel.
(Siapkan satu kamar untuk Istri Tuan muda) Titahnya dalam satu panggilan.
"Kenapa lagi dia?" Tanya Shila,sang istri tercinta yang kini tengah hamil muda.
"Minta disiapkan kamar di rumah sakit" Menjawab datar,memakai kembali pakaiannya." Maaf ya sayang,tugasku tidak bisa aku abaikan"
"Baiklah,pergi saja Haris lebih membutuhkan mu" Rudi pun mencium kening istri yang selalu mengerti apapun masalahnya sebelum meninggalkannya.
Sambil berbisik "Nanti kita lanjut lagi,ok !" Shila yang tersipu hanya mampu menjawab dengan pukulan pelan di pundak suaminya itu.
__ADS_1